Oct 27, 2015

RUANG FISKAL R-APBN 2016


Akhirnya, tercapai juga keinginan untuk memposting blog sederhana ini, karena sebelumnya sudah sekitar 2 bulan yang lalu saya ingin ngetik postingan kali ini, akan tetapi acara dan kegiatan yang super padat selalu menghalangi (ingin rasanya blogspot dapat mengenali perintah suara sehingga tidak perlu repot mengetik, hehehehe).

Kali ini kita akan sedikit R-APBN 2016, Sebelumnya silahkan diamati dulu tabel yang telah saya buat yaitu  perbedaan APBN-P 2015 dengan R-APBN 2016, dibawah ini :

        (Dalam triliun rupiah) 

APBN-P
R-APBN
2015
2016
A. Pendapatan Negara


1761.6
1848.1

I.
Penerimaan Dalam Negeri
1758.3
1846.1


1. Penerimaan Perpajakan
1489.3
1565.8


(tax ratio)
12.7
13.25


2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
269.1
280.3

II.
Penerimaan Hibah
3.3
2
B. Belanja Negara


1984.1
2121.3

I.
Belanja Pemerintah Pusat
1319.5
1339.1


a.l Infrastruktur
290.3
313.5


Belanja K/L
795.5
780.4


Belanja Non K/L
524.1
558.7


a.l Subsidi
212.1
201.4

II.
Transfer Daerah dan Dana Desa
664.6
782.2
C. Keseimbangan Primer


-66.8
-89.8
D. Surplus Defisit Anggaran


-222.5
-273.2


% Terhadap PDB
-1.9
-2.1
E. Pembiayaan (I-II)


222.5
273.2

I.
Pembiayaan Dlm Negeri
242.5
272


a.l Surat Berharga Negara (netto)
297.7
326.3

II.
Pembiayaan Luar Negeri (netto)
-20
12


a.l Penarikan Pinjaman
48.6
72.8



Terbatasnya Ruang Fiskal R-APBN 2016

Perhatikanlah kolom-kolom yang saya fill dengan warna merah, kita perlu mengapresiasi seluruh jajaran yang sudah bekerja keras sehingga R-APBN 2016 (meski belum disahkan) dapat tersusun. Pada R-APBN 2016, baik anggaran Pendapatan maupun Belanja mengalami peningkatan. Hal yang menurut saya perlu mendapatkan perhatian kita adalah Sbb :
  •  Defisit R-APBN 2016 meningkat menjadi 2,1 % PDB.
  •   Defisit tsb a.l digunakan untuk peningkatan Anggaran Infrastruktur.
  •   Pembiayaan Defisit melalui SBN yg berpotensi menimbulkan crowding out effect.
  •   Meningkatnya risiko pembiayaan luar negeri.

Defisit yang sedemikian besar (meningkat dari sebelumnya) dibiayai oleh SBN. Dari kacamata saya yang masih sangat awam, alternative yang diambil untuk menutupi defisit tersebut dapat menimbulkan terjadinya Crowding Out Effect.  

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa suku bunga (return-yield) yang ditawarkan oleh SBN pastilah lebih tinggi jika dibandingkan dengan produk simpanan perbankan - deposito misalnya. Oleh karena itu, sangat logis jika kita dapat menyimpulkan bahwa kedepannya potensi persaingan antara Negara dan Pelaku Usaha Jasa Keuangan Perbankan Nasional dalam hal menghimpun dana akan sedikit ketat.

Selanjutnya, hal yang perlu mendapat perhatian adalah meningkatnya pinjaman luar negeri, tentu pinjaman luar negeri bukanlah suatu momok yang buruk. Namun Pemerintah dan Kementerian terkait haruslah benar-benar mengupayakan agar pinjaman luar negeri dapat digunakan seoptimal mungkin sehingga dapat berimbas postif kepada rakyat. Disisi lain adalah optimisme Pemerintah dalam menargetkan penerimaan pajak yang harus didukung oleh seluruh Wajib Pajak di Indonesia, karena manfaat penerimaan pajak bagi negara dan masyarakat sangat berdampak positif terhadap kemajuan taraf hidup masyarakat dalam suatu negara.

So, kita dukung terus pemerintahan dan program-program pembangunan bangsa ini untuk Indonesia yang lebih maju.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge