Sep 21, 2012

PENGERTIAN RISIKO OPERASIONAL


Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.

Risiko operasonal dapat menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. Risiko ini merupakan risiko yang melekat (inherent) pada setiap aktivitas fungsional Bank, seperti kegiatan perkreditan (penyediaan dana), tresuri dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, teknologi sistem informasi dan sistem informasi manajemen, dan pengelolaan sumber daya manusia.

SE BI TENTANG ATMR RISIKO OPERASIONAL


Surat Edaran ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendukung terwujudnya sistem perbankan yang sehat dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional, sehingga dibutuhkan suatu struktur permodalan Bank untuk menyerap risiko yang dihadapi sesuai standar internasional yang berlaku. Oleh karena itu mengacu pada standar internasional yang berlaku, risiko operasional merupakan salah satu risiko yang perlu diperhitungkan dalam perhitungan kecukupan modal selain risiko kredit, risiko pasar, dan risiko-risiko lainnya yang bersifat material.

BUILDING LOSS EVENT DATABASE (LED)


BUILDING LOSS EVENT DATABASE (LED) / PENGEMBANGAN DATABASE KERUGIAN

Definisi, cakupan & Tujuan


Database kerugian (loss event database) merupakan sekumpulan data-data kerugian yang dialami atau pernah dialami bank, yang telah diorganisasikan secara teratur dengan klasifikasi tertentu. Database kerugian dimaksud mencakup kerugian yang bersifat financial dan non financial serta termasuk operational risk ‘near miss serta opportunity cost yang mungkin timbul dari setiap event. Near miss adalah event / kejadian risiko yang tidak menimbulkan kerugian dan opportunity Loss didefinisikan sebagai kerugian / biaya timbul akibat kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan.

PENILAIAN RISIKO PENGGUNAAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI


Sebagaimana telah diketahui, Bank perlu memiliki dokumentasi risiko agar risiko yang diidentifikasi dan dinilai atau diukur dapat dipantau oleh manajemen yang biasa disebut dengan Risk Register. Untuk menghasilkan risk register ini perlu langkah-langkah tertentu yang harus dilakukan. Saat ini terdapat berbagai macam pendekatan, langkah dan metode dapat digunakan dalam penilaian risiko penggunaan Teknologi Informasi (TI) misalnya dengan pedekatan aset atau pendekatan proses. Bank dapat menentukan sendiri pendekatan, langkah dan metode yang akan dilakukan. Berikut ini adalah contoh penilaian risiko pengamanan informasi yang menggunakan pendekatan aset.
1. Dokumen hasil Identifikasi dan Pengukuran Risiko (Risk Register)

PRINSIP MANAJEMEN RISIKO OPERSIONAL MENURUT BASSEL II


Mengembangkan Lingkungan Manajemen Risiko yang sesuai
 
Gagal memahami dan mengelola risiko operasional, seperti yang terlihat pad transaksi dan aktivitas bank, mungkin akan meningkatkan dengan tajam kekerapan beberapa risiko yang akhirnya tak disadari dan tak terkontrol. Dewan Direksi dan Manajemen Senior bertanggung jawab menciptakan budaya organisasi yang menempatkan prioritas tinggi pada manajemen risiko operasional yang efektif dan kepatuhan pada kontrol operasional yang sehat. Manajemen risiko operasional sangat efektif jika budaya bank mendorong standar tingkah laku etis yang tinggi di semua tingkatan bank. Dewan dan Manajemen senior harus mempromosikan budaya organisasi yang membangun melalui tindakan dan kata-kata harapan integritas untuk semua pegawai dalam melakukan bisnis bank.

Prinsip 1: Board of director harus sadar akan aspek utama risiko operasional bank yang harus dikelola, dan harus menyetujui dan mereview secara periodik kerangka manajemen risiko operasional bank. Kerangka harus memberi definisi risiko operasional menyeluruh pada perusahaan dan menentukan standar untuk mengidentifikasi, menilai, memonitor, dan mengendalikan (control/mitigate) risiko operasional

KODE ETIK BANKIR INDONESIA


Kode Etik Bankir Indonesia (Code of Ethics Indonesian Bankers

1. Seorang bankir patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. (A banker should obey and comply to the respective laws and existing regulations). Prinsip ini maknanya tidak membenarkan seorang bankir untuk melakukan suatu tindakan yang diketahui atau sepatutnya diketahui, melanggar peraturan, undang-undang atau hukum yang berlaku. Dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 49 angka 2b menyatakan bahwa “anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank diancam dengan pidana sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,- (seratus miliar rupiah).”.

Sep 20, 2012

METODE PERHITUNGAN RISIKO OPERASIONAL MENURUT BASSEL II ( BIA / SA /IMA)



Pengukuran risiko operasional bank oleh BIS (Bank for International Settlement) berdasarkan BASEL CAPITAL ACCORD, memberikan beberapa pilihan metode, yaitu :

a. Basic Indicator Approach. (BIA)
b. Standardized Approach (SA)
c. Internal Measurement Approach (IMA)

Penerapan masing-masing metode tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

Basic Indicator Approach

Dalam Basic Indicator Approach, total pendapatan kotor (Gross Income) digunakan sebagai indikator eksposur. Pendapatan kotor ini diasumsikan sebagai indikator skala operasional bisnis keseluruhan bank, yang merupakan risiko operasional yang melekat (inherent risk) di bank.
Persentase untuk alpha berdasarkan Basel II adalah 15% namun demikian untuk perbankan Indonesia berpedoman kepada ketentuan Bank Indonesia. Dengan pendekatan ini, modal yang dipersyaratkan untuk tahun tertentu adalah pendapatan kotor dikalikan dengan alpha. Modal yang dipersyaratkan untuk risiko operasional secara keseluruhan yang harus disediakan oleh bank menurut Basic Indicator Approach adalah rata-rata selama tiga tahun terakhir dari 15% dikalikan dengan pendapatan kotor / Gross Income.
Rumus untuk menghitung modal risiko operasional bank adalah:
Dimana:

 KBIA = modal risiko operasional yang dipersyaratkan menurut Basic Indicator Approach
 GI = pendapatan kotor / Gross Income positif tahunan selama 3 tahun sebelumnya
 n = tiga tahun, dimana pendapatan kotor selalu positif
 α = 15% (atau ditetapkan lain oleh Bank Indonesia)

Pendapatan kotor yang negatif, selama jangka waktu tiga tahun, harus dikeluarkan dari penghitungan.
Pendekatan BIA ini diperuntukkan bagi bank dengan eksposur risiko operasional yang rendah, atau tidak ada atau sedikit fungsi risiko operasional yang canggih. Pendekatan ini tidak diperuntukkan bagi bank-bank internasional atau bank-bank dengan profil risiko yang signifikan. Karena menurut Basel II Accord, persyaratan minimal bagi bank-bank tipe ini untuk menggunakan Standardised Approach dalam menentukan modal yang dipersyaratkan.

Apabila suatu bank telah menerapkan Basic Indicator Approach, diharapkan nantinya bank dimaksud akan menggunakan metode yang lebih canggih untuk menghitung modal risiko operasional yang dipersyaratkan.
Sama halnya dengan pendekatan penghitungan modal untuk risiko kredit pada Basel I, Basic Indicator Approach tidak terlalu sensitif terhadap risiko operasional. Pendekatan ini terbatas dalam hal :

 mengasumsikan bahwa tingkat risiko operasional yang dimiliki bank proporsional dengan besarnya pendapatan kotor.

 Menyamakan perlakuan terhadap bisnis dengan high margin/low volume dan bisnis low margin/high volume, meskipun memiliki profil risiko yang berbeda.

 tidak ada pembentukan cadangan untuk berbagai tipe kejadian (events), frekuensi, pengawasan internal bank ataupun pasar dari bank tersebut.

 penggunaan pendapatan kotor sebagai indikator eksposur risiko operasional adalah jauh lebih sederhana daripada penggunaan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit.

Standardized Approach

Tidak seperti the BIA, the Standardized Approach menggunakan Gross Income pada tiap busines lines pada bank, karena dapat mencerminkan volume operasional pada tiap jenis business liness. Di samping itu, pendapatan kotor juga mengkaitkan volume usaha tiap business lines dengan tingkat risiko operasional yang melekat pada bisnis.

Pada tiap business lines, kebutuhan modal yang dipersyaratkan dihitung dengan cara yang sama dengan yang dihitung pada the Basic Indicator Approach. Pendapatan kotor untuk suatu business lines dikalikan dengan suatu faktor business lines, yang disebut “beta”.
Kedelapan business lines tersebut adalah :

 Corporate finance
 Trading and Sales
 Retail Banking
 Commercial banking
 Payment and settlement
 Agency services
 Asset management
 Retail brokerage

Beta tiap business lines berkisar dari 12% untuk Asset Management dan Retail Brokerage, sampai 15% untuk Retail Banking dan Commercial Banking dan 18% untuk Trading and Sales. Jadi, jika bank mengelola sebagian besar usahanya dalam bidang Trading and Sales, maka bank tersebut memerlukan lebih banyak modal untuk risiko operasional dibanding dengan bank yang sebagian usahanya di bidang Asset Management, meskipun keduanya memiliki jumlah pendapatan kotor yang sama.

Dengan the Standardized Approach, jumlah modal agregat dihitung dari seluruh business lines selama tiga tahun sebelumnya. Jumlah agregat tersebut kemudian dirata-ratakan untuk menghasilkan modal yang dipersyaratkan, sesuai dengan the Standardized Approach.

Modal agregat yang dipersyaratkan untuk satu tahun dihitung dengan menjumlahkan seluruh hasil pendapatan kotor, yang telah dikalikan dengan beta dari setiap business lines. Tidaklah penting jika pendapatan kotornya negatif, karena pendapatan kotor yang negatif tersebut masih bisa dimasukkan dalam perhitungan. Jika agregatnya untuk tahun tertentu negatif, maka angka yang negatif tersebut diganti dengan angka nol dalam penghitungan rata-ratanya.

Tidak seperti the Basic Indicator Approach, nilai nol masih dapat dimasukkan dalam hitungan rata-rata keseluruhan. Jadi nilai rata-rata dengan menggunakan the Standardized Approach selalu dihitung untuk jangka tiga tahun.

Rumus untuk menghitung modal yang dipersyaratkan, menurut the Standardized Approach adalah:


Dimana:

KTSA = Modal yang dipersyaratkan, sesuai the Standardized Approach
GI 1-8 = Pendapatan kotor untuk tiap business lines.
ß 1-8 = Nilai beta untuk tiap business lines

Meskipun lebih canggih daripada the Basic Indicator Approach, the Standardized Approach memiliki kekurangan pada tingkat sensitivitas risiko. Contohnya, the Standardized Approach tidak mempertimbangkan frekuensi atau dampak dari kejadian risiko operasional.

Business lines

The Standardized Approach membagi operasional bank menjadi delapan business lines usaha yang berbeda. Dengan demikian, pendekatan ini mengakui bahwa setiap business lines yang berbeda pada umumnya akan memiliki risiko operasional yang berbeda. Penggunaan business lines memungkinkan bank mengalokasikan modal yang dipersyaratkan menurut bidang business yang dijalankannya.

Dengan total pendapatan kotor yang sama, sebuah retail bank akan memiliki pendapatan kotor yang lebih kecil untuk business lines Trading and Sales dengan memiliki bobot risikonya yang lebih tinggi, dibanding dengan total pendapatan kotor dari investment bank. Sementara untuk hal yang sama, retail bank akan memiliki pendapatan kotor yang lebih tinggi pada business lines Retail Banking. Akibatnya, berdasarkan pendekatan, retail bank memiliki kebutuhan modal risiko operasional yang lebih kecil.

Kerangka kerja Basel II mempunyai suatu pendekatan tiga tingkatan (a three-tier approach) untuk mendefinisikan tiap business lines :

 Level 1 – Business lines yang aktual
 Level 2 – Fungsi bisnis yang khas dalam setiap business lines
 Level 3 – Kelompok aktivitas – aktivitas bisnis yang dijalankan dalam suatu business lines

Pendekatan tiga tingkatan ini memiliki dua tujuan:

 untuk menyediakan suatu standard, yang secara independen terdefinisikan dari struktur aktual bank, dengan tujuan agar biaya modal dihitung berdasarkan like-for-like.

 untuk memungkinkan bank-bank memetakan struktur business lines usaha internal mereka terhadap struktur business lines yang dipersyaratkan oleh Basel II.

Klik pada gambar untuk perbesar


Derivasi dan arti dari beta

Nilai beta dari tiap business line merupakan faktor bobot risiko. Tiap beta mengkaitkan kerugian risiko operasional yang dialami business line tertentu dengan pendapatan kotor business line tersebut. Semakin tinggi nilai beta, semakin besar potensi kerugian risiko operasional pada business line tersebut. Nilai Beta ini diarahkan untuk memberikan “bobot” pada modal risiko operasional yang didasarkan pada business line. Menghitung modal yang dipersyaratkan untuk tiap business line, dengan menggunakan menggunakan nilai beta dan pendapatan kotor, akan mengkaitkan skala aktivitas bisnis bank dengan risiko yang dihadapi.

Nilai Beta Business Line

Nilai beta untuk tiap business line dapat dilihat seperti berikut ini :

Business Line                                           Beta

Corporate Finance                                   ß1 18%
Trading and Sales                                     ß2 18%
Retail Banking                                          ß3 12%
Commercial Banking                                ß4 15%
Payment and Settlement                           ß5 18%
Agency Services                                      ß6 15%
Asset Manegement                                  ß7 12%
Retail Brokerage                                     ß8 12%

The Alternative Standardized Approach

Basel Committee menyadari bahwa dalam beberapa kegiatan perbankan tertentu, risiko operasional dapat dikompensasi dengan pendapatan yang didapat. Contoh dari kegiatan ini adalah kartu kredit, di mana risiko terjadinya fraud sudah diperhitungkan dalam struktur penetapan harga (pricing) kepada nasabah. The Standardized Approach tidak mempertimbangkan kegiatan penetapan harga seperti ini karena menggunakan pendapatan kotor sebagai faktor eksposure.

Bila bank banyak terlibat dalam kegiatan seperti ini, bank akan melakukan penghitungan dua kali jika menggunakan the Standardized Approach. Pertama-tama, bank mempertimbangkan risiko operasional dalam penetapan harga (pricing), kemudian menghitung alokasi modal untuk menutupi risiko yang sama tersebut.

Pendekatan ini memungkinkan bank untuk menggunakan pinjaman dan pembayaran di muka (advances) untuk menggantikan pendapatan kotor pada dua business lines, yaitu: commercial bank dan retail banking.

Advanced Measurement Approach

Advanced Measurement Approach adalah yang paling kompleks yang dapat digunakan oleh bank. Pendekatan ini memungkinkan bank memakai model internalnya sendiri dalam menghitung modal untuk mengcover risiko operasional. Namun, hal ini harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia sebagai regulator.

Terdapat sejumlah metodologi yang dipakai saat ini antara lain :

 Internal Measurement Approach
 Loss Distribution Approach
 Risk Drivers and Controls Approach (scorecards)

Internal Measurement Approach mirip dengan PD, EAD dan LGD/severity yang dipakai dalam pendekatan Internal Ratings-Based dalam menghitung modal yang dipersyaratkan untuk mengcover risiko kredit.

Metodologi yang banyak digunakan dalam Advanced Measurement Approach adalah Loss Distribution Approach dimana Value at Risk (VaR) digunakan dalam menghitung modal regulatorinya. Loss Distribution Approach menggunakan OpVaR (Operational Value at Risk) dalam menghitung modal regulatori untuk mengcover risiko operasional yang diminta dalam Basel II.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

Sep 17, 2012

METODE PENGUKURAN RISIKO PASAR BASSEL II


Di dalam Amandement to the Basel Capital Accord to Incorporate Market Risks, 1998, terdapat dua jenis metode yang dapat digunakan dalam mengukur risiko pasar yaitu :
A.Standard Methode 

Pengukuran risiko pasar dengan menggunakan metode standar dapat dilakukan untuk aset yang memiliki risiko suku bunga (interest rate risk) dan risiko nilai tukar (foreign exchange risk).

Risiko suku bunga. Mencakup risiko karena mengambil posisi surat hutang atau instrumen lain yang terkait dengan suku bunga dalam trading book. Untuk risiko ini, minimum modal yang dibutuhkan (capital requirement) dihitung dengan menggunakan dua perhitungan yang terpisah yaitu Specific Risk Charge dan General Market Risk Charge. 

Risiko Nilai Tukar. Mencakup risiko karena mengambil posisi/hold valuta asing atau foreign exchange untuk tujuan trading (trading book) maupun non-trading (banking book). Perhitungan capital charge untuk meng-cover risiko nilai tukar dilakukan dalam 2 tahap yaitu : 1). Mengukur eksposur posisi pada satu jenis valuta, 2).Mengukur risiko yang terdapat dalam gabungan posisi long dan short dari berbagai valuta.

Net open position setiap valuta dihitung dengan menjumlahkan net spot posisiton, net forward position, garansi (atau instrumen sejenis) yang sudah pasti akan dieksekusi, biaya/pendapatan yang telah di-hedge, pos laba-rugi lainnya dalam valas. Capital charge adalah 8% dari net long/short terbesar diantara kedua posisi tersebut.

B.Internal Model  / Value at Risk (VaR) 

Value at Risk merupakan metode pengukuran risiko dengan menggunakan pendekatan statistik.  Difinisi VaR adalah :  “Probabilitas maksimum potensial kerugian yang mungkin timbul dari suatu outstanding portfolio dengan tingkat keyakinan (confidence level) tertentu untuk horizon waktu yang tertentu”, Value at Risk dapat dimanfaatkan untuk   :

-     Mengestimasikan potensial kerugian portfolio yang dikelola bank.
-     Monitoring risiko portfolio.
-     Sebagai alat informasi kepada manajemen.
-     Menentukan modal  yang harus disediakan untuk meng-cover risiko pasar.

Metode Pengukuran VaR.

Terdapat 3 (tiga) jenis metode yang dapat digunakan untuk menghitung risiko pasar dengan menggunakan VaR,  yaitu   :

a.Historical method.

Merupakan metode yang menggunakan sekumpulan data historis aktual dari faktor pasar (mis. tingkat suku bunga) selama jangka waktu tertentu untuk menentukan aktual distribusi perubahan nilai portfolio. Nilai aktual portfolio yang diperoleh akan menghasilkan nilai positif (gain) atau negatif (loss) sesuai perubahan aktual data yang digunakan. Selanjutnya nilai aktual portfolio tersebut diurutkan (ranking) dari positif terbesar sampai negatif terbesar. Sesuai dengan tingkat keyakinan yang dipilih, maka akan diperoleh nilai VaR. Metode ini kurang dipergunakan oleh beberapa bank.

b    Analytical Method.

Merupakan metode pengukuran VaR yang melibatkan volatilitas dan korelasi diantara aset yang ada dalam portfolio. Disamping itu, metode ini juga menggunakan model matriks dan asset variance covariance. Sering juga disebut dengan metode Variance Covariance






c. Monte Carlo Method

Merupakan metode pengukuran VaR dengan menghasilkan berbagai alternatif skenario dari data yang dimasukkan. Penggunaan metode ini secara umum lebih mudah dilakukan dengan menggunakan piranti yaitu “software” khusus yang akan memudahkan dan mempercepat hasil pengukuran.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

PERKEMBANGAN AKTIVITAS TRADING BOOK


Bank menjalankan aktivitas trading dalam jual beli instrumen keuangan untuk memperoleh keuntungan dari pergerakan harga pasar yang menentukan harga suatu instrumen. Dengan aktivitas ini berarti bank memiliki risiko rugi pada saat harga instrumen keuangan tersebut turun.
Untuk setiap instrumen yang diperdagangkan, bank dapat menggunakan beberapa strategi dalam menjalankan aktivitas trading yaitu :
  1. Strategi yang memiliki risiko yang rendah adalah ‘matched book’. Strategi ‘matched book’ adalah  seluruh posisi/transaksi nasabah segera dilakukan pengambilan posisi yang berlawanan sebesar nilai yang sama dengan bank lain. Risiko pasar dapat timbul apabila terjadi pergerakan harga pasar diantara periode eksekusi transaksi nasabah dengan eksekusi offsetting transaksi. Offseting transaksi disebut sebagai transaksi cover (covering) atau transaksi lindung nilai (hedging)
  2. Strategi yang kedua adalah memiliki posisi suatu produk yang terkendali (manage positions) dengan melakukan hedging deals sesuai kebijakan dari trading desk.  Dengan strategi ini, bank harus memiliki limit risiko pasar guna membatasi tingkat risiko bank pada waktu tertentu. Posisi ini dapat timbul karena transaksi nasabah atau trader sengaja memegang transaksi yang dilakukan melalui pasar. Strategi ini membolehkan traders memiliki posisi untuk memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan pergerakan harga di pasar.
  3. Strategi yang ketiga adalah menjadi a market maker’ untuk suatu produk. Ini berarti trader akan men-quote harga jual beli pasar dan memperdagangkan pada harga yang relevan, baik pada sisi beli atau jual yang dipilih oleh counterparty. Strategi ini dilakukan di pasar yang likuid dan terdapat banyak pelaku pasar lainnya yang dapat mengcover risiko trader. Seorang ‘market maker’ berharap mendapat keuntungan dari perbedaan kuotasi harga jual dan harga beli.
Bank cenderung merubah strategi ketika usahanya tumbuh dan akan terdapat lebih dari satu strategi yang digunakan atas produk-produk yang ada trading-book bank. Secara historis, banyak aktivitas perdagangan tumbuh dari keinginan bank untuk melayani aktivitas komersial nasabahnya.
Hal ini dapat dilihat dari perkembangan aktivitas perdagangan di pasar valas. Pasar ini telah menjadi salah satu pasar yang paling bebas diperdagangkan di dunia, tetapi asal usulnya dapat ditelusuri kembali ke peluncuran kurs mengambang di tahun 1970-an. Bagi nasabah yang melakukan kegiatan dalam bisnis internasional, hal ini menciptakan risiko baru, yang mereka kelola melalui jasa yang ditawarkan bank.

Peningkatan pasar valuta asing merupakan suatu ilustrasi yang baik bagaimana aktivitas trading setiap instrumen dikembangkan oleh bank.
Tahap pertama adalah suatu bank akan mempertahankan matched position dalam suatu instrumen. Hal ini berarti bank melakukan kesepakatan dengan seorang nasabah dan segera melindungi risikonya dengan melakukan transaksi dengan bank lain yang sepenuhnya sesuai dengan transaksi nasabah. Keuntungan bagi bank berasal dari perbedaan harga yang diberikan kepada nasabah dan harga antar bank.

Tahap kedua dalam pengembangan aktivitas perdagangan bank terjadi ketika bank memegang posisi yang tercipta dari transaksi dengan nasabah sebagai antisipasi pergerakan yang menguntungkan (bagi bank) dalam harga pasar untuk periode jangka pendek. Periode kepemilikan (holding period) yang diijinkan bagi trader akan semakin lama ketika bank menjadi lebih berpengalaman dalam perdagangan instrumen tersebut. Akhirnya, proses perkembangan ini akan membawa bank melakukan inisiatif perdagangan sebagai antisipasi pergerakan harga pasar. Sampai tahap ini, aktivitas perdagangan tidak lagi tergantung pada
aktivitas nasabah.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

INSTRUMENT PERDAGANGAN

 
 
Instrumen perdagangan yang diperdagangkan secara global umumnya dikenal dengan istilah product ‘vanilla karena sifat instrumen tersebut tidak kompleks (relatif sederhana). Namun demikian, setiap produk yang standar akan menjadi kompleks untuk memenuhi permintaan nasabah. Jenis instrumen trading dibagi dua yaitu Cash Instrument dan Derivatives instruments yang diuraikan sebagai berikut adalah :

A. CASH INSTRUMENT 

A.1. Spot Foreign Exchange / Transaksi Valas – Spot

Transaksi valuta asing adalah suatu komitmen untuk menukarkan suatu mata uang dengan mata uang lainnya pada tanggal yang disetujui di masa yang akan datang. Tanggal pertukaran ditetapkan oleh jenis ‘deal’ dan pasarnya.

Transaksi valas spot adalah pertukaran untuk dua hari kerja kedepan, yang dikenal dengan spot date. Dua hari menjadi landasan pelaksanaan karena pada saat itu instruksi settlement antara dua bank masih tergantung pada telex/telegraph dan bank membutuhkan waktu dua hari untuk menerbitkan dan bertindak atas dasar telex tersebut. Meskipun saat ini settlement-nya dilakukan secara elektronik, penyelesaian dua hari kerja masih digunakan. Pasar transaksi spot merupakan pasar yang paling likuid di dunia. Transaksi spot mengandung risiko nilai tukar.

A.2.Forward Foreign Exchange

Transaksi Forward Valas merupakan transaksi valas dengan tanggal yang disetujui lebih dari spot date(dua hari kerja).  Jatuh waktu forward di pasar umumnya sampai dengan satu tahun, meskipun ada beberapa bank memberikan jangka waktu yang lebih panjang. Transaksi forward valas menimbulkan risiko nilai tukar dan risiko suku bunga, karena forward exchange rate ditentukan oleh tingkat suku bunga dari dua mata uang dan nilai spot masing-masing mata uang.

A.3. Foreign Exchange Rate Swap

Foreign exchange rate swap merupakan suatu kombinasi antara transaksi spot dengan transaksi forward. Kedua pihak melakukan transaksi spot dengan spot rate dan transaksi forward  secara bersamaan dengan nilai prinsipal yang sama dalam base currency. Perbedaan rate keduanya mencerminkan perbedaan antara suku bunga dua valuta dalam periode transaksi. Foreign exchange rate swaps memiliki risiko suku bunga. Contoh berikut mengilustrasikan mengapa suatu transaksi forex yang memiliki value date di masa yang akan datang mengandung risiko nilai tukar.

A.4. Loans and deposits

Kredit dan simpanan dilakukan antar bank pada suku bunga tetap untuk jangka waktu yang disetujui. Jangka waktunya mulai dari overnight sampai five years. Kebanyakan transaksi memiliki jatuh waktu kurang dari satu tahun. Suku bunga dibayar pada saat tanggal jatuh tempo bersama-sama dengan nilai pokok transaksi, kecuali jangka waktunya lebih dari satu tahun, maka pembayaran bunganya dilakukan setiap tahun sesuai tanggal transaksinya.

Pasar Uang Antar Bank (inter-bank money market) adalah tempat dimana bank memperdagangkan transaksi placing dan taking (deposit) satu sama lainnya. PUAB digunakan bank untuk mengambil posisi dalam mengantisipasi pergerakan suku bunga. Banyaknya volume transaksi di pasar ditentukan oleh kebutuhan bank dalam memenuhi pendanaannya untuk mempertahankan poasisi likuiditas bank. Kredit dan simpanan antar bank memiliki risiko suku bunga.

A.5. Bonds / Obligasi

Obligasi adalah instrumen hutang jangka panjang yang dapat dipindahtangankan yang diterbitkan oleh peminjam (penerbit/ issuer) untuk menerima jumlah prinsipal dari investor. Penerbit obligasi memiliki kewajiban untuk membayar pemegang obligasi sebesar suku bunga tertentu (kupon) dalam periode tertentu selama umur obligasi dan membayar sebesar pokoknya pada saat jatuh tempo.

Obligasi merupakan suatu tagihan finansial kepada lembaga penerbit. Suatu obligasi yang sederhana (‘vanilla bond’) umumnya memberikan suku bunga (kupon) yang tetap pada tanggal yang ditentukan selama umur obligasi dan nilai pokoknya dibayar pada saat jatuh tempo. Istilah ‘vanilla’ digunakan untuk mengindikasikan bahwa obligasi tersebut memiliki ciri-ciri yang standar.

Harga obligasi dipengaruhi suku bunga umum dan kondisi keuangan penerbit. Lembaga pemeringkat, seperti Moody’s Investors Service dan Standard & Poor’s membuat peringkat sensitivitas terhadap risiko kredit pada obligasi (keadaan keuangan dari penerbit). Peringkat tersebut terkait dengan peringkat kredit dari suatu obligasi. Obligasi umumnya memiliki risiko suku bunga dan risiko spesifik.

A.6. Equity trading / Perdagangan Saham

Perdagangan saham (equity trading) adalah pembelian dan penjualan saham perusahaan pada suatu bursa di seluruh dunia. Saham merupakan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Pemegang saham berharap menerima deviden secara berkala yang dibayar dari laba yang diperoleh perusahaan. Pemegang saham juga berharap memperoleh gain karena adanya kenaikan harga saham. Karenanya perusahaan yang berhasil akan memberikan pendapatan return bagi pemegang saham. Harga saham mencerminkan persepsi pasar terhadap nilai perusahaan saat ini dan nilai pendapatan yang diproyeksikan. Harga saham akan berfluktuasi karena penyesuaian pasar terhadap penilaian terhadap perusahaan sebagai akibat adanya informasi terbaru mengenai perusahaan. Posisi saham memiliki risiko ekuitas umum dan risiko spesifik.

A.7. Commodity trading

Perdagangan komoditas adalah pembelian dan penjualan produk fisik yang diperdagangkan di pasar sekunder, meliputi produk hasil pertanian, minyak, dan logam mulia.
Produk tersebut dibeli dan dijual dengan penyerahan fisik pada tanggal dan tempat yang disetujui.  Terdapat pasar spot dan forward untuk masing-masing produk dan setiap produk memiliki ciri yang berbeda tergantung fisik produk.

B. DERIVATIVES INSTRUMENTS

Derivatives telah berkembang cukup pesat lebih dari dua puluh tahun sebagai akibat inovasi produk bank kepada nasabahnya. Produk sering diistilahkan cash instrument, karena produk merupakan instrumen yang mendasari produk derivatives.

Ciri utama dari transaksi derivative adalah nilai prinsipal transaksi tidak saling dipertukarkan, sehingga menurunkan risiko kredit dan risiko settlement. Derivative sering disebut juga dengan ‘contracts for difference’ karena hanya menukarkan perubahan harga dari cash instrumen yang mendasarinya. Dengan menurunkan risiko kredit bank dapat memperdagangkan derivative dengan beberapa counterpart dibandingkan cash instruments. Hal ini menjadikan pasar menjadi lebih likuid dan mendorong pertumbuhan jumlah perdagangan dan tingkat risiko yang diambil.

Beberapa derivative diperdagangkan di bursa berjangka (futures exchanges) dan sebagian lainnya diperdagangkan di over-the-counter (OTC) market. OTC market adalah dimana bank memperdagangkan dengan pihak lain secara langsung tanpa melalui bursa. Terdapat beberapa jenis ‘exotic derivatives’ yang memiliki suatu kombinasi antara risiko dan profil pembayarannya.

Secara umum, vanilla products dapat diuraikan sebagai berikut :

B. 1. Future contracts

Salah satu jenis derivatives yang penting adalah futures contract. Kontrak dilakukan melalui bursa sebagai lembaga kliring untuk seluruh counterparty.

Mengingat transaksi dilakukan melalui bursa. Hal ini berarti bank tidak terekspos risiko kredit dengan sebagian besar counterparties tetapi hanya risiko kredit dengan bursa.

Suatu futures contract menyerahkan suatu posisi instrumen yang mendasarinya pada tanggal tertentu di waktu yang akan datang. Beberapa futures contracts kebanyakan berupa cash instruments dari obligasi sampai komoditas. Pada umumnya, futures contracts memiliki ciri sebagai berikut:
  1. diperdagangkan di bursa
  2. nilainya tetap per contract
  3. kepastian tanggal penyerahan
  4. kondisi penyerahan yang detail
  5. daily margin calls.
Futures contracts memiliki risiko yang sama dengan risiko yang melekat pada instrumen yang mendasarinya ditambah dengan risiko suku bunga karena penyerahan di masa yang akan datang.

B.2. Interest rate swaps

Interest rate swaps merupakan suatu transaksi derivatives yang diperdagangkan melalui over-the counter (OTC) yang membolehkan bank dan nasabah melakukan akses suku bunga jangka panjang tanpa harus terlebih dahulu menggunakan pendanaan jangka panjang.

Timbulnya risiko kredit dan risiko likuiditas merupakan sebuah hambatan besar bagi bank untuk menyediakan pendanaan jangka panjang kepada nasabahnya. Sementara itu, nasabah yang memiliki proyek jangka panjang membutuhkan dana jangka panjang dengan suku bunga tetap.

Interest rate swaps memberikan solusi dengan membolehkan kedua belah pihak untuk saling menukarkan suku bunga tanpa harus saling menukarkan nilai prinsipalnya. Interest rate swaps diperdagangkan dengan jangkwa waktu sampai dengan 30 tahun, hanya saja volume transaksinya kecil untuk jangka waktu di atas sepuluh tahun. Maksimum jangka waktu berbeda untuk masing-masing valutanya karena didasarkan kepada pasar obligasi dengan valuta tersebut, karenanya obligasi menggunakan hedge swaps.

Vanilla swaps memiliki suku bunga tetap yang dipertukarkan terhadap indeks suku bunga mengambang, seperti satu bulan, tiga bulan atau enam bulan LIBOR. Ini berarti bahwa pihak-pihak yang terlibat setuju untuk saling menukarkan dua valuta asing diantara suku bunga pada tanggal pembayaran. Suku bunga LIBOR akan mengalami perubahan selama masa kontrak swap.

Pasar antar bank utamanya memperdagangkan vanilla swaps tetapi terdapat bermacam variasi untuk beberapa pengguna sesuai dengan kewajibannya.

Bank menggunakan instrumen hedging campuran untuk mengelola risiko suku bunga yang melekat dalam suatu transaksi swap.  Interest rate swaps menimbulkan risiko suku bunga.

B.3. Currency swaps

Currency swap memiliki ciri yang sama dengan interest rate swap, kecuali arus suku bunga mencerminkan perbedaan mata uang. Produk ini menggunakan swap, misalnya US dollar interest flows for euro flows. Perbedaan kunci dari interest rate swaps dengan currency swaps adalah nilai prinsipalnya dipertukarkan dengan spot rate untuk currency swap. Currency swaps menimbulkan risiko suku bunga untuk masing-masing mata uang dan risiko nilai tukar.

B.4. Forward rate agreements

Forward rate agreements (FRAs) merupakan kontrak derivative OTC yang membolehkan bank mengambil posisi dalam forward interest rates.

FRA memberikan hak untuk memberi pinjaman/meminjam sejumlah dana dengan suku bunga tetap dalam periode tertentu di masa yang akan datang.

Tidak ada pertukaran atas prinsipalnya dan pada jatuh temponya penyelesaiannya sebesar perbedaan antara suku bunga kontrak dengan suku bunga LIBOR dalam periode kontrak.

FRA adalah suatu interest rate futures contracts dan lebih fleksibel dibandingkan dengan futures. FRA memiliki risiko suku bunga.

B.5. Option contracts

Suatu kontrak ‘Option’ yang memberikan hak kepada pembeli untuk melaksanakan kontrak pada harga yang disepakati. Artinya transaksi akan dilaksanakan apabila tingkat rate/harga memberi keuntungan bagi pembeli. Penjual memiliki risiko yang tak terbatas dan sebagai kompensasi akan menerima premi. Kontrak option memiliki risiko baru dan diatas risiko yang melekat pada instrumen yang mendasarinya. Options dapat dibuat berdasarkan instrumen ‘cash’ atau instrumen derivative lainnya dan option atas kontrak option.

Harga ‘Option’ didasarkan pada probabilitas di-exercise-nya kontrak option tersebut. Untuk menghitung nilai option harus mengukut tingkat volatilitasnya. Volatilitas harga adalah suatu ‘harga pasar’ yang mencerminkan ekspektasi pasar dari seberapa besarnya harga akan bergerak selama umur kontrak option.  Volatilitas yang digunakan untuk menetapkan harga option adalah harga yang ditetapkan oleh pasar dan risiko yang melekat.

Options memiliki risiko sama dengan risiko yang melekat dalam instrumen yang mendasarinya pada saat option di-exercise.  Option memiliki risiko volatilitas dan risiko suku bunga mengingat penyerahan instrumen yang mendasarinya dilakukan pada masa yang akan datang.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

IDENTIFIKASI RISIKO PASAR


Sebelum melakukan pengelolaan dan pengendalian risiko bank, unit yang bertanggung jawab terhadap proses tersebut harus mengenali terlebih dahulu karakteristik transaksi yang memiliki atau mengandung risiko pasar, al : Aktivitas Pasar Uang, Aktivitas Pasar Modal dan Aktivitas Pasar Valuta Asing.
Transaksi Pasar Uang (Money Market)

Yaitu pasar transaksi dana dan surat berharga jangka pendek (< 1 tahun). Transaksi pasar uang ini bertujuan untuk pengelolaan likuiditas, atau memanfaatkan dana untuk maksimasi keuntungan (trading). Aktivitas pasar uang yang dilakukan saat ini meliputi: penempatan (placement), peminjaman (borrowing), SBI.

Transaksi Pasar Valuta Asing (Foreign Exchange)

Yaitu pasar dimana dilakukan jual-beli suatu mata uang dengan mata uang lainnya yang mengakibatkan beralihnya hak milik atas mata uang yang diperjualbelikan tersebut.

Transaksi Pasar Modal (Capital Market).

Yaitu tempat baik konkrit maupun abstrak yang mempertemukan pihak yang memerlukan dana dengan pihak yang memiliki dana melalui jual-beli surat berharga jangka panjang (lebih dari 1 tahun) baik berupa surat bukti kepemilikan (saham), surat bukti hutang maupun Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Reksa Dana.

Setiap jenis risiko yang melekat pada setiap transaksi yang mengandung risiko pasar harus dapat diidentifikasikan sebagai dasar untuk memastikan bahwa pengukuran risiko pasar dapat dilakukan secara akurat. Setiap jenis transaksi harus dianalisis dan dicermati, karena satu transaksi bisa memiliki lebih dari satu jenis risiko yang akan mempengaruhi besarnya risiko yang dihadapi.
Jenis risiko pasar berdasarkan transaksi adalah :
  • Money Market :    Interest rate risk
  • Foreign Exchange Market :   Foreign exchange risk
  • Fixed Income :   Price Risk.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

PERHITUNGAN ALOKASI MODAL RISIKO PASAR


Untuk melindungi bank dari kemungkinan terjadinya kerugian, maka bank harus mengalokasi modal untuk meng-cover risiko pasar. Alokasi modal risiko pasar ini disebut juga dengan istilah Market Risk Capital Charge (MRCC). Besarnya modal untuk risiko pasar merupakan salah satu pembagi dalam menentukan besarnya Capital Adequacy Ratio (CAR) yaitu :

 

MRCC dapat diketahui sesuai dengan jenis metode pengukuran yang digunakan. Apabila bank menggunakan Standard Approach, maka MRCC adalah penjumlahan dari besarnya capital charge yang didapat dari perhitungan General Market Risk dan Specific Risk.
Sebaliknya apabila bank menggunakan Internal Model, maka MRCC ditentukan dari besarnya Capital at Risk (CaR) yang diperoleh dari nilai Value at Risk (VaR).  Basel Accord menetapkan apabila bank menggunakan Internal Model, standard yang harus dipenuhi sebelum menetapkan besarnya MRCC harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
  • Frekuensi Pengukuran : VaR harus dihitung setiap hari
  • Tingkat keyakinan : Tingkat keyakinan 99% untuk "one tailed"
  • Time horizon : Assumsi untuk 10 hari holding period
  • Jumlah data : Minimum data observasi sebanyak 1 tahun data (250 hari)
  • Kebutuhan Modal : Bank harus menyediakan modal untuk risiko pasar setiap hari yang ditetapkan dari (i) VaR hari sebelumnya atau (ii) rata-rata dari 60 hari terakhir dan dikalikan dengan suatu angka faktor (multiplication factor).
  • VaR multiplication Factor : Angka multiplication factor berkisar antara 3 - 4 tergantung keakuratan model perhitungan yang digunakan. Untuk awal angka multiplication factor minimum 3.
 Dengan merujuk ketentuan tersebut diatas, maka besarnya CaR apabila menggunakan Internal Model adalah  :
 

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

DEFINISI RISIKO PASAR


Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif yang diakibatkan oleh perubahan / pergerakan variabel pasar al. tingkat suku bunga, kurs valuta asing, saham dan komoditi.
Exposure kerugian akibat risiko harga pasar dapat disebabkan oleh:
  • Risiko pasar dari trading book yang timbul akibat bank aktif dalam kegiatan trading transaksi keuangan seperti obligasi yang nilainya dipengaruhi oleh perubahan harga pasar seperti suku bunga.
  • Risiko Suku bunga dari banking book dimana bank mempunyai terekspos risiko fluktuasi suku bunga akibat struktur bisnis bank dalam aktivitas seperti deposito dan pinjaman yang diberikan

Trading book

Traded market risk (risiko pasar dari trading book) adalah risiko dari suatu kerugian nilai investasi akibat aktivitas trading (melakukan pembelian dan penjualan instrumen keuangan secara terus menerus) di pasar dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Traded market risk muncul sebagai akibat dari tindakan bank yang secara sengaja  membuat suatu posisi yang berisiko dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dari posisi risiko yang telah diambilnya. (high risk high return)

Risiko suku bunga Banking Book

Berbeda dengan Traded market risk,  risiko pada banking book merupakan konsekwensi alamiah akibat sifat bisnis bank yang dilakukan dengan nasabahnya. Umumnya, bank mempunyai struktur dana yang sifatnya jangka pendek / short funding karena kredit yang diberikan umumnya berjangka waktu lebih lama dari simpanan dana nasabah.

Untuk menghindari hal-hal di luar yang diprediksi, diperlukan penetapan tingkat bunga yang matched antara suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan (proses ini disebut sebagai hedging), untuk melindungi nilai dari simpanan dan pinjaman.

Terdapat beberapa cara bank dapat melakukan hedging, al. merubah suku bunga pinjaman berdasarkan tingkat diskonto bank sentral atau menetapkan suku bunga simpanan yang selaras dengan suku bunga pinjaman (selama periode pinjaman).

Amendment Risiko Pasar
Sebagai respon atas kritik kurang sensitifnya Basel I terhadap risiko, bulan Januari 1996  Komite Basel mempublikasikan  “Amendment to the Capital Accord to incorporate Market Risks” bulan Januari 1996 yang dikenal dengan sebutan the Market Risk Amendment.

The Market Risk Amendment merupakan finasilisasi dari proses yang telah dimulai sejak the Committee mengeluarkan publikasi “The Supervisory Treatment of Market Risks”.

Penggunaan model internal yang telah dilakukan oleh beberapa bank internasional mendorong Basel Committee pada tahun 1994 untuk menerima penggunaan model internal, yang disebut metode Value at Risk (VaR). Metode VaR mengukur perkiraan besarnya kerugian maksimum dari portofolio bank akibat risiko pasar dalam waktu tertentu (holding period / VAR Horizon) dan dengan tingkat kepercayaan tertentu (confidence level).

Dengan VAR, laporan risiko bank mungkin akan disajikan sbb : “Portofolio trading mempunyai DVaR sebesar USD 15m dengan tingkat keyakinan sebesar 95 %”.
Confidence level merepresentasikan tingkat kemungkinan terjadinya kerugian di atas nilai 95% DVaR adalah 5%. Dengan ungkapan yang sederhana DVaR (Daily VAR) adalah “Dalam periode satu hari kerja terdapat kemungkinan sebesar 5 % kerugian dari portofolio melebihi USD 15m.

Namun demikian, nilai VaR tidaklah memberikan estimasi seberapa besar kerugian aktual yang dapat terjadi di atas nilai VaR tersebut, yang dalam contoh di atas tidak terdapat indikasi seberapa besar kerugian melebihi USD 15m dapat terjadi. Walaupun probabilitas ini kelihatannya kecil, bila asumsikan bahwa hari kerja dalam satu tahun adalah 240 hari, dapat diartikan bahwa dalam satu tahun diperkirakan ada 12 hari (240 x 5%) dimana kerugian portofolio dapat melebihi USD 15m.

Market Risk Amendment, yang memperkenankan penggunaan Value at Risk (VAR) model, merupakan regulasi pertama yang berbasis risiko.

Sifat Dasar Risiko Pasar (The Nature of Market Risk)

Risiko pasar terdiri dari: 

Risiko khusus (specific risk) adalah risiko yang timbul dari pergerakan harga suatu surat berharga karena faktor keamanan atau faktor penerbitnya. Sebagai contoh penurunan harga obligasi karena ‘credit rating’ dari penerbit obligasi mengalami penurunan. Informasi ini akan secara khusus berpengaruh terhadap penerbit obligasi dan bukan mempengaruhi harga obligasi secara umum.

Risiko pasar umum (general market risk) adalah risiko yang timbul dari pergerakan harga-harga instrumen keuangan secara umum di pasar. Contohnya, kebijakan penurunan suku bunga oleh pemerintah menyebabkan penurunan suku bunga di pasar sehingga mempengaruhi harga dari seluruh instrumen keuangan yang terkait dengan pergerakan suku bunga.  Risiko Pasar Umum (General market risk) dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu : Risiko suku bunga, Risiko posisi ekuit, Risiko nilai tukar dan Risiko
komoditas.


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

PENDEKATAN STANDARDIZED APPROACH DALAM RISIKO KREDIT


Dibutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi untuk memahami artikel yang saya sediakan dibawah ini, saran saya baca dahulu postingan saya sebelumnya dalam label Manajemen Risiko Kredit.

SA dikembangkan dari pendekatan risiko kredit dalam Basel I. Dalam pendekatan ini, kelompok aset dalam neraca akan dikalikan dengan bobot risiko yang disebut Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk kemudian dirasiokan dengan jumlah modal, dengan batas minimum 8%. Rasio minimum capital 8% ini tetap dipertahankan dalam Basel II.

Dalam perhitungan ATMR, setiap aset neraca dikelompokkan menjadi 5 (lima) kategori utama berdasarkan perkiraan kualitas debitur selama jangka waktu kontrak atau jangka waktu pinjaman

Versi singkat dari kelompok aset & bobot risikonya adalah sebagai berikut :

BASEL I:
-       Kas, bobot risiko : 0%
-       Pemerintah domestik dan pemerintah pusat negara OECD, bobot risiko 0%
-       Pinjaman pemerintah negara OECD, bobot risiko 0%
-       Sektor publik pemerintah domestik dan negara OECD serta pemerintah daerah, bobot risiko 0% s.d 50%.
-       Interbank (OECD) dan bank pembangunan internasional, bobot risiko 20%
-       Utang pemerintah non-OECD, bobot risiko 100%
-       Bank non-OECD < 1 tahun, bobot risiko 20%
-       Bank non-OECD > 1 tahun, bobot risiko 100%
-       Pinjaman mortgage (kredit perumahan) , bobot risiko 100%
-       Kredit korporasi dan utang individu yang tidak dijamin, bobot risiko 50%
BASEL II
Berikut ini revisi terhadap Basel I mengenai pembobotan risiko atas eksposur :
Untuk menentukan bobot risiko dengan standardised approach, bank dapat menggunakan penilaian dari lembaga pemeringkat eksternal yang memenuhi persyaratan otoritas pengawas nasional untuk keperluan perhitungan modal dan eksposur harus dikenakan bobot risiko setelah dikurangi cadangan khusus.

1. Tagihan pada pemerintah

Tagihan pada pemerintah dan bank sentral akan dikenakan bobot risiko sebagai berikut:
–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 0%
-       Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 20%
-       Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 50%
-       Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 100%
-       Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
-       Unrated / Tidak berperingkat, bobot risikonya adalah 100%

Berdasarkan diskresi nasional, bobot risiko yang lebih rendah dapat diberikan pada eksposur bank pada pemerintahnya (atau bank sentral) dalam mata uang domestik dan sumber pendanaannya juga dalam mata uang yang sama.

Untuk tujuan pembobotan risiko tagihan pada pemerintah, pengawas dapat mengakui country risk score yang ditetapkan Export Credit Agencies (ECA). Risk scores ECA ini akan dikaitkan dengan kategori bobot risiko sebagaimana dirinci di bawah ini:

–      ECA risk scores 0-1 bobot risikonya adalah 0%,
–      ECA risk scores 2 bobot risikonya adalah 20%,
–      ECA risk scores 3 bobot risikonya adalah 50%,
–      ECA risk scores 4-6 bobot risikonya adalah 100%,
–      ECA risk scores 7 bobot risikonya adalah 150%,
–      Tagihan pada Bank for International Settlement, International Monetary Fund, European Central Bank, dan European Community diberikan bobot risiko 0%.
2. Tagihan pada Lembaga Publik Non-Pemerintah Pusat/public sector entities (PSE)

Tagihan pada PSE domestik akan diberikan bobot risiko berdasarkan diskresi nasional, sesuai dengan opsi 1 atau opsi 2 tagihan pada bank (lihat bagian 4. Tagihan pada bank). Jika opsi 2 yang dipilih, pilihan ini akan diterapkan tanpa memberikan perlakuan khusus untuk tagihan jangka pendek.

Berdasarkan diskresi nasional, tagihan pada PSE domestik tertentu juga dapat diperlakukan sebagai tagihan pada pemerintah pada yurisdiksi dimana PSE tersebut didirikan.


3. Tagihan pada bank pembangunan multilateral (MDB)

Bobot risiko terhadap tagihan pada MDB secara umum akan didasarkan pada penilaian lembaga pemeringkat eksternal sebagaimana pada opsi 2 tagihan pada bank tetapi tanpa perlakuan khusus untuk tagihan jangka pendek. Bobot risiko 0% akan diberikan terhadap tagihan pada MDB yang memiliki peringkat tinggi yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Basel Komite . (saat ini yang memenuhi syarat untuk memperoleh bobot risiko 0% adalah World Bank Group).

4. Tagihan pada bank

Terdapat dua opsi perlakuan atas tagihan pada bank. Pengawas nasional hanya dapat menerapkan satu opsi bagi seluruh bank dalam yurisdiksinya. Bobot risiko atas tagihan pada bank yang tidak berperingkat tidak boleh lebih rendah daripada bobot risiko atas tagihan kepada pemerintahnya.

Pada opsi pertama, semua bank yang berbadan hukum di suatu negara akan diberikan bobot risiko satu kategori lebih rendah dibandingkan kategori bobot risiko tagihan pada pemerintahnya. Tetapi bobot risiko untuk tagihan pada bank di negara berperingkat BB+ sampai B- dan di negara yang tidak berperingkat dibatasi setinggi-tingginya sebesar 100%.

Opsi kedua menggunakan pembobotan risiko yang didasarkan pada penilaian lembaga pemeringkat kredit eksternal terhadap bank itu sendiri dimana tagihan pada bank yang tidak berperingkat mendapat bobot risiko sebesar 50%. Pada opsi ini, suatu bobot risiko yang lebih baik yaitu yang memiliki satu kategori lebih tinggi dapat diberikan pada tagihan dengan jatuh tempo awal selama tiga bulan atau kurang, tunduk pada batas bawah 20%. Perlakuan ini dapat diterapkan baik untuk bank yang berperingkat maupun untuk bank yang tidak berperingkat, tapi tidak untuk bank dengan bobot risiko sebesar 150%

Kedua opsi tersebut dirangkum dalam tabel berikut ini:

OPSI SATU :
–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 50%
–      Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 100%
–      Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 100%
–      Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
–      Unrated, bobot risikonya adalah 100%

OPSI DUA: TAGIHAN JANGKA PENDEK (Tagihan jangka pendek sebagaimana pada opsi 2 didefinisikan memiliki jangka waktu awal 3 bulan atau kurang)

–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 50%
–      Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
–      Unrated, bobot risikonya adalah 20%

OPSI DUA : TIDAK TERMASUK KATEGORI TAGIHAN JANGKA PENDEK :

–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 50%
–      Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 50%
–      Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 100%
–      Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
–      Unrated, bobot risikonya adalah 50%


5. Tagihan pada perusahaan sekuritas

Tagihan pada perusahaan sekuritas dapat diperlakukan seperti tagihan pada bank sepanjang perusahaan sekuritas tersebut tunduk pada mekanisme pengaturan dan pengawasan yang setara dengan mekanisme sebagaimana terdapat dalam Basel II (khususnya persyaratan modal berbasis risiko). Jika tidak, tagihan pada perusahaan sekuritas akan mengikuti ketentuan yang berlaku untuk tagihan pada perusahaan.


6. Tagihan pada perusahaan/korporasi

Tabel di bawah ini menggambarkan pembobotan risiko atas tagihan pada perusahaan yang berperingkat termasuk tagihan pada perusahaan asuransi. Standar bobot risiko untuk tagihan pada perusahaan yang tidak berperingkat adalah sebesar 100%. Tagihan pada perusahaan yang tidak berperingkat tidak diperkenankan memperoleh bobot risiko lebih rendah daripada tagihan pada pemerintahnya.

– Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
– Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 50%
– Rating BBB+ to BB-, bobot risikonya adalah 100%
– Di bawah BB- , bobot risikonya adalah 150%
– Unrated, bobot risikonya adalah 100%

Otoritas pengawas harus meningkatkan standar bobot risiko untuk tagihan tidak berperingkat jika secara historis tagihan-tagihan tersebut memiliki kemungkinan wanprestasi/gagal bayar yang lebih tinggi. Sebagai bagian dari supervisory review process, pengawas juga dapat memberikan standar bobot risiko lebih tinggi daripada 100% terhadap tagihan pada perusahaan setelah mempertimbangkan kualitas kredit dari tagihan tersebut.

Berdasarkan diskresi nasional, pengawas dapat mengizinkan bank untuk memberikan bobot risiko sebesar 100% atas seluruh tagihan pada perusahaan tanpa mempertimbangkan hasil pemeringkatan eksternal, namun bank wajib menerapkan satu pendekatan secara konsisten, yaitu menggunakan hasil pemeringkatan yang tersedia atau mengabaikan hasil pemeringkatan.

7. Tagihan yang berdasarkan ketentuan termasuk dalam portofolio ritel

Tagihan-tagihan yang sesuai dengan criteria tertentu dapat digolongkan sebagai tagihan ritel untuk perhitungan regulatory capital dan termasuk dalam portofolio ritel sesuai ketentuan. Eksposur portofolio tersebut dikenakan bobot risiko sebesar 75% kecuali untuk tagihan kredit yang telah melewati jatuh tempo (past due loans). Tagihan yang berdasarkan ketentuan termasuk dalam portofolio ritel harus memenuhi empat kriteria berikut:
  • Kriteria Orientasi : eksposur terhadap perseorangan atau sekelompok orang atau perusahaan kecil.
  • Kriteria Produk : eksposur dalam bentuk sebagai berikut: revolving credit dan fasilitas kredit (termasuk kartu kredit dan cerukan), kredit perseorangan ( personal term loans) dan sewa guna usaha (misalnya pinjaman cicilan, pinjaman dan sewa guna usaha kendaraan, pinjaman pendidikan, kredit konsumsi) serta fasilitas dan komitmen bagi usaha kecil. Efek (misalnya obligasi dan saham), baik yang tercatat di bursa atau tidak, dikecualikan dari kategori ini. Pinjaman hipotek perumahan tidak termasuk kriteria ini selama lebih memenuhi kriteria sebagai tagihan beragunan rumah tinggal (residential property).
  • Kriteria Granularity : Pengawas harus meyakini bahwa portofolio ritel sudah cukup terdiversifikasi hingga dapat mengurangi risiko dalam portofolio dan dapat diberikan bobot risiko 75%. Satu cara untuk mencapainya adalah dengan menentukan suatu limit dimana secara agregat tidak ada eksposur bagi satu pihak yang boleh melebihi 0,2% dari keseluruhan portofolio tagihan ritel.
  • Eksposur individual bernilai rendah. Jumlah maksimum tagihan ritel secara agregat yang diperbolehkan bagi satu pihak tidak boleh melebihi jumlah absolut sebesar $1 juta.

8. Tagihan yang beragun rumah tinggal

Pinjaman yang sepenuhnya beragun rumah tinggal yang ditempati atau yang disewakan memperoleh bobot risiko sebesar 35%. Dalam menerapkan bobot 35% ini, otoritas pengawas perlu mempertimbangkan aturan pembiayaan perumahan di masing-masing negara, bahwa bobot yang diizinkan ini diterapkan terbatas hanya untuk yang ditempati dan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian yang ketat, misal adanya suatu marjin substansial sebagai jaminan tambahan yang melampaui jumlah pinjaman berdasarkan proses penilaian yang ketat. Para pengawas perlu meningkatkan standar bobot risiko apabila kriteria tersebut tidak terpenuhi.

Otoritas pengawas nasional perlu mengevaluasi apakah bobot risiko sebagaimana dimaksud di atas tergolong terlalu rendah berdasarkan pengalaman wanprestasi untuk jenis eksposur ini di negaranya.


9. Tagihan yang dijamin dengan real estate komersial

Berdasarkan pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa pinjaman properti komersial sering menjadi penyebab timbulnya aset bermasalah dalam industri perbankan pada beberapa dekade terakhir, karena itu Basel Komite berpandangan bahwa bobot risiko atas pembiayaan properti komersial tersebut harus sebesar 100%.


10. Tagihan yang telah jatuh tempo

Porsi yang tidak dijamin dari setiap pinjaman (selain yang memenuhi kualifikasi sebagai pembiayaan rumah tinggal) yang telah jatuh tempo lebih dari 90 hari, setelah dikurangi cadangan khusus (termasuk write-offs sebagian), akan diberi bobot risiko sebagai berikut:
  • Bobot risiko 150% bila cadangan khusus kurang dari 20% outstandingpinjaman.
  • Bobot risiko 100% bila cadangan khusus tidak kurang dari 20% outstanding pinjaman.
  • Bobot risiko 100% bila cadangan khusus tidak kurang dari 50% outstanding pinjaman, tetapi dengan diskresi pengawas dapat berkurang menjadi 50%.
Pada kasus pembiayaan rumah tinggal yang telah memenuhi kualifikasi pinjaman jatuh tempo yang telah melampaui 90 hari akan diberi bobot risiko sebesar 100% setelah dikurangi cadangan khusus. Apabila pinjaman tersebut telah jatuh tempo tetapi memiliki cadangan khusus tidak kurang dari 20% outstanding pinjaman, bobot risiko atas sisa pinjaman dapat diturunkan menjadi 50% berdasarkan diskresi nasional


11. Kategori Risiko yang Lebih Tinggi

Tagihan-tagihan berikut akan diberi bobot risiko sebesar 150% atau lebih:
  • Tagihan pada pemerintah, PSE, bank, dan perusahaan sekuritas dengan peringkat di bawah B-.
  • Tagihan pada perusahaan dengan peringkat di bawah BB-.
  • Tagihan yang telah jatuh tempo .
  • Kelas aset yang disekuritisasi (securitisation tranches) dengan peringkat antara BB+ dan Bb akan diberi bobot risiko sebesar 350%.

    Pengawas nasional dapat menerapkan bobot risiko 150% atau lebih agar mencerminkan risiko yang lebih tinggi terhadap beberapa jenis aset misalnya investasi pada modal ventura dan penyertaan melalui penawaran terbatas (private equity investment).
12. Aset-Aset Lainnya

Secara umum, bobot risiko standar untuk aset lainnya adalah sebesar 100% dan investasi pada ekuitas atau regulatory capital instrument yang diterbitkan oleh bank atau perusahaan sekuritas akan diberi bobot sebesar 100%.


13. Pos - Pos Off-balance sheet

Komponen rekening administratif berdasarkan standardised approach akan dikonversikan menjadi setara dengan eksposur kredit melalui penggunaan faktor konversi kredit (credit conversion factors-CCF).
Faktor Konversi kredit berdasarkan Basel I adalah sebagai berikut :
-       Direct credit substitutes, bobot risikonya = 100%
-       Komponen kontinjensi tertentu yang terkait dengan transaksi tertentu, bobot risikonya = 50%
-       Komponen Kontinjensi yang terkait perdagangan yang dapat dilikuidasi sendiri dalam jangka pendek, bobot risikonya = 20%
-       Sale and repurchase agreements (’repos’) dan penjualan aset dengan recourse, dimana risiko kredit tetap ada pada bank, bobot risikonya = 100%
-       Forward asset purchase, forward forward deposits dan partly paid shares and securities, yang mempresentasikan komitmen dengan penarikan tertentu, bobot risikonya : 100%
-       Fasilitas note issuance dan fasilitas revolving underwriting, bobot risikonya = 50%
-       Komitmen lain dengan jatuh tempo awal lebih dari satu tahun, bobot risikonya = 50
-       Komitmen serupa (seperti di atas) dengan jatuh tempo awal sampai dengan satu tahun, atau yang dapat dibatalkan dengan tanpa syarat kapan saja, bobot risikonya = 0%

Perbedaan utama conversion factors dalam Basel II, adalah:

-       Komitmen yang bisa dibatalkan dengan tanpa syarat = 0%
-       Komitmen sampai dengan 1 tahun = 20%
-       Komitmen lebih dari satu tahun = 50%
-       Semakin rendah pembobotan komitmen itu sendiri (lihat di atas) atau pembobotan item off-balance sheet itu sendiri, (misalnya, garansi)
-       Securities lending (termasuk pemberian pinjaman sebagai kolateral) = 100%
-       Letters of credit perdagangan (sebagai bank penerbit atau confirming bank) = 20%.


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge