Sep 17, 2012

PENDEKATAN STANDARDIZED APPROACH DALAM RISIKO KREDIT


Dibutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi untuk memahami artikel yang saya sediakan dibawah ini, saran saya baca dahulu postingan saya sebelumnya dalam label Manajemen Risiko Kredit.

SA dikembangkan dari pendekatan risiko kredit dalam Basel I. Dalam pendekatan ini, kelompok aset dalam neraca akan dikalikan dengan bobot risiko yang disebut Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk kemudian dirasiokan dengan jumlah modal, dengan batas minimum 8%. Rasio minimum capital 8% ini tetap dipertahankan dalam Basel II.

Dalam perhitungan ATMR, setiap aset neraca dikelompokkan menjadi 5 (lima) kategori utama berdasarkan perkiraan kualitas debitur selama jangka waktu kontrak atau jangka waktu pinjaman

Versi singkat dari kelompok aset & bobot risikonya adalah sebagai berikut :

BASEL I:
-       Kas, bobot risiko : 0%
-       Pemerintah domestik dan pemerintah pusat negara OECD, bobot risiko 0%
-       Pinjaman pemerintah negara OECD, bobot risiko 0%
-       Sektor publik pemerintah domestik dan negara OECD serta pemerintah daerah, bobot risiko 0% s.d 50%.
-       Interbank (OECD) dan bank pembangunan internasional, bobot risiko 20%
-       Utang pemerintah non-OECD, bobot risiko 100%
-       Bank non-OECD < 1 tahun, bobot risiko 20%
-       Bank non-OECD > 1 tahun, bobot risiko 100%
-       Pinjaman mortgage (kredit perumahan) , bobot risiko 100%
-       Kredit korporasi dan utang individu yang tidak dijamin, bobot risiko 50%
BASEL II
Berikut ini revisi terhadap Basel I mengenai pembobotan risiko atas eksposur :
Untuk menentukan bobot risiko dengan standardised approach, bank dapat menggunakan penilaian dari lembaga pemeringkat eksternal yang memenuhi persyaratan otoritas pengawas nasional untuk keperluan perhitungan modal dan eksposur harus dikenakan bobot risiko setelah dikurangi cadangan khusus.

1. Tagihan pada pemerintah

Tagihan pada pemerintah dan bank sentral akan dikenakan bobot risiko sebagai berikut:
–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 0%
-       Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 20%
-       Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 50%
-       Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 100%
-       Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
-       Unrated / Tidak berperingkat, bobot risikonya adalah 100%

Berdasarkan diskresi nasional, bobot risiko yang lebih rendah dapat diberikan pada eksposur bank pada pemerintahnya (atau bank sentral) dalam mata uang domestik dan sumber pendanaannya juga dalam mata uang yang sama.

Untuk tujuan pembobotan risiko tagihan pada pemerintah, pengawas dapat mengakui country risk score yang ditetapkan Export Credit Agencies (ECA). Risk scores ECA ini akan dikaitkan dengan kategori bobot risiko sebagaimana dirinci di bawah ini:

–      ECA risk scores 0-1 bobot risikonya adalah 0%,
–      ECA risk scores 2 bobot risikonya adalah 20%,
–      ECA risk scores 3 bobot risikonya adalah 50%,
–      ECA risk scores 4-6 bobot risikonya adalah 100%,
–      ECA risk scores 7 bobot risikonya adalah 150%,
–      Tagihan pada Bank for International Settlement, International Monetary Fund, European Central Bank, dan European Community diberikan bobot risiko 0%.
2. Tagihan pada Lembaga Publik Non-Pemerintah Pusat/public sector entities (PSE)

Tagihan pada PSE domestik akan diberikan bobot risiko berdasarkan diskresi nasional, sesuai dengan opsi 1 atau opsi 2 tagihan pada bank (lihat bagian 4. Tagihan pada bank). Jika opsi 2 yang dipilih, pilihan ini akan diterapkan tanpa memberikan perlakuan khusus untuk tagihan jangka pendek.

Berdasarkan diskresi nasional, tagihan pada PSE domestik tertentu juga dapat diperlakukan sebagai tagihan pada pemerintah pada yurisdiksi dimana PSE tersebut didirikan.


3. Tagihan pada bank pembangunan multilateral (MDB)

Bobot risiko terhadap tagihan pada MDB secara umum akan didasarkan pada penilaian lembaga pemeringkat eksternal sebagaimana pada opsi 2 tagihan pada bank tetapi tanpa perlakuan khusus untuk tagihan jangka pendek. Bobot risiko 0% akan diberikan terhadap tagihan pada MDB yang memiliki peringkat tinggi yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Basel Komite . (saat ini yang memenuhi syarat untuk memperoleh bobot risiko 0% adalah World Bank Group).

4. Tagihan pada bank

Terdapat dua opsi perlakuan atas tagihan pada bank. Pengawas nasional hanya dapat menerapkan satu opsi bagi seluruh bank dalam yurisdiksinya. Bobot risiko atas tagihan pada bank yang tidak berperingkat tidak boleh lebih rendah daripada bobot risiko atas tagihan kepada pemerintahnya.

Pada opsi pertama, semua bank yang berbadan hukum di suatu negara akan diberikan bobot risiko satu kategori lebih rendah dibandingkan kategori bobot risiko tagihan pada pemerintahnya. Tetapi bobot risiko untuk tagihan pada bank di negara berperingkat BB+ sampai B- dan di negara yang tidak berperingkat dibatasi setinggi-tingginya sebesar 100%.

Opsi kedua menggunakan pembobotan risiko yang didasarkan pada penilaian lembaga pemeringkat kredit eksternal terhadap bank itu sendiri dimana tagihan pada bank yang tidak berperingkat mendapat bobot risiko sebesar 50%. Pada opsi ini, suatu bobot risiko yang lebih baik yaitu yang memiliki satu kategori lebih tinggi dapat diberikan pada tagihan dengan jatuh tempo awal selama tiga bulan atau kurang, tunduk pada batas bawah 20%. Perlakuan ini dapat diterapkan baik untuk bank yang berperingkat maupun untuk bank yang tidak berperingkat, tapi tidak untuk bank dengan bobot risiko sebesar 150%

Kedua opsi tersebut dirangkum dalam tabel berikut ini:

OPSI SATU :
–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 50%
–      Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 100%
–      Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 100%
–      Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
–      Unrated, bobot risikonya adalah 100%

OPSI DUA: TAGIHAN JANGKA PENDEK (Tagihan jangka pendek sebagaimana pada opsi 2 didefinisikan memiliki jangka waktu awal 3 bulan atau kurang)

–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 50%
–      Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
–      Unrated, bobot risikonya adalah 20%

OPSI DUA : TIDAK TERMASUK KATEGORI TAGIHAN JANGKA PENDEK :

–      Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
–      Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 50%
–      Rating BBB+ to BBB-, bobot risikonya adalah 50%
–      Rating BB+ to B- , bobot risikonya adalah 100%
–      Rating B- to default, bobot risikonya adalah 150%
–      Unrated, bobot risikonya adalah 50%


5. Tagihan pada perusahaan sekuritas

Tagihan pada perusahaan sekuritas dapat diperlakukan seperti tagihan pada bank sepanjang perusahaan sekuritas tersebut tunduk pada mekanisme pengaturan dan pengawasan yang setara dengan mekanisme sebagaimana terdapat dalam Basel II (khususnya persyaratan modal berbasis risiko). Jika tidak, tagihan pada perusahaan sekuritas akan mengikuti ketentuan yang berlaku untuk tagihan pada perusahaan.


6. Tagihan pada perusahaan/korporasi

Tabel di bawah ini menggambarkan pembobotan risiko atas tagihan pada perusahaan yang berperingkat termasuk tagihan pada perusahaan asuransi. Standar bobot risiko untuk tagihan pada perusahaan yang tidak berperingkat adalah sebesar 100%. Tagihan pada perusahaan yang tidak berperingkat tidak diperkenankan memperoleh bobot risiko lebih rendah daripada tagihan pada pemerintahnya.

– Rating AAA to AA-, bobot risikonya adalah 20%
– Rating A+ to A-, bobot risikonya adalah 50%
– Rating BBB+ to BB-, bobot risikonya adalah 100%
– Di bawah BB- , bobot risikonya adalah 150%
– Unrated, bobot risikonya adalah 100%

Otoritas pengawas harus meningkatkan standar bobot risiko untuk tagihan tidak berperingkat jika secara historis tagihan-tagihan tersebut memiliki kemungkinan wanprestasi/gagal bayar yang lebih tinggi. Sebagai bagian dari supervisory review process, pengawas juga dapat memberikan standar bobot risiko lebih tinggi daripada 100% terhadap tagihan pada perusahaan setelah mempertimbangkan kualitas kredit dari tagihan tersebut.

Berdasarkan diskresi nasional, pengawas dapat mengizinkan bank untuk memberikan bobot risiko sebesar 100% atas seluruh tagihan pada perusahaan tanpa mempertimbangkan hasil pemeringkatan eksternal, namun bank wajib menerapkan satu pendekatan secara konsisten, yaitu menggunakan hasil pemeringkatan yang tersedia atau mengabaikan hasil pemeringkatan.

7. Tagihan yang berdasarkan ketentuan termasuk dalam portofolio ritel

Tagihan-tagihan yang sesuai dengan criteria tertentu dapat digolongkan sebagai tagihan ritel untuk perhitungan regulatory capital dan termasuk dalam portofolio ritel sesuai ketentuan. Eksposur portofolio tersebut dikenakan bobot risiko sebesar 75% kecuali untuk tagihan kredit yang telah melewati jatuh tempo (past due loans). Tagihan yang berdasarkan ketentuan termasuk dalam portofolio ritel harus memenuhi empat kriteria berikut:
  • Kriteria Orientasi : eksposur terhadap perseorangan atau sekelompok orang atau perusahaan kecil.
  • Kriteria Produk : eksposur dalam bentuk sebagai berikut: revolving credit dan fasilitas kredit (termasuk kartu kredit dan cerukan), kredit perseorangan ( personal term loans) dan sewa guna usaha (misalnya pinjaman cicilan, pinjaman dan sewa guna usaha kendaraan, pinjaman pendidikan, kredit konsumsi) serta fasilitas dan komitmen bagi usaha kecil. Efek (misalnya obligasi dan saham), baik yang tercatat di bursa atau tidak, dikecualikan dari kategori ini. Pinjaman hipotek perumahan tidak termasuk kriteria ini selama lebih memenuhi kriteria sebagai tagihan beragunan rumah tinggal (residential property).
  • Kriteria Granularity : Pengawas harus meyakini bahwa portofolio ritel sudah cukup terdiversifikasi hingga dapat mengurangi risiko dalam portofolio dan dapat diberikan bobot risiko 75%. Satu cara untuk mencapainya adalah dengan menentukan suatu limit dimana secara agregat tidak ada eksposur bagi satu pihak yang boleh melebihi 0,2% dari keseluruhan portofolio tagihan ritel.
  • Eksposur individual bernilai rendah. Jumlah maksimum tagihan ritel secara agregat yang diperbolehkan bagi satu pihak tidak boleh melebihi jumlah absolut sebesar $1 juta.

8. Tagihan yang beragun rumah tinggal

Pinjaman yang sepenuhnya beragun rumah tinggal yang ditempati atau yang disewakan memperoleh bobot risiko sebesar 35%. Dalam menerapkan bobot 35% ini, otoritas pengawas perlu mempertimbangkan aturan pembiayaan perumahan di masing-masing negara, bahwa bobot yang diizinkan ini diterapkan terbatas hanya untuk yang ditempati dan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian yang ketat, misal adanya suatu marjin substansial sebagai jaminan tambahan yang melampaui jumlah pinjaman berdasarkan proses penilaian yang ketat. Para pengawas perlu meningkatkan standar bobot risiko apabila kriteria tersebut tidak terpenuhi.

Otoritas pengawas nasional perlu mengevaluasi apakah bobot risiko sebagaimana dimaksud di atas tergolong terlalu rendah berdasarkan pengalaman wanprestasi untuk jenis eksposur ini di negaranya.


9. Tagihan yang dijamin dengan real estate komersial

Berdasarkan pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa pinjaman properti komersial sering menjadi penyebab timbulnya aset bermasalah dalam industri perbankan pada beberapa dekade terakhir, karena itu Basel Komite berpandangan bahwa bobot risiko atas pembiayaan properti komersial tersebut harus sebesar 100%.


10. Tagihan yang telah jatuh tempo

Porsi yang tidak dijamin dari setiap pinjaman (selain yang memenuhi kualifikasi sebagai pembiayaan rumah tinggal) yang telah jatuh tempo lebih dari 90 hari, setelah dikurangi cadangan khusus (termasuk write-offs sebagian), akan diberi bobot risiko sebagai berikut:
  • Bobot risiko 150% bila cadangan khusus kurang dari 20% outstandingpinjaman.
  • Bobot risiko 100% bila cadangan khusus tidak kurang dari 20% outstanding pinjaman.
  • Bobot risiko 100% bila cadangan khusus tidak kurang dari 50% outstanding pinjaman, tetapi dengan diskresi pengawas dapat berkurang menjadi 50%.
Pada kasus pembiayaan rumah tinggal yang telah memenuhi kualifikasi pinjaman jatuh tempo yang telah melampaui 90 hari akan diberi bobot risiko sebesar 100% setelah dikurangi cadangan khusus. Apabila pinjaman tersebut telah jatuh tempo tetapi memiliki cadangan khusus tidak kurang dari 20% outstanding pinjaman, bobot risiko atas sisa pinjaman dapat diturunkan menjadi 50% berdasarkan diskresi nasional


11. Kategori Risiko yang Lebih Tinggi

Tagihan-tagihan berikut akan diberi bobot risiko sebesar 150% atau lebih:
  • Tagihan pada pemerintah, PSE, bank, dan perusahaan sekuritas dengan peringkat di bawah B-.
  • Tagihan pada perusahaan dengan peringkat di bawah BB-.
  • Tagihan yang telah jatuh tempo .
  • Kelas aset yang disekuritisasi (securitisation tranches) dengan peringkat antara BB+ dan Bb akan diberi bobot risiko sebesar 350%.

    Pengawas nasional dapat menerapkan bobot risiko 150% atau lebih agar mencerminkan risiko yang lebih tinggi terhadap beberapa jenis aset misalnya investasi pada modal ventura dan penyertaan melalui penawaran terbatas (private equity investment).
12. Aset-Aset Lainnya

Secara umum, bobot risiko standar untuk aset lainnya adalah sebesar 100% dan investasi pada ekuitas atau regulatory capital instrument yang diterbitkan oleh bank atau perusahaan sekuritas akan diberi bobot sebesar 100%.


13. Pos - Pos Off-balance sheet

Komponen rekening administratif berdasarkan standardised approach akan dikonversikan menjadi setara dengan eksposur kredit melalui penggunaan faktor konversi kredit (credit conversion factors-CCF).
Faktor Konversi kredit berdasarkan Basel I adalah sebagai berikut :
-       Direct credit substitutes, bobot risikonya = 100%
-       Komponen kontinjensi tertentu yang terkait dengan transaksi tertentu, bobot risikonya = 50%
-       Komponen Kontinjensi yang terkait perdagangan yang dapat dilikuidasi sendiri dalam jangka pendek, bobot risikonya = 20%
-       Sale and repurchase agreements (’repos’) dan penjualan aset dengan recourse, dimana risiko kredit tetap ada pada bank, bobot risikonya = 100%
-       Forward asset purchase, forward forward deposits dan partly paid shares and securities, yang mempresentasikan komitmen dengan penarikan tertentu, bobot risikonya : 100%
-       Fasilitas note issuance dan fasilitas revolving underwriting, bobot risikonya = 50%
-       Komitmen lain dengan jatuh tempo awal lebih dari satu tahun, bobot risikonya = 50
-       Komitmen serupa (seperti di atas) dengan jatuh tempo awal sampai dengan satu tahun, atau yang dapat dibatalkan dengan tanpa syarat kapan saja, bobot risikonya = 0%

Perbedaan utama conversion factors dalam Basel II, adalah:

-       Komitmen yang bisa dibatalkan dengan tanpa syarat = 0%
-       Komitmen sampai dengan 1 tahun = 20%
-       Komitmen lebih dari satu tahun = 50%
-       Semakin rendah pembobotan komitmen itu sendiri (lihat di atas) atau pembobotan item off-balance sheet itu sendiri, (misalnya, garansi)
-       Securities lending (termasuk pemberian pinjaman sebagai kolateral) = 100%
-       Letters of credit perdagangan (sebagai bank penerbit atau confirming bank) = 20%.


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

No comments:

Post a Comment

What is the biggest concern of operational risk in bank nowaday?

Apa perhatian terbesar terhadap risiko operasional bank pada hari-hari ini? Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita ulas kemba...