Sep 20, 2012

METODE PERHITUNGAN RISIKO OPERASIONAL MENURUT BASSEL II ( BIA / SA /IMA)



Pengukuran risiko operasional bank oleh BIS (Bank for International Settlement) berdasarkan BASEL CAPITAL ACCORD, memberikan beberapa pilihan metode, yaitu :

a. Basic Indicator Approach. (BIA)
b. Standardized Approach (SA)
c. Internal Measurement Approach (IMA)

Penerapan masing-masing metode tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

Basic Indicator Approach

Dalam Basic Indicator Approach, total pendapatan kotor (Gross Income) digunakan sebagai indikator eksposur. Pendapatan kotor ini diasumsikan sebagai indikator skala operasional bisnis keseluruhan bank, yang merupakan risiko operasional yang melekat (inherent risk) di bank.
Persentase untuk alpha berdasarkan Basel II adalah 15% namun demikian untuk perbankan Indonesia berpedoman kepada ketentuan Bank Indonesia. Dengan pendekatan ini, modal yang dipersyaratkan untuk tahun tertentu adalah pendapatan kotor dikalikan dengan alpha. Modal yang dipersyaratkan untuk risiko operasional secara keseluruhan yang harus disediakan oleh bank menurut Basic Indicator Approach adalah rata-rata selama tiga tahun terakhir dari 15% dikalikan dengan pendapatan kotor / Gross Income.
Rumus untuk menghitung modal risiko operasional bank adalah:
Dimana:

 KBIA = modal risiko operasional yang dipersyaratkan menurut Basic Indicator Approach
 GI = pendapatan kotor / Gross Income positif tahunan selama 3 tahun sebelumnya
 n = tiga tahun, dimana pendapatan kotor selalu positif
 α = 15% (atau ditetapkan lain oleh Bank Indonesia)

Pendapatan kotor yang negatif, selama jangka waktu tiga tahun, harus dikeluarkan dari penghitungan.
Pendekatan BIA ini diperuntukkan bagi bank dengan eksposur risiko operasional yang rendah, atau tidak ada atau sedikit fungsi risiko operasional yang canggih. Pendekatan ini tidak diperuntukkan bagi bank-bank internasional atau bank-bank dengan profil risiko yang signifikan. Karena menurut Basel II Accord, persyaratan minimal bagi bank-bank tipe ini untuk menggunakan Standardised Approach dalam menentukan modal yang dipersyaratkan.

Apabila suatu bank telah menerapkan Basic Indicator Approach, diharapkan nantinya bank dimaksud akan menggunakan metode yang lebih canggih untuk menghitung modal risiko operasional yang dipersyaratkan.
Sama halnya dengan pendekatan penghitungan modal untuk risiko kredit pada Basel I, Basic Indicator Approach tidak terlalu sensitif terhadap risiko operasional. Pendekatan ini terbatas dalam hal :

 mengasumsikan bahwa tingkat risiko operasional yang dimiliki bank proporsional dengan besarnya pendapatan kotor.

 Menyamakan perlakuan terhadap bisnis dengan high margin/low volume dan bisnis low margin/high volume, meskipun memiliki profil risiko yang berbeda.

 tidak ada pembentukan cadangan untuk berbagai tipe kejadian (events), frekuensi, pengawasan internal bank ataupun pasar dari bank tersebut.

 penggunaan pendapatan kotor sebagai indikator eksposur risiko operasional adalah jauh lebih sederhana daripada penggunaan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit.

Standardized Approach

Tidak seperti the BIA, the Standardized Approach menggunakan Gross Income pada tiap busines lines pada bank, karena dapat mencerminkan volume operasional pada tiap jenis business liness. Di samping itu, pendapatan kotor juga mengkaitkan volume usaha tiap business lines dengan tingkat risiko operasional yang melekat pada bisnis.

Pada tiap business lines, kebutuhan modal yang dipersyaratkan dihitung dengan cara yang sama dengan yang dihitung pada the Basic Indicator Approach. Pendapatan kotor untuk suatu business lines dikalikan dengan suatu faktor business lines, yang disebut “beta”.
Kedelapan business lines tersebut adalah :

 Corporate finance
 Trading and Sales
 Retail Banking
 Commercial banking
 Payment and settlement
 Agency services
 Asset management
 Retail brokerage

Beta tiap business lines berkisar dari 12% untuk Asset Management dan Retail Brokerage, sampai 15% untuk Retail Banking dan Commercial Banking dan 18% untuk Trading and Sales. Jadi, jika bank mengelola sebagian besar usahanya dalam bidang Trading and Sales, maka bank tersebut memerlukan lebih banyak modal untuk risiko operasional dibanding dengan bank yang sebagian usahanya di bidang Asset Management, meskipun keduanya memiliki jumlah pendapatan kotor yang sama.

Dengan the Standardized Approach, jumlah modal agregat dihitung dari seluruh business lines selama tiga tahun sebelumnya. Jumlah agregat tersebut kemudian dirata-ratakan untuk menghasilkan modal yang dipersyaratkan, sesuai dengan the Standardized Approach.

Modal agregat yang dipersyaratkan untuk satu tahun dihitung dengan menjumlahkan seluruh hasil pendapatan kotor, yang telah dikalikan dengan beta dari setiap business lines. Tidaklah penting jika pendapatan kotornya negatif, karena pendapatan kotor yang negatif tersebut masih bisa dimasukkan dalam perhitungan. Jika agregatnya untuk tahun tertentu negatif, maka angka yang negatif tersebut diganti dengan angka nol dalam penghitungan rata-ratanya.

Tidak seperti the Basic Indicator Approach, nilai nol masih dapat dimasukkan dalam hitungan rata-rata keseluruhan. Jadi nilai rata-rata dengan menggunakan the Standardized Approach selalu dihitung untuk jangka tiga tahun.

Rumus untuk menghitung modal yang dipersyaratkan, menurut the Standardized Approach adalah:


Dimana:

KTSA = Modal yang dipersyaratkan, sesuai the Standardized Approach
GI 1-8 = Pendapatan kotor untuk tiap business lines.
ß 1-8 = Nilai beta untuk tiap business lines

Meskipun lebih canggih daripada the Basic Indicator Approach, the Standardized Approach memiliki kekurangan pada tingkat sensitivitas risiko. Contohnya, the Standardized Approach tidak mempertimbangkan frekuensi atau dampak dari kejadian risiko operasional.

Business lines

The Standardized Approach membagi operasional bank menjadi delapan business lines usaha yang berbeda. Dengan demikian, pendekatan ini mengakui bahwa setiap business lines yang berbeda pada umumnya akan memiliki risiko operasional yang berbeda. Penggunaan business lines memungkinkan bank mengalokasikan modal yang dipersyaratkan menurut bidang business yang dijalankannya.

Dengan total pendapatan kotor yang sama, sebuah retail bank akan memiliki pendapatan kotor yang lebih kecil untuk business lines Trading and Sales dengan memiliki bobot risikonya yang lebih tinggi, dibanding dengan total pendapatan kotor dari investment bank. Sementara untuk hal yang sama, retail bank akan memiliki pendapatan kotor yang lebih tinggi pada business lines Retail Banking. Akibatnya, berdasarkan pendekatan, retail bank memiliki kebutuhan modal risiko operasional yang lebih kecil.

Kerangka kerja Basel II mempunyai suatu pendekatan tiga tingkatan (a three-tier approach) untuk mendefinisikan tiap business lines :

 Level 1 – Business lines yang aktual
 Level 2 – Fungsi bisnis yang khas dalam setiap business lines
 Level 3 – Kelompok aktivitas – aktivitas bisnis yang dijalankan dalam suatu business lines

Pendekatan tiga tingkatan ini memiliki dua tujuan:

 untuk menyediakan suatu standard, yang secara independen terdefinisikan dari struktur aktual bank, dengan tujuan agar biaya modal dihitung berdasarkan like-for-like.

 untuk memungkinkan bank-bank memetakan struktur business lines usaha internal mereka terhadap struktur business lines yang dipersyaratkan oleh Basel II.

Klik pada gambar untuk perbesar


Derivasi dan arti dari beta

Nilai beta dari tiap business line merupakan faktor bobot risiko. Tiap beta mengkaitkan kerugian risiko operasional yang dialami business line tertentu dengan pendapatan kotor business line tersebut. Semakin tinggi nilai beta, semakin besar potensi kerugian risiko operasional pada business line tersebut. Nilai Beta ini diarahkan untuk memberikan “bobot” pada modal risiko operasional yang didasarkan pada business line. Menghitung modal yang dipersyaratkan untuk tiap business line, dengan menggunakan menggunakan nilai beta dan pendapatan kotor, akan mengkaitkan skala aktivitas bisnis bank dengan risiko yang dihadapi.

Nilai Beta Business Line

Nilai beta untuk tiap business line dapat dilihat seperti berikut ini :

Business Line                                           Beta

Corporate Finance                                   ß1 18%
Trading and Sales                                     ß2 18%
Retail Banking                                          ß3 12%
Commercial Banking                                ß4 15%
Payment and Settlement                           ß5 18%
Agency Services                                      ß6 15%
Asset Manegement                                  ß7 12%
Retail Brokerage                                     ß8 12%

The Alternative Standardized Approach

Basel Committee menyadari bahwa dalam beberapa kegiatan perbankan tertentu, risiko operasional dapat dikompensasi dengan pendapatan yang didapat. Contoh dari kegiatan ini adalah kartu kredit, di mana risiko terjadinya fraud sudah diperhitungkan dalam struktur penetapan harga (pricing) kepada nasabah. The Standardized Approach tidak mempertimbangkan kegiatan penetapan harga seperti ini karena menggunakan pendapatan kotor sebagai faktor eksposure.

Bila bank banyak terlibat dalam kegiatan seperti ini, bank akan melakukan penghitungan dua kali jika menggunakan the Standardized Approach. Pertama-tama, bank mempertimbangkan risiko operasional dalam penetapan harga (pricing), kemudian menghitung alokasi modal untuk menutupi risiko yang sama tersebut.

Pendekatan ini memungkinkan bank untuk menggunakan pinjaman dan pembayaran di muka (advances) untuk menggantikan pendapatan kotor pada dua business lines, yaitu: commercial bank dan retail banking.

Advanced Measurement Approach

Advanced Measurement Approach adalah yang paling kompleks yang dapat digunakan oleh bank. Pendekatan ini memungkinkan bank memakai model internalnya sendiri dalam menghitung modal untuk mengcover risiko operasional. Namun, hal ini harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia sebagai regulator.

Terdapat sejumlah metodologi yang dipakai saat ini antara lain :

 Internal Measurement Approach
 Loss Distribution Approach
 Risk Drivers and Controls Approach (scorecards)

Internal Measurement Approach mirip dengan PD, EAD dan LGD/severity yang dipakai dalam pendekatan Internal Ratings-Based dalam menghitung modal yang dipersyaratkan untuk mengcover risiko kredit.

Metodologi yang banyak digunakan dalam Advanced Measurement Approach adalah Loss Distribution Approach dimana Value at Risk (VaR) digunakan dalam menghitung modal regulatorinya. Loss Distribution Approach menggunakan OpVaR (Operational Value at Risk) dalam menghitung modal regulatori untuk mengcover risiko operasional yang diminta dalam Basel II.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

No comments:

Post a Comment

What is the biggest concern of operational risk in bank nowaday?

Apa perhatian terbesar terhadap risiko operasional bank pada hari-hari ini? Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita ulas kemba...