Sep 21, 2012

BUILDING LOSS EVENT DATABASE (LED)


BUILDING LOSS EVENT DATABASE (LED) / PENGEMBANGAN DATABASE KERUGIAN

Definisi, cakupan & Tujuan


Database kerugian (loss event database) merupakan sekumpulan data-data kerugian yang dialami atau pernah dialami bank, yang telah diorganisasikan secara teratur dengan klasifikasi tertentu. Database kerugian dimaksud mencakup kerugian yang bersifat financial dan non financial serta termasuk operational risk ‘near miss serta opportunity cost yang mungkin timbul dari setiap event. Near miss adalah event / kejadian risiko yang tidak menimbulkan kerugian dan opportunity Loss didefinisikan sebagai kerugian / biaya timbul akibat kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan.



Pengumpulan data loss event internal merupakan prasyarat penting untuk pengembangan dan berfungsinya sistem pengukuran risiko operasional yang dipercaya. Data kerugian internal sangat penting untuk menghubungkan perkiraan risiko bank terhadap pengalaman kerugian aktual. Pencatatan dan penatausahaan data tersebut yang disusun dalam suatu data statistik dapat digunakan sebagai dasar untuk perkiraan risiko empiris, sebagai alat untuk memvalidasi input dan output dari sistem pengukuran risiko bank, atau sebagai penghubung antara pengalaman kerugian dengan manajemen risiko serta keputusan pengendalian.


Dalam melakukan perkiraan risiko empiris tersebut, bank dapat pula menggunakan data eksternal guna melangkapi data internal bank yang telah diorganisasikan.

Sebagaimana definisi risiko operasional, sumber yang dapat menjadi faktor timbulnya loss event adalah proses, manusia, teknologi dan atau ekesternal event yang berakibat kepada timbulnya kerugian baik financial maupun non finansial. Sumber utama yang dijadikan acuan dalam memperoleh loss event adalah hasil audit intern maupun ekstern, hasil identifikasi risiko maupun sumber-sumber lainnya.  Recovery atas kerugian dapat bersumber dari klaim asuransi, ganti rugi / atau penjualan asset yang bersumber dari pihak selain bank dan atau sumber sumber lainnya.


Basel II tidak mensyaratkan bank untuk mengumpulkan data dengan cara yang identifk, namun demikian Basel II menetapkan bahwa bank harus dapat memetakan defisini risiko operasionalnya ke dalam 1). Standar tipe peristiwa data kerugian, dan 2). Business line berdasarkan kategori sebagaimana Standard Approach (SA)

Selain untuk menciptakan proses untuk memetakan kerugian actual bank berdasarkan model AMA (Advanced Measurement Approach), pemetaan tersebut bertujuan untuk :
  • Memberikan seperangkat standar definisi sehingga cost of capital bank yang berbeda dapat dihitung atas dasar like for like basis
  • Menjamin bahwa AMA telah komprehensif dan mencakup material aktivitas dan eksposure
  • Membantu pengawas (Bank Indonesia) dalam memvalidasi model internal bank dalam AMA.
Berikut pemetaan type kerugian dan bisnis unit berdasarkan Standard Approach dalam Risiko Operasional :

Kategori_

Kerangka Basel II menetapkan tiga tingkatan pendekatan untuk mendefinisikan setiap tipe peristiwa kerugian yaitu :
  • Level-1 : kategori tipe peristiwa
  • Level-2 : kategori-kategori
  • Level-3 : contoh aktivitas

Pencatatan Data


Data kerugian yang dimiliki bank harus komprehensif dimana data tersebut menjangkau seluruh aktivitas dan eksposur yang material dari seluruh subsistem dan lokasi geografis yang sesuai. Bank harus dapat memberi pembenaran bahwa setiap aktivitas atau eksposur yang dikeluarkan (tidak dicatat), baik secara individual maupun gabungan, tidak akan mempunyai dampak material terhadap keseluruhan perkiraan risiko.


Bank harus mengembangkan kriteria spesifik untuk menetapkan data kerugian yang timbul dari suatu kejadian dalam suatu fungsi yang tersentralisir (misalnya departemen teknologi informasi) atau suatu aktivitas yang melibatkan berbagai lini bisnis, maupun dari kejadiankejadian yang saling terkait dari waktu ke waktu. Beberapa hal yang juga mendapat perhatian dalam hal pencatatan adalah :
  • Bank harus memiliki batasan tingkat kerugian yang aman (de minimis) serta layak untuk data kerugian yang dikumpulkan secara internal, (misal Rp. 1.000.000,-). Batasan ini mungkin berbeda dari satu bank dengan bank lain, ataupun pada lini bisnis yang berbeda dalam satu bank, dan/atau jenis event. Tetapi, batasan tersebut secara garis besar harus konsisten dengan yang digunakan oleh kelompok peer bank.
  • Kerugian risiko operasional yang berhubungan dengan risiko kredit dan secara historis telah termasuk dalam database risiko kredit bank (misalnya kesalahan pengelolaan agunan) akan terus diperlakukan sebagai risiko kredit dalam perhitungan modal minimum. Untuk itu, kerugian tersebut tidak akan dimasukkan ke dalam beban modal risiko operasional. Tetapi, untuk tujuan manajemen risiko operasional internal, bank harus mengidentifikasikan seluruh kerugian risiko operasional material yang konsisten dengan lingkup definisi risiko operasional dan jenis loss event, termasuk yang berhubungan dengan risiko kredit. Kerugian risiko kredit yang berhubungan dengan risiko operasional tersebut harus ditandai secara terpisah dalam database risiko operasional internal bank.
  • Materialitas dari kerugian mungkin berbeda antara bank, ataupun dalam bank pada lini bisnis yang berbeda, dan/atau jenis event. Batasan materialitas harus secara garis besar konsisten dengan yang digunakan oleh bank lain yang dapat diperbandingkan (peer banks).
  • Kerugian risiko operasional yang berhubungan dengan risiko pasar diperlakukan sebagai risiko operasional dalam perhitungan modal pada Kerangka ini, dan akan dimasukkan dalam beban modal risiko operasional.

Untuk memastikan kualitas dan kecocokan data, beberapa hal yang juga perlu mendapat perhatian adalah :
  1. Identifikasi, memastikan seluruh kerugian tercapture dalam pencatatan termasuk mengidentifikasi risiko yang saling berhubungan (boundary event)
  2. Akurasi dari penggunaan data internal dalam model prediktif, tidak ada kepastian bahwa kerugian operasional yang dialami oleh bank akan memberikan indikasi dimasa yang akan datang.
  3. Updating data, kerugian yang diakibatkan oleh peristiwa risiko operasional dapat diturunkan (atau secara actual meningkat). Beberapa kerugian dapat dikembalikan al. Pembayaran asuransi, recovery akibat fraud atau pembayaran sebagai akibat aksi-kasi legal). Sehingga data kerugian internal harus secara reguler dikinikan.
  4. Near Miss, bisa menghasilkan laba atau tidak menimbulkan dampak kerugian apapun, sehingga perlu bagi bank untuk memperkirakan potensi kerugian dari kejadian near miss untuk dicatat dalam database kerugian.
  5. Inflasi, data kerugian historis perlu untuk disesuaikan untuk memperhitungkan inflasi dan perubahan-perubahan lainnya.
  6. Kualitas data, beberapa sistem berdasarkan data yang diinput sangat bergantung kepada kualitas datanya.
  7. Peristiwa ekstrem, adalah tidak cukup memadai menggunakan data internal untuk memprediksi kejadian ekstrem, sehingga bank perlu melengkapi data internal dengan data eksternal dan analisa skenario.

Data Eksternal & Analisis Skenario

Sistem pengukuran risiko operasional bank harus menggunakan data eksternal yang relevan (baik data publik dan/atau data industri yang terkelompok), khususnya apabila bank memiliki eksposur yang jarang terjadi namun berpotensi menimbulkan kerugian yang sangat besar. Data eksternal ini harus mencakup data jumlah kerugian aktual, informasi skala operasi usaha ketika peristiwa terjadi, informasi penyebab dan keadaan peristiwa loss event, atau informasi lain yang akan menolong menilai relevansi dari loss event untuk bank lain.
Selain menggunakan data kerugian, baik aktual maupun berdasarkan skenario, metodologi penilaian risiko menyeluruh bank harus mencakup lingkungan usaha utama dan faktor pengendalian internal yang dapat mengubah profil risiko operasional. Faktor-faktor ini akan membuat penilaian risiko bank lebih ‘berorientasi ke depan’ (forward looking), langsung mencerminkan kualitas pengendalian bank dan lingkungan operasional, membantu menyelaraskan penilaian modal dengan tujuan manajemen risiko dan mengakui baik peningkatan maupun penurunan profil risiko operasional secara lebih cepat.

Konten Data Kerugian

Kerangka Basel II memperkenankan bank untuk menetapkan ambang batas minimum dimana kerugian tidak dicatat lagi. Hal ini untuk meminimumkan biaya overheads dan mencegah bank mengumpulkan data dalam jumlah yang terlalu besar dari peristiwa High Frequency / Low Impact.

Ambang batas (threshold) ini dapat berbeda untuk setiap bank namun harus konsisten dengan peer group bank sekelasnya. Bank juga harus dapat menyesuaikan aktivitas dan eksposur yang dikeluarkan yang telah memberikan dampak yang besar terhadap estimasi risiko bank secara keseluruhan.

Data kerugian internal menjadi sangat relevan jika data tersebut secara jelas terhubung dengan aktivitas bisnis, proses teknologi dan prosedur manajemen risiko, yang dimiliki bank. Untuk itu, bank harus mempunyai prosedur yang didokumentasi untuk menilai relevansi yang berkelanjutan dari data kerugian historis. Diantara prosedur tersebut termasuk situasi di mana judgement lebih diutamakan dan skala atau penyesuaian lain dapat digunakan serta dalam kondisi bagaimana hal tersebut dapat dilakukan dan siapa yang mempunyai otorisasi untuk membuat keputusan tersebut.

Berikut beberapa contoh konten data kerugian  :
  1. Memuat informasi yang mencakup :
    • Unit kerja yang terkespos
    • Nama event risiko
    • Deskripsi singkat event risiko
    • Jenis Risiko (Tier 1 hingga Tier 3)
    • Nama produk / jasa / aktivitas yang terekspos
    • Pihak yang terlibat (pegawai dan atau ekstern)
    • Estimasi kerugian (financial dan atau non financial) mencakup direct maupun indirect al. estimasi / adjustment atas opportunity cost dan atau overhead cost .
    • Penyebab event risiko (kegagalan pengendalian yang menyebabkan terjadinya risiko)
    • Tanggal event risiko
    • Sumber informasi event risiko
    • Tanggal tereksposnya event risiko
    • Tindakan korektif manajemen (jangka pendek dan jangka panjang).
    • Tanggal pelaksanaan tindakan korektif.
    • Jumlah & jenis recovery yang diperoleh dan atau diperkirakan akan diperoleh
    • Klasifikasi Kejadian menurut Basel II (Level 1 s.d. level 3)
    • Klasifikasi lini bisnis menurut Basel II (Level 1 s.d. level 3)
    • Review dan validasi dari pejabat bank.
  2. Memuat kewajiban untuk pelaksanaan evaluasi khususnya terhadap event yang signifikan atau berdampak besar. Cakupan hasil evaluasi minimal mencakup :
    • Mengapa kegagalan terjadi 
    • Dimana kemacetan manajemen terjadi
    •  Pengendalian apa yang sudah ada dan mengapa pengendalian tersebut gagal. 
    • Bagaimana agar peristiwa tersebut dapat dihindari dikemudian hari
    • Langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi dampaknya

  3. Penggunaan Rekening rupa-rupa kerugian – keuntungan, guna mencatat kerugian / profit termasuk pencatatan atas recovery yang dilakukan.



Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

What is the biggest concern of operational risk in bank nowaday?

Apa perhatian terbesar terhadap risiko operasional bank pada hari-hari ini? Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita ulas kemba...