Aug 28, 2012

PRINSIP - PRINSIP PENGENDALIAN RISIKO KREDIT

 
 
Terbinanya Kepedulian Terhadap Risiko Kredit

Pengendalian risiko kredit memerlukan komitmen semua pihak dari level manajemen tertinggi hingga credit officer maupun staff operasional yang berada pada jajaran terdepan di kantor cabang/ kantor cabang pembantu. Pengendalian risiko kredit akan optimal apabila ada kesamaan bahasa dan ditujukan untuk melindungi kepentingan bank.

Direksi melalui unit pengendalian risiko harus memastikan bahwa seluruh kebijakan dan strategi pengendalian risiko yang ditetapkan telah merefleksikan tingkat risiko yang dapat diterima (risk tolerance/ risk appetite) dan secara berkala dilakukan review.

Secara khusus unit pengendalian risiko kredit  bertanggung jawab terhadap implementasi strategi pengendalian risiko kredit, pengembangan credit risk tools, perumusan kebijakan dan prosedur credit risk bagi level individual debitur maupun pada level portfolio.

 Proses Kredit berdasarkan proses yang sehat

Prosedur rangkaian proses permohonan kredit harus mematuhi ketentuan manajemen perkreditan yang berlaku dan diperlakukan sama. Hal tersebut berlaku untuk debitur lama maupun debitur baru. Rangkaian proses sejak analisa, persetujuan, pemantauan maupun penyelamatan harus tercantum dalam Sistem dan Prosedur Perkreditan Bank.

Seluruh loan / credit officer harus  berusaha mematuhi dan diupayakan untuk tidak memberlakukan pengecualian (exception) atas ketentuan yang ditetapkan. Dalam hal terjadi pengecualian, maka harus ditentukan jenis pengecualiannya batas waktu maksimal pengecualian tersebut diberlakukan dan harus dilakukan pemantauan serta pelaporan secara khusus (exception report).

Sistem dan Prosedur Perkreditan Bank harus secara terus menerus dilakukan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan bisnis, perubahan regulasi BI atau hal lain yang dianggap perlu seperti perubahan organisasi, pengembangan produk, perubahan tools perkreditan baru dan lain-lain.

Penataan Yang Memadai Atas Aspek Administrasi, Hasil Pengukuran Dan Proses Pemantauan.

Bank harus memiliki sistem administrasi yang memadai yang memastikan bahwa seluruh dokumentasi kredit dan proses administrasi yang menyertainya tersimpan dengan baik sesuai ketentuan batas waktu penyimpanan dokumen yang ditetapkan. Hal ini menjadi penting, untuk memastikan bahwa bank memiliki pencatatan dan bukti apabila dikemudian hari terjadi permasalahan hukum (credit-based law enforcement)
Hasil pengukuran atas risiko kredit yang timbul dan atau yang akan timbul harus dilakukan pencadangan dan diharuskan untuk memperhitungkan dampaknya terhadap kemampuan modal bank. Bank harus mengembangkan sistem informasi risiko kredit sebagai bagian dari pengembangan Information Technology (IT) secara  keseluruhan. Dukungan IT diperlukan agar proses pemantauan risiko kredit dapat dilakukan dengan lebih cepat sehingga dapat meminimalisir potensi kerugian yang lebih besar.

Memastikan pengendalian yang memadai terhadap risiko kredit

Sistem pengendalian risiko kredit bank harus independen, dilakukan dengan perhitungan dan analisa yang memadai, fair dan dapat dipertanggung jawabkan. Bank harus memastikan bahwa seluruh exposure telah dikelola dengan baik, konsisten dengan standar dan prosedur yang ditetapkan serta dalam batasan tingkat risiko yang dapat diterima (acceptable risk)

Bank juga harus memiliki sistem yang memadai guna mengambil langkah penting terhadap memburuknya kualitas pinjaman individu debitur dan penanganan terhadap pinjaman bermasalah. Hal-hal tersebut hendaknya diatur khusus dalam Sistem dan Prosedur Perkreditan Bank.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

No comments:

Post a Comment

What is the biggest concern of operational risk in bank nowaday?

Apa perhatian terbesar terhadap risiko operasional bank pada hari-hari ini? Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita ulas kemba...