Jul 11, 2012

PERKEMBANGAN REGULASI MANAJEMEN RISIKO DI INDONESIA



BASEL COMMITTEE

Pada tahun 1975 para Gubernur Bank sentral Negara – Negara  yang tergabung dalam Group of Ten (G10) membentuk  The Basel Committee on Banking Supervision, yang popular disebut sebagai the Basel Committee. Komite Basel beranggotakan wakil-wakil senior dari otoritas pengawasan dan bank-bank sentral dari Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Luxemburg, Belanda, Swedia, Switzerland, Inggris dan Amerika Serikat dan secara permanen bertemu di the Bank for International Settlements (BIS) di Basel, Swiss (Sekretariat permanen).

Komite inilah yang secara kontinyu mengembangkan sistem dan pendekatan pengawasan bank untuk diterapkan secara internasional.

BASEL I

Untuk pertama kalinya pada tahun 1988, The Basel Committee on Banking Supervision menawarkan suatu metodologi standar perhitungan jumlah modal berbasis risiko dengan menerbitkan Capital Accord I yang dikenal dengan Basel I dan mencakup hanya risiko kredit.

Sasaran Basel Committee menciptakan Basel I Accord adalah :
  • Memperkuat kesehatan dan stabilitas system perbankan internasional
  • Menciptakan kerangka kerja yan seimbang untuk mengukur kecukupan dari bank yang aktif secara internasional
  • Menerapkan kerangka kerja tersebut secara konsisten demi mengurangi ketidaksetaraan kompetisi antar bank yang aktif secara internasional.
Jumlah persyaratan modal dalam Basel I dihitung berdasarkan perkalian aktiva neraca dengan bobot risiko tertentu yang disebut dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) / Risk Weight Asset (RWA).  Bobot risiko ini didasarkan pada risiko kredit relative dari masing-masing kelas aktiva.

Untuk menghitung ATMR, setiap instrument kontrak (seperti pinjaman) dikelompokkan menjadi 5 (lima) kategori berdasarkan kualitas kredit debitur selama jangka waktu kontraknya, sebagaimana table di bawah ini :

Kelas Aktiva Bobot Risiko %
Kas
0
Pemerintah pusat OECD** dan domestic
0
Pemerintah OECD
0
Pemerintah daerah dan sektor public OECD dan domestik
0 – 50
Interbank (OECD) dan bank pembangunan internasional
20
Bank non-OECD < 1 tahun
20
Pinjaman mortgage (kredit perumahan)
50
Kredit perorangan tanpa angunan dan kredit korporasi
100
Bank non OECD > 1 tahun
100
Pemerintah non OECD
100
*The Organization for Economic Co-operasio adan Development (OECD) adalah kelompok 30 negera yang secara bersama-sama berkomitmen terhadap pemerintahan yang demokratis dan ekonomi pasar.

Penjumlahan dari hasil pembobotan risiko sebagaimana table di atas kemudian dikalikan dengan target rasio modal (target capital ratio) yang ditetapkan minimum 8% dengan rumus :

Modal Yang diperhitungkan
---------------------------------   x 100 = rasio (min 8%)
             ATMR

Contoh perhitungan persyaratan modal berdasarkan Basel I :
Berdasarkan table di atas, jika sebuah bank memberikan kredit kepada suatu korporasi sebesar Rp. 100 juta, maka jumlah modal yang harus disiapkan adalah sebesar :  Rp. 8 juta (Rp. 100 juta x 100% (bobot risiko) x 8% (target rasio modal)).

Dengan kata lain adalah bahwa setiap kelipatan Rp. 1,- dari modal sebuah bank, maksimum mengcover Rp. 12,5 risiko (dimana 12.5 merupakan persamaan dari target capital ratio 100/8).


Market Risk Amendment

Belum memadainya sentivitas risiko dalam Basel I, yang hanya mengenakan bobot risiko berdasarkan kelas aktiva (kelompok debitur) dan tanpa memperhatikan kualitas masing-masing debitur, merupakan hal yang fundamental dan menjadi fokus penyempurnaan oleh Basel Committee. Penyempurnaan ini ditindaklanjuti dengan penerbitan Amendment to the Capital Accord to Incorporate Market Risk yang dikenal dengan Market Risk Amendmen pada Januari 1996.

Market Risk Amendment hanya mencakup risiko pasar dan dikembangkan berdasarkan pendekatan ‘twin-track’ yaitu pendekatan yang tidak hanya mengevaluasi ketepatan penggunaan model kuantitatif, namun juga mengevaluasi kualitas proses yang mendukung penerapan model tersebut.

Model kuantitatif yang diperkenankan oleh Basel Committee disebut dengan model Value at Risk  (VaR) yang merupakan perkiraan kemungkinan jumlah kerugian maksimum akibat risiko pasar milik bank dalam periode tertentu dan dengan tingkat kepercayaan (confident level) tertentu.

Pendekatan ini merupakan masukan dari bank dan para pelaku pasar yang terlebih dahulu telah menerapkannya secara internal untuk pengukuran risiko pasar. Dalam periode yang sama, bahkan banyak bank telah mengubah proses kredit internalnya menggunakan model risiko kuantitatif yang memiliki kemiripan dengan teknik VaR risiko pasar.

BASEL II

Bekerjasama dengan bank-bank besar dari Negara-negara anggota, Basel Committee mulai mengembangkan Capital Accord yang baru dan mencakup seluruh risiko yang ada di perbankan di dalam kerangka kerja kecukupan modal yang komprehensif yang dikenal dengan Basel II. Basel II memiliki tiga tingkat pendekatan yang lebih canggih untuk menghitung risiko dimulai dari pendekatan standar yang  sederhana hingga pendekatan internal model  yang lebih canggih.  

Selain menghubungkan langsung modal dengan risiko, Basel II juga memperluas kategori risiko dengan menambahkan risiko operasional dan menyediakan ruang untuk risiko-risiko lain dalam perhitungan modal berbasis risiko (selain dari risiko kredit & risiko pasar).

Tujuan Basel II adalah menyusun modal minimum sesuai ketentuan yang lebih sesuai dengan profil risiko setiap bank. Tujuan tersebut diwujudkan dalam kerangka kerja Basel II yang terdiri dari tiga pilar regulasi, yaitu :

Pilar 1 : Persyaratan modal minimum yang merupakan pengembangan dan perluasan dari Basel I

Pilar 2 : Supervisory review atas kecukupan modal dan proses penilaian internal bank

Pilar 3 : Market Discipline - penggunaan disiplin pasar untuk mendorong pengungkapan (disclosure) dan mendorong praktek yang aman dan sehat.

Basel I memfokuskan Pilar 1 pada risiko kredit dan risiko operasional serta memasukkan Market Risk Amendment 1996 secara utuh. Selain itu, beberapa risiko lain yaitu risiko bisnis, risiko strategis dan risiko reputasi juga dicakup dalam Pilar 2 dan Pilar 3.  

Dalam Basel II, selain pembedaaan kualitas debitur ditetapkan secara lebih variasi,  jangka waktu kredit dan kualitas jaminan yang diberikan juga ditetapkan pembedaannya. Terlepas bahwa Basel II mengalami perubahan signifikan, persyaratan kecukupan modal dalam Basel II tidak mengalami perubahan sebagaimana Basel I yaitu sebesar 8%.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

What is the biggest concern of operational risk in bank nowaday?

Apa perhatian terbesar terhadap risiko operasional bank pada hari-hari ini? Sebelum menjawab pertanyaan diatas, mari kita ulas kemba...