Jul 9, 2012

LATAR BELAKANG REGULASI MANAJEMEN RISIKO BANK



Risiko didefinisikan sebagai peluang terjadinya hasil yang buruk (bad outcome).  Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/2003 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, risiko adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan kerugian Bank;
Dua hal penting dari definisi tersebut adalah :
  • Peristiwa / kejadian risiko (risk event), yaitu peristiwa yang menyebabkan potensi kerugian (outcome yang buruk).
  • Risiko kerugian, yaitu konsekwensi yang timbul (langsung maupun tidak langsung) dari peristiwa / kejadian risiko.
Industri bank adalah industri yang sangat berbeda dengan industri yang lain.  Dalam industri pesawat terbang (antara lain), regulasi hanya berfokus kepada apakah produk yang dihasilkan telah memenuhi standar keselamatan yang telah ditetapkan.  Di industri perbankan, selain produk,  lembaga perbankan pun diregulasi sedemikian ketat.

Regulasi yang ketat dalam industry perbankan, sangat dibutuhkan mengingat adanya risiko yang melekat (inherent risk) pada sistem perbankan, terkait karena bank sebuah produk yang digunakan oleh semua nasabah yaitu uang.

Jika sebuah bank tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar simpanan deposan yang ingin menarik dananya, pada gilirannya akan semakin memperbesar kekhawatiran akan stabilitas sebuah bank. Hal ini dapat mengakibatkan semakin banyak deposan lain yang berusaha menarik simpanan mereka walaupun issue tersebut belum tentu betul (hanya persepsi semata).

Karenanya kegagalan sebuah bank (sebagian atau seluruh) dapat menimbulkan dampak yang menghancurkan perekonomian  secara menyeluruh yang disebut dengan risiko sistemik. Risiko sistemik yang terjadi tentunya tidak hanya berdampak pegawai, nasabah, pemegang saham & perekonomian suatu negara, namun dapat pula berdampak kepada perekonomian global.

Berikut diilustrasikan neraca sebuah bank :









  •  A.AKTIVA (ASSET)



    • Kas                                       : Rp.        100,-                    
    • Kredit kpd bank lain              : Rp.     3.000,-
    • Kredit                                    : Rp.     6.900,-   
              Total Aktiva                         : Rp.  10.000,-







  • B. PASSIVA (LIABILITY)

    • Simpanan Nasabah                : Rp.     8.200,-
    • Kredit dr Bank Lain               : Rp.     1.000,-
    • Modal                                    : Rp.        800,-    
             Total Passiva                        : Rp.  10.000,-

    Dari ilustrasi di atas terlihat bahwa modal bank sangatlah kecil, sehingga apabila banyak nasabah yang berusaha menarik simpanannya pada saat bersamaan secara besar-besaran (bank rush), akan menyebabkan bank tidak mampu melanjutkan bisnisnya karena simpanan nasabah sebagian besar telah diinvestasikan dalam bentuk kredit yang memiliki durasi waktu untuk di likuidasi (dicairkan). Kondisi (bank rush) ini pada akhirnya dapat berimbas kepada seluruh system perbankan.

    Sebelum tahun 1930-an, permasalahan solvabilitas dan bank rush cukup sering terjadi dan mendorong pemerintah untuk mengendalikan bank melalui regulasi yang ketat guna memastikan bank memiliki modal dan likuiditas yang cukup.  Pemerintah melalui otoritas pengawas perbankan (biasanya bank sentral), berupaya untuk memastikan bahwa bank dapat memenuhi permintaan deposan pada tingkat yang wajar untuk menarik dananya, serta mempertahankan tingkat kerugian yang wajar akibat kredit macet dan atau ketika terjadi resesi / penurunan kegiatan ekonomi.

    Namun demikian, pada awalnya terdapat ‘missing link’, dimana regulasi permodalan bank hanya dikaitkan dengan prosentase tertentu berdasarkan jenis kredit dan hubungan antara risiko dan modal belum cukup memadai. Bila sebuah bank memberikan kredit kepada pemerintah, maka bobot risikonya dihitung ‘nol’ tanpa melihat bagaimana kemampuan membayar dari pemerintah / Negara tersebut. Apabila dua buah bank memberikan kredit kepada debitur perusahaan, maka bobot risiko kedua debitur tersebut adalah juga sama di kedua bank.

    Seyogyanya pembebanan margin kepada seseorang debitur adalah berdasarkan tingkat risiko yang dihadapi bank atas debitur tersebut (risk & return trade-off), dengan kata lain bahwa semakin tinggi risiko yang dihadapi bank atas debitur tertentu harusnya diimbangi dengan pemberian margin yang tinggi pula.

    Contoh di atas menunjukkan keterkaitan antara modal dan risiko. Semakin besar risiko yang dihadapi, semakin besar pula modal yang dibutuhkan sebuah bank. Atas dasar ini otoritas pengawas mewajibkan bank untuk memiliki modal yang cukup untuk menyerap risiko yang dihadapi, dalam hal ini tingkat modal suatu bank harus didasarkan pada tingkat risiko modal (risk based capital / modal berbasis risiko). Regulasi ini dikenal dengan Capital Adequacy Ratio / CAR atau kecukupan modal minimum atau Kecukupan Pemenuhan Modal Minimum (KPMM).

    Mari Berteman ^^
    David Iskandar | Create Your Badge