Materi Paling Banyak Dilihat

Posted by : David October 22, 2012


Sangat sering saya membaca keluhan di surat-surat pembaca dari para debitur kredit pemilikan rumah (KPR) bank tentang bunga mengambang yang tidak fair bahkan tidak sedikit saya temui rekan saya yang mengeluh tentang KPR. Salah satu keluhannya adalah bunga kredit sebesar 14 persen pertahun yang dijanjikan bank dan akan disesuaikan dengan bunga pasar ternyata tidak pernah diturunkan sejak awal perjanjian kredit 2–3 tahun lalu hingga saat ini. Pada saat yang sama suku bunga Bank Indonesia (BI) yang menjadi acuan bunga pasar sudah turun lebih dari tiga persen selama beberapa tahun terakhir.

Demikian juga untuk suku bunga KPR baru. Sementara, suku bunga deposito merosot hingga di bawah tujuh persen. Dengan selisih bunga pinjaman dan simpanan atau net interest margin (NIM) sebesar tujuh persen ini, Indonesia menjadi negara dengan spread terbesar di dunia. Laporan Bank Dunia mengonfirmasi fakta ini bahwa NIM perbankan kita adalah sekira enam persen.

Bahkan,ada sebuah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menikmati spread hingga sembilan persen lebih dan laba bersih Rp11,5 triliun tahun lalu.Dengan margin sebesar ini, tidak ada yang membanggakan ketika kita membaca perbankan kita mencetak laba Rp23,94 triliun dalam empat bulan pertama tahun ini.

Laba yang jika disetahunkan menjadi Rp71,8 triliun ini naik dari Rp30,6 triliun pada 2008, Rp45,2 triliun tahun 2009, dan Rp60,8 triliun tahun lalu. Ironisnya, laba sebesar ini diperoleh dengan hanya menyalurkan sekira 78 persen dari dana pihak ketiga sebagai kredit.

Ini menunjukkan bank di Indonesia sejatinya masih belum optimal dalam menjalankan perannya sebagai perantara mereka yang kelebihan uang dengan pihak yang kekurangan uang untuk membiayai investasinya.

Bank Memegang Opsi

Sangat disayangkan jika para debitur bank tidak menyadari kenyataan bahwa suku bunga KPR itu sulit turun, walaupun dikatakan mengambang dan dijanjikan akan dievaluasi secara periodik. Dalam terminologi opsi, debitur tanpa dipahaminya sudah bertindak sebagai penjual opsi dan bank sebagai pemegangnya.

Karena itu, seperti harga barang dan jasa serta gaji karyawan, ketentuan bunga mengambang ini hanya mengenal kata "naik" agar selalu menguntungkan bank. Ini dapat terjadi karena banklah yang akan menentukan naik-turunnya bunga kredit ini. Nasabah tidak akan pernah diajak berdialog soal ini.

Tidak ada bank yang bersedia labanya turun. Manajemen dan karyawan bank pun tidak ingin bonusnya berkurang. Investor pemilik saham perbankan juga sama, selalu menginginkan laba bersih bank naik terus. Jika ditanyakan alasan bunga KPR yang tidak diturunkan, bank akan siap dengan banyak alasan sana-sini seperti belum ada instruksi dari pusat atau belum diputuskan direksi.

Bank tidak akan berani menggunakan alasan masih tingginya biaya dana atau masih besarnya risiko kredit macet di bank itu. NIM sekira enam persen ini sejujurnya sangat memberatkan debitur sekaligus kurang menguntungkan deposan. Lebarnya spread juga menunjukkan kurang efisiennya perbankan di Indonesia.

Kita tidak pernah bermimpi NIM perbankan kita dapat seperti Jepang yang hanya sekira satu persen, tetapi angka 3–4 persen seperti negara-negara tetangga di Asia Tenggara mestinya cukup realistis. Dengan 82 juta rekening dan dana sebesar Rp2,4 kuadriliun di perbankan, Indonesia adalah negara dengan sistem keuangan berbasis bank (bankbased).

Fair jika Ada Acuan Pasti

Harus diakui telah terjadi kegagalan pasar di industri perbankan kita. Karenanya, sudah saatnya pemerintah melalui BI membatasi NIM bank-bank di Indonesia,seperti pembatasan bunga simpanan bank untuk dapat ikut program penjaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Alternatif lainnya, jika bank ingin dikatakan fair,bunga mengambang mestinya dinyatakan secara eksplisit dalam perjanjian kredit sebesar bunga deposito enam bulan plus tiga persen atau bunga BI plus empat persen. Inilah konsep bunga mengambang untuk obligasi pemerintah dengan kode VR. Jika solusi ditanyakan kepada para bankir, sangat wajar mereka akan menentang usulan pembatasan NIM ini dan mengusulkan solusi lain.

Untuk kesejahteraan jutaan masyarakat kita, saya sangat setuju pembatasan NIM atau pernyataan eksplisit bunga mengambang. Tidak adanya ketegasan pemerintah soal ini hanya akan memperbesar laba bank dan pundi para pejabatnya dengan bonus yang dikucurkan untuk mereka mencapai belasan hingga puluhan miliar rupiah setiap tahunnya.

Tips dari saya,hindari KPR dengan bunga mengambang dari bank konvensional. Beralihlah ke KPR dari bank syariah dengan bunga tetap yang lebih fair. Jika Anda sudah terlanjur mengambil KPR dengan bunga mengambang yang tidak turun-turun, lakukan refinancing KPR Anda.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 BELAJAR PERBANKAN GRATIS - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Redesigned By David Iskandar