Materi Paling Banyak Dilihat

EL NINO mengundang NPL?

By : D.I

Saya terinspirasi membuat postingan ini saat sedang menonton tv dan terdapat running text yg menginformasikan bahwa  musim kemarau akan lebih panjang akibat fenomena el nino.

Memang bisa dirasakan musim kemarau kali ini lebih panjang dari biasanya, setidaknya musim penghujan baru akan datang awal november nanti (http://m.okezone.com/read/2015/07/30/337/1187947/bmkg-kekeringan-di-indonesia-dampak-el-nino).

Tentu sektor yang paling merasakan dampak kekeringan ini adalah sektor pertanian, kekeringan dahsyat yg melanda selama ini menyebabkan petani di berbagai daerah gagal panen. Sederhananya saja, maka schedule pengembalian terhadap kredit yg disalurkan ke sektor ini kemungkinan besar akan terganggu dan berpotensi berdampak pada menurunnya kualitas kredit (menurunnya kolektibilitas). 

Lebih jauh lagi, industri kecil-menengah seperti restoran bisa saja ikut merasakan dampak karena terganggunya supply bahan baku, jika bahan baku langka maka harga bahan baku tersebut akan naik, lalu otomatis harga2 makanan yg dijual oleh restoran juga akan meningkat. Jika daya beli konsumen masih bisa menjangkaunya tentu hal tsb tidak memiliki dampak yg signifikan. Masalah baru timbul jika daya beli masyarakat ikut menurun sehingga tidak dapat menjangkau harga2 makanan yg ditawarkan, jika dibiarkan, tentu restoran2 akan mengalami penurunan omset yg dapat berujung pada penurunan laba (atau dalam kondisi yg ekatrim bisa saja merugi), selanjutnya tentu kredit yg disalurkan kepada industri kecil-menegah khususnya restoran juga berpotensi meningkatkan NPL.

Pesan yg ingin saya sampaikan dari iluatrasi diatas adalah : 

Tidak dapat dipungkiri terdapat berbagai macam portofolio kredit yg dimiliki suatu bank (tujuan ini juga bermaksud untuk menyebar risiko). Dalam rangka menerapkan manajemen risiko dan menjalankan prinsip kehati-hatian bank, maka bank perlu mempertimbangkan segala macam aspek, tidak terkecuali yg berasal dari eksternal bank (unexpected) seperti kebijakan dalam negeri, bencana alam, kondisi persaingan di setiap sektor industri, dll. Dengan bersikap pro aktif setidaknya bank dapat menentukan langkah2 antisipasi yg nantinya dapat memitigasi dampak risiko yg mungkin terjadi. 

So, benar kata dosen saya dulu (trims pak Ian Jacob), bankir itu dituntut memiliki kapasitas dan kompetensi dalam menjalankan profesinya serta harus memiliki hati nurani (etika) seorang bankir. 





LIKUIDITAS VS OMSET

By : D.I

Saya teringat ajaran dosen saya pada saat berkuliah di Akademi perbankan Yayasan UKI, saat itu sy sedang membahas pelajaran ALMA. Dosen saya menganalogikan bahwa antara likuiditas dan profitabilitas memiliki tujuan yg berbeda ibarat buah simalakama. Jadi mudahnya saja, boleh2 saja bank melakukan ekspansi kredit yg gencar untuk meningkatkan ptofitabilitas seoptimal mungkin (agresif), namun tentu kemampuan likuiditas bank akan berkurang. Sebaliknya, jika bank lebih konservatif untuk menjaga kemampuan likuiditasnya, namun tentu dana ekspansi untuk kredit (yg notabene nya merupakan   Pendapatan bank terbesar didapat dari bunga kredit) jadi tidak bisa terlalu gencar digelontorkan.

Seperti photo diatas, mr Pontell berpendapat bahwa semakin besar likuiditas, makin besar kemungkinan akan disalahgunakan. Membaca kalimat tersebut, memang benar demikian adanya, saya pribadi pun sering melihat hal serupa dilapangan. Sekedar ingin memberikan pendapat terhadap pendapat Pontell diatas, kata "disalahgunakan" identik dengan perbuatan yg "disengaja". Namun penyalahgunaan kelebihan likuiditas (dengan semangat untuk mengurangi iddle money) bisa saja bukan sebuah kesengajaan. Target untuk mencapai profitibilitas ditambah dengan kondisi  kelebihan likuiditas, dapat mengakibatkan toleransi bank dalam menyalurkan kredit menjadi lebih longgar,  sehingga tidak dilakukan cukup screening terhadap pencairan kredit. Tentu dari penjabaran diatas setidaknya secara sederhana, saya dapat menarik beberapa kesimpulan : 

1. Likuiditas merupakan suatu hal yg sangat penting dalam kegiatan usaha perbankan dan harus dijaga secukup-cukupnya oleh bank.

2. Pangkal dari masalah yg telah diuraikan diatas adalah "kelebihan likuiditas". Sekiranya apabila pengelolaan ALMA sudah di maintenance dengan baik, dan mempelajari historis  karakteristik/ volatilitas portofolio dpk yg dimilikinya, maka kejadian kelebihan likuiditas dapat ditekan seminimal mungkin.


Sekian.



SELAMAT IDUL FITRI

By : D.I
BPG dengan ketulusan hati mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, selamat hari raya Idul Fitri.

Semoga kerukunan, kedamaian, kasih dan toleransi antar sesama dapat selalu tumbuh pada setiap hati nurani.


TIPE2 CADEB

By : D.I



Hore libur telah tiba, dan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri :) mohon maaf lahir dan batin.

Postingan ini saya buat saat akan makan malam disebuah warung, setelah selesai memesan makanan, sy mengamati orang2 yg dilayani di warung ini, bermacam2 tipenya, ada yg sopan, ada yg galau,  dan ada yg tidak sabaran. Serentak sy langsung teringat bahwa dalam kegiatan usaha bank, setiap harinya selalu berhubungan dengan nasabah / counterparty yg berbeda2 pula. Kalau saya lebih sering berhubungan dengan calon debitur maupun debitur, oleh karena itu saya ingin memposting macam-macan tipe karakter calon debitur versi BPG :


1. cadeb perfectionis
Bukan hanya staff bank saja yg umumnya bersifat perfectionis, cadeb pun demikian, tipe ini selalu memperhatikan kelengkapan dokumen sbg pengajuan kreditnya, contoh sederhana saja, misalnya kita minta dokumen a, diberikan dokumen a,b.c| tidak jarang saya nemuin yg kaya begini.

2. Cadeb Sok Akrab
Cadeb ini sangat ramah, bahkan saking ramahnya sampai seolah-olah sudah kenal akrab, tipe ini tidak hanya terpaku sampai to the point pengajuan kreditnya saja, tipe ini bisa tiba2 peduli dengan kesehatan, keluarga dan hal2 lainnya  terhadap staff bank.


3. Cadeb Kaku
Tipe ini sangat kaku, mencoba menjaga jarak, sangat to the point, jika anda tidak bertanya dia tidak akan menjelaslan lebih lanjut.

4. Cadeb Teliti
Tipe ini biasanya paling tidak disukai oleh setiap staff bank, tipe ini sangat teliti dan selalu menganalisa dengan kritis setiap keterangan yg diberikan oleh staff bank, bahkan sampai sangat mendetil.


5. Cadeb gak sabaran
Tipe ini selalu memburu staff bank apabila kreditnya belum dicairkan, pengalaman saya dengan tipe ini pernah sampai sehari ditelp lebih dari 5kali, durasi pertelfonnya 15-30 menit. x.x



6. Cadeb sok Akademis
Menghadapi tipe ini seperti berbicara dengan dosen dikelas, semua harus ada dasar akademisinya.. Contoh saya pernah mengatakan bahwa trend suku bunga cenderung naik, yg ditanyakan malah apa penyebabnya, apa dampaknya, bagaimana mengatasinya, blaaa blaaa blaaa... Untung sy dulu jarang bolos waktu mata kuliah ekonomi hihihihi


7. Cadeb santai / gaul
Tipe ini yg paling saya suka, selain biasanya tipe ini bersifat "yes men" artinya mangut2 aja, juga gak bawel dan cenderung koperatif. tp kita harus lebih jeli menghadapi yg seperti ini, jangan sampai sikapnya yg enak terhadap kita, membuat kita jadi lupa prinsip pudential banking....



8. Cadeb debat lover
Tipe selalu membantah hal2 yg kita sampaikan, wahh selalu ada saja yg didebatkan, hemm was2 kalau punya debitur kayak bgini..

9. Cadeb Galau
Meski seyogyanya seorang AO harus mampu mengukur dengan toleransi penyimpangan yg rendah terhadap kebutuhan jumlah dan  karakteristik kredit yg diajukan oleh cadeb. Namun kadangkala tipe cadeb ini sering membuat staff bank kesel juga, pengalaman saya, dalam rentang waktu 3jam permohonan kredit berubah2 jumlahnya... | lain lagi kesempatan lainnya, sudah mantap ingin mengajukan kredit, bisa2 kendor lagi, besoknya semangat lagi... | ada loh tipe cadeb seperti ini.

Semangat sekali mengetik postingam kali ini, mengingat sudah lama tidak posting ke BPG, namun apa daya perut sudah lapar terpaksa harus disudahi dulu.

Okay, makanannya sudah datang semua, saatnya makan... 

BPG quotes hari ini : 

"Pada umumnya, posisi bank terhadap debitur pada saat kredit belum dicairkan seperti raja, namun jika kredit sudah terealisasi posisi bank berubah seperti pengemis. Hanya saja mengemisnya harus tegas dan keren" :D

Thanks sudah berkunjung....

LDR menjadi LFR

By : D.I

Dalam praktek ALMA, dikenal beberapa rasio-rasio dan salah satu rasio yang paling penting adalah rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). Selain digunakan untuk mengukur seberapa optimal pengelolaan dana yang dihimpun bank kedalam sektor kredit, LDR juga digunakan sebagai alat ukur likuiditas suatu bank. Sumber dana bank pada umumnya mayoritas berasal dari dana pihak ketiga yang dihimpun bank, yang kemudian akan disalurkan kepada aktiva produktif (aktiva produktif yang paling signifikan pada umumnya adalah kredit). Jadi sederhananya, jika Rasio LDR semakin rendah maka dapat dikatakan banyak dana nganggur yang belum tersalurkan dalam bentuk kredit yang diberikan,  tetapi disisi lain bank memiliki kemampuan likuiditas yang prima. Sebaliknya, apabila LDR terlampau tinggi, maka penyaluran dana pihak ketiga terhadap kredit sangat optimal, namun kemampuan likuiditas bank mejadi kurang baik.

Kabar baik sekarang ini adalah, bahwa ketentuan LDR akan diubah oleh BI dan rencananya beleid akan mulai berjalan pada Juni 2015. LDR yang kita kenal selama ini akan digantikan dengan istilah Liquidity Funding Ratio (LFR). Dalam perhitungan LFR, definisi simpanan diperluas dan ditambahkan variabel surat-surat berharga yang diterbitkan oleh bank, jadi bank juga dapat lebih leluasa menyerap dana masyarakat dalam bentuk liabilitas surat-surat berharga. 

Saya berpendapat, langkah yang diambil BI ini adalah untuk memberikan ruang gerak lebih bagi bank dalam menyalurkan kredit, terutama untuk sektor UMKM. Hal ini tercermin dari ketentuan LFR yang diperbolehkan hingga 94%. Namun perlu diingat jika ingin mencapai LFR sampai maksimal 94%, ketentuan tersebut juga mewajibkan bank menjaga rasio NPL-nya. Rasio NPL baik secara gross maupun NPL untuk sektor UMKM tidak melebihi 5%. 

Semoga dengan adanya aturan ini bank semakin bergairah dalam menghimpun dana masyarakat dalam bentuk surat-surat berharga dan menyalurkan kredit yang berkualitas secara umumnya, lebih serius lagi memperhatikan sektor UMKM, dan motivasi untuk terus menekan rasio NPL, meski hingga memasuki semester II 2015 ini perekonomian Indonesia cenderung lesu.


Mari Berteman ^^

Tag : ,

NYAMAN INTERNET BANKING

By : D.I
Akhir akhir ini aksi penipuan atau yang lebih tepatnya adalah adalah pencurian data melalui sistem komputerisasi layanan perbankan mulai marak terdengar lagi. Kali ini adalah maraknya pencurian data dengan modus malware. 

Pada postingan kali ini saya akan berbagi pengalaman menggunakan layanan internet banking agar dapat terhindar dari malware. Sepengatahuan saya malware adalah sebuah upaya untuk mencuri data nasabah, melalui virus yang ditanam atau tertanam pada komputer usser pengguna dengan cara memodifikasi tampilan website agar serupa dengan tampilan website asli, dan usser diminta  menginput data-data pribadi yang diperlukan untuk mencuri dana pemilik. 

Mengenai teknis dan penjelasan lebih lanjut tentang malware, bukan kapasitas saya untuk menjelaskan, harus saya tanyakan dahulu ke saudara saya yang memang kompeten dalam bidang Teknologi Informatika (mungkin akan dibahas pada postingan selanjutnya). 

Kemudahan dalam bertransaksi melalui fasilitas internet banking memang sangat menolong, terutama dalam hal kemudahan, kecepatan dan kepraktisan. Namun karena sudah terlalu nyaman, kadangkala usser jadi tidak terlalu memikirkan sisi keamanan terkait ancaman (berasal dari faktor pihak lain) dalam praktek menggunakan fasilitas tersebut. Hal inilah yang dijadikan kesempatan bagi pelaku cyber crime. Karena sebenarnya, sistem keamanan yang disediakan oleh bank sudah sangat mutakhir, kelalaian pengguna / usser lah yang paling sering menyebabkan kerugian bagi usser itu sendiri.

Berikut adalah cara kerja Malware Sinkronisasi Token (dishare dari group BPR di Facebook) :

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10205028055795167&set=gm.1573127006303799&type=1&theater


 Agar terhindar dari dampak yang merugikan anda, berikut ini adalah beberapa tips yang layak disimak : 

1. Pastikan komputer anda memiliki anti virus, jika tidak yang berbayar minimal yang gratis (namun sangat disarankan yang berbayar) agar anda dapat segera menyadari jika ada virus yang hendak menyusup kedalam browser anda.

2. Sekarang eranya wifi, sebaiknya jangan membiasakan memanfaatkan fasilitas wifi untuk bertransaksi finansial. seperti di pusat perbelanjaan, cafe, restoran, kampus, dsb. Hindari juga mengakses layanan internet banking melalui komputer umum seperti yang terdapat pada warnet.

3. Jangan sembarangan mengklik tautan / link yang dikirimkan kepada anda melalui email, jika anda merasa menerima e-mail yang seharusnya anda tidak terima, segera hapus e-mail tersebut secara permanen. 

4. Perhatikan pada browser anda apakah terdapat plug-in yang tidak anda kenal, jika iya segera hapus plug-in tersebut.

5. Hindari mengakses situs-situs yang dilarang seperti situs yang berbau pronografi dan perjudian, karena disanalah lebih banyak berkumpul tautan tautan virus untuk masuk ke browser anda.

6. Jika anda sudah terbiasa / familiar menggunakan fasilitas layanan internet banking dan suatu ketika anda menyadari ada hal / langkah / proses yang tidak sebagaimana biasanya. Sebaiknya jangan ambil risiko untuk meneruskan transaksi, anda dapat mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada bank penyedia layanan. Hubungilah Customer Care Resmi bank tersebut, tanyakan dan konfirmasikan kepada bank yang bersangkutan. 

7. Pastikan anda selalu mengakses layanan internet banking dari situs resmi bank tersebut. Kenali linknya, selalu berformat https, dan ada gambar sepeti kunci gembok di link tersebut, seperti contoh dibawah ini : 

Contoh : BNI

Contoh : Bank Mandiri

Contoh : Bank BCA

8. Jangan memberitahukan Pin Internet Banking dan Pin Token anda kepada siapapun. (banyak oknum penipu yang mengatasnamakan bank untuk meminta anda memberitahukan pin, PERLU DIINGAT BANK TIDAK BERHAK MEMINTA PIN KEPADA NASABAH)

9. Setelah selesai menggunakan layanan internet banking, pastikan anda segera logout dengan benar. 

10. Bila perlu jangan mengaktifkan fitur remember password, hapus cache secara berkala, dan history browser anda. 

sekian tips yang dapat diterapkan, kuncinya adalah agar anda selalu waspada, dan memperbaiki perilaku ceroboh dalam menggunakan fasilitas internet banking. 

Selamat bertransaksi via Internet Banking. 


Mari Berteman ^^


Perdirjen Pajak 01 Ditunda?

By : D.I
Seperti pernah saya uraikan sebelumnya bahwa Dirjen Pajak telah mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Nomor PER-01/PJ/2015 tentang Penyerahan Bukti Potong Pajak atas Bunga Deposito, yang menuai berbagai macam kritik baik dari kalangan praktisi perbankan maupun dari pihak Otoritas. 


Ilustrasi
Kalangan praktisi perbankan banyak yang meragukan bahwa Perdirjen Pajak tersebut berpotensi melanggar ketentuan Rahasia Bank yang diatur dalam UU Perbankan, (untuk melihat ulasan boleh atau tidak boleh menyampaikan bukti potong Dana Pihak Ketiga secara rinci, silahkan klik disini)



Namun pada akhirnya beredar kabar yang mengatakan bahwa Perdirjen Pajak tersebut ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan (lihat berita yang dilansir Kompas

Keputusan Menteri Keuangan yang menunda aturan Perdirjen tersebut sangat direspon positif oleh para praktisi perbankan (baca berita yang dialnsir oleh kompas berikut : Ketika Bankir Bernafas Lega


Para bankir beranggapan bahwa penundaan pemberlakuan Perdirjen tersebut untuk merespon kritik yang dilayangkan para praktisi perbankan terkait kekhawatiran mereka terhadap sikap deposan (lebih tepatnya deposan inti) yang tidak nyaman menempatkan dana didalam negeri akhirnya memindahkan dana mereka ke luar negeri.



Tidak salah jika beranggapan demikian, namun menurut informasi yang saya dapatkan, Penundaan Perdirjen tersebut lebih difokuskan kepada masalah teknis yang dihadapi oleh Kantor pajak sendiri, terutama dibagian IT yang berperan vital dalam mengolah laporan laporan yang dilaporkan oleh Bank ke Kantor pajak. Bayangkan saja, berapa banyak tumpukan kertas setiap bulannya yang harus diterima oleh Kantor Pajak jika bukti potong dilaporkan secara rinci. 



Terlepas dari alasan apa yang mendasari penundaan Perdirjen tersebut, muncul satu pertanyaan lagi, seperti diketahui bersama : bahwa Peraturan Dirjen Pajak  Nomor PER-01/PJ/2015 tentang Penyerahan Bukti Potong Pajak atas Bunga Deposito. Mulai berlaku sejak 1 Maret 2015. 



Hari ini, Sabtu, tanggal 28 Pebruari 2015, besok adalah tanggal 1 Maret 2015, kita mengetahui bahwa perdirjen dimaksud sementara waktu ditunda untuk batas waktu yang tidak ditentukan, namun sepengetahuan saya, sampai saat ini belum ada Peraturan Resmi yang menyatakan bahwa perdirjen pajak tersebut ditunda. Kita mengetahui perdirjen pajak tersebut ditunda lebih banyak dari media dan diskusi forum forum praktisi perbankan. 


Untuk informasi lebih lengkap dan pertanyaan seputar pajak dapat menghubungi KRING PAJAK dinomor telepon 021-500200


Kita tunggu perkembangan selanjutnya

Happy Weekend ^^


Note, 
Info terbaru : Perdirjen 01 tsb akhirnya dibatalkan.

Mari Berteman ^^
Tag : ,

Boleh Atau Tidak

By : D.I
Belakangan ini dikalangan perbankan sempat sedikit banyak menarik perhatian mengenai peraturan baru yang dikeluarkan oleh Peraturan Dirjen Pajak No.PER-01/PJ/2015 tentang Pemotongan Pajak Deposito pada 26 Januari 2015, dimana dalam peraturan yang baru tersebut Bank diwajibkan untuk menyerahkan data bukti potongan Pajak Penghasilan (Pph) atas bunga deposito dan tabungan secara rinci. 

seperti diketahui bersama sebelumnya bank hanya melaporkan bukti pemotongan pajak bunga deposito dan tabungan secara menyuruh (grand total dari jumlah deposito dan tabungan yang dikenakan pajak), dengan berlakunya peraturan Dirjen Pajak sebagaimana dimaksud diatas, maka aparat pajak dapat mengetahui nilai simpanan nasabah, dan bisa saja membuat nasabah tidak nyaman sehingga memilih untuk menempatkan dana disektor lain diluar perbankan atau bahkan pada perbankan diluar negeri. 

Kerisauan saya dan teman teman sebagai praktisi perbankan juga senada dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berpendapat bahwa pertauran tersebut rentan untuk bersinggungan dengan ketentuan Rahasia Bank yang diatur dalam UU nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan UU nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan. 

Dalam UU tersebut telah diatur jelas bahwa data nasabah bersifat rahasia kecuali untuk kepentingan pemeriksaan, penyidikan dan bukti permulaan. 

Maka, munculah perbedaan pendapat, ada sebagian kalangan praktisi ataupun akademisi perbankan yang meyakinkan bahwa boleh boleh saja diberikan secara rinci jumlah dana pihak ketiga yang dipotong untuk pajak penghasilan namun sebagian lagi mengatakan bahwa jelas hal tersebut tidak boleh dilakukan karena melanggar ketentuan rahasia bank. | sepertinya belum pecah telur juga. 

Sampai pada akhirnya sekarang  Peraturan Dirjen Pajak tersebut diatas akhirnya ditunda untuk batas waktu yang belum ditentukan. 

Sekarang ijinkan saya menguraikan sedikit dari Perkembangan rahasia bank yang selama ini kita kenal didalam UU nomor 10 tahun 1998.

Dikesempatan kali ini saya ingin memberikan pendapat mengenai hal tersebut, tampaknya kita perlu melihat Surat Edaran OJK nomor 14/SEOJK.07/2014 tentang Kerahasiaan dan Keamanan Data dan/atau Informasi Pribadi  Konsumen 

dalam Surat Edaran tersebut diatur secara jelas pada Romawi II angka 1, disebutkan

"PUJK dilarang dengan cara apapun, memberikan data dan/atau informasi pribadi mengenai konsumennya kepada Pihak Ketiga"

namun dalam angka 2 disebutkan bahwa :  

"larangan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dikecualikan dalam hal :
 a. Konsumen memberikan persetujuan tertulis; dan/atau 
b. diwajibkan oleh Peraturan Perundang Perundangan."

jadi ada babak baru dari "Rahasia bank" kali ini, PUJK bisa meminta persetujuan tertulis kepada konsumen iagar dapat memberikan data dan nformasi Pribadi konsumen kepada pihak ketiga, dengan catatan PUJK memiliki kewajiban memastikan pihak ketiga dimaksud tidak memberikan dan/atau informasi pribadi konsumen untuk tujuan selain yang disepakati antara PUJK dengan pihak ketiga. (ketentuan mengenai data dan informasi apa saja yang dimaksud, juga dijelaskan dalam surat edaran ini).

Poin penting yang wajib diperhatikan adalah bahwa PUJK wajib menetapkan kewajiban dan prosedur tertulis mengenai penggunaan data dan/atau informasi pribadi konsumen.

Akhir kata, semoga Surat Edaran OJK ini bisa memberikan pencerahan. 



Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge
Tag : ,

UU PERBANKAN SYARIAH

By : D.I


Bagi sahabat-sahabat BPG yang belum memiliki UU nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, anda dapat mendownload melalui link berikut ini :

  • Link Source : www.4shared.com
  • Pastikan anda telah memiliki akun 4shared, anda juga dapat mendaftar menggunakan akun facebook.
  • File berukuran 218 Kb
  • Format File adalah Pdf, pastikan pada desktop dan Handphone anda telah terinstal aplikasi penampil file .Pdf seperti Adobe Reader

Semoga bermanfaat


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge
Tag : ,

- Copyright © 2013 BELAJAR PERBANKAN GRATIS - Date A Live - Powered by Blogger - Redesigned By David Iskandar