Materi Paling Banyak Dilihat

FORECAST

By : Owner

METODE SALES FORECAST (RAMALAN PENJUALAN) 

METODE TREND BEBAS


Dalam membuat tulisan ini hanya satu yang terdapa dibenak saya yaitu, bahwa tidak lepas dari kehidupan berbisnis kita sehari hari antara asumsi dan realita saling bertabrakan, sebut saja dengan pembahasan judul postingan blog saya kali ini, yaitu mengenai metode yang umum digunakan untuk meramalkan jumlah penjualan yang dapat dicapai oleh perusahaan.

Perlu diketahui dari awal bahwa sales forecast sangatlah berbeda dengan target penjualan, letak perbedaannya adalah damal melakukan sales forecast kita sepenugnya bergantung terhadap data-data historis yang dimiliki oleh perusahaan, data tersebut dapat berupa data kualitatif maupun data yang bersifat kuantitatif.

Contoh data Kualitatif :

Hasil riset internal perusahaan
pendapat para ahli dan pakar
hasil masukan dari pihak - pihak internal perusahaan yang langusung berhubungan dengan penjualan.
dan data data lain yang dapat dikategorikan sebagai data kualitatif. 

Contoh data Kuantitatif :

Volume penjualan
harga penjualan
dan data data lain yang dapat dikatedorikan sebagai data kuantitatif.

SALES FORECAST DENGAN MENGGUNAKAN METODE TREND BEBAS

Dari namanya saja kita sudah dapat menerka, bahwa dalam melakukan sales forecast dengan menggunakan metode ini sangat bergantung terhadap data-data yang dimiliki perusahaan dan faktor faktor lain yang berasal dari eksternal perusahaan.

Dengan menggunakan metode ini perusahaan bebas (dalam artian tidak terpaku untuk menggunakan data manapun) untuk meramalkan jumlah penjualan pada periode yang akan datang, hal yang sangat mudah dilakukan adalah dengan mencermati trend penjualan yang dimiliki oleh perusahaan dimasa masa yang lampau, dari trend tersebut minimal perusahaan dapat memiliki bayangan tentang volume penjualan yang akan terjadi pada periode selanjutnya, atau bila dikatakan lebih mudah, metode ini seperti metode kira kira yang diterapkan oleh manajer dalam suatu perusahaan.

selain sales forecast dengan menggunakan metode trend bebas tersebut, masih banyak metode metode lain yang sangat populer dan diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. 


METODE SALES FORECAST (RAMALAN PENJUALAN) 

METODE MOMENT



Contoh SALES FORECAST - METODE MOMENT
(DATA GENAP)

Contoh Kasus :


MAKA PERSAMAANNYA ADALAH : 




Gambar diatas merupakan PERSAMAAN METODE MOMENT 

RAMALAN JUMLAH PENJUALAN TAHUN 2013 & 2015 ADALAH :















Pada gambar diatas telah diuraikan cara untuk mencari nilai a dan b, SATU HAL YANG HARUS MENJADI PERHATIAN KHUSUS ADALAH NILAI X. 

Mengapa pada ramalan tahun 2013 Nilai x = 8 ......? 
Mengapa pada ramalan tahun 2015 Nilai x = 10 .....?

PERHATIKAN GAMBAR KEDUA,  dalam metode MOMENT, nilai x selalu dimulai dengan angka 0, dan bertambah positif sejumlah 1 secara konsisten kepada data selanjutnya.

Catatan : 
pada Metode MOMENT tidak ada perlakuan khusus bagi jumlah x untuk data Genap maupun data Ganjil. 


Contoh SALES FORECAST - METODE MOMENT
(DATA GANJIL)
























METODE SALES FORECAST (RAMALAN PENJUALAN) 

METODE LEAST SQUARE (KUADRAT TERKECIL)



Setelah saya membahas bagaimana melakukan peramalan dalam memprediksi penjualan dengan METODE MOMENT (karena dalam contoh dan pada umumnya teknik peramalan ini digunakan untuk memprediksi jumlah penjualan maka saya juga mengambil simulasi yang sama) Maka kali ini saya akan memperkenalkan metode lain yang dapat diterapkan dalam melakukan peramalan yaitu dengan menggunakan metode LEAST SQUARE (KUADRAT TERKECIL), berbeda dengan metode MOMENT yang notabene nya lebih menggunakan prinsip matematika, meski sama tapi tidak serupa metode least square lebih menekankan kepada Kuadrat Terkecil.

Sudah menjadi gaya penulisan saya, jika pengertian yang sering saya bagikan dalam blog tidaklah seindah dan sejalan dengan bahasa buku, maksud saya adalah, bagaimana pembaca bias mengerti dan langsung bias menerapkannya.

Okey tidak perlu panjang lebar lagi, kita langsung masuk ke studi kasus

Diketahui bahwa selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2012 terdapat data penjualan sebagai berikut :

Tahun (n)
Y
2005
Rp580,000
2006
Rp620,000
2007
Rp660,000
2008
Rp700,000
2009
Rp700,000
2010
Rp720,000
2011
Rp620,000
2012
Rp600,000

Lalu apa yang akankita lakukan? Yap benar sekali, sekarang kita akan meramalkan berapa jumlah penjualan ditahun yang akan dating (setelah tahun 2012) dengan menggunakan metode permalan LEAST SQUARE (Kuadrat Terkecil).

Berikut pembahasannya :

Mula mula saya akan menyajikan table sebagai berikut :

Tahun (n)
Y
X
X .Y
X2
2005
Rp580,000
-7
(Rp4,060,000)
49
2006
Rp620,000
-5
(Rp3,100,000)
25
2007
Rp660,000
-3
(Rp1,980,000)
9
2008
Rp700,000
-1
(Rp700,000)
1
2009
Rp700,000
1
Rp700,000
1
2010
Rp720,000
3
Rp2,160,000
9
2011
Rp620,000
5
Rp3,100,000
25
2012
Rp600,000
7
Rp4,200,000
49
Rp5,200,000
0
Rp320,000
168

Berikut ini saya akan membahas satu persatu tentang table diatas :

1.      LIHAT KOLOM TAHUN : diketahui dari data terdapat nilai historis selama 8 tahun (dalam artian lain data yang kita miliki saat ini merupakan data genap) Penting untuk dimengerti bahwa jumlah data (n) sangat berpengaruh terhadap permalan dengan menggunakan metode Least Square, Kita akan bahas sampai akhir dengan contoh data ganjil.

2.      LIHAT KOLOM JUMLAH PENJUALAN (Y) : totalkan semua jumlah penjualan dari masing masing tahun sehingga pada contoh kita kali ini, didapati angka Rp.5.200.000,-

3.     LIHAT KOLOM X : saya tidak akan menggunakan bahasa buku, begini tekniknya untuk menentukan kolom X, Jika data berjumlah GENAP seperti pada contoh diatas maka ditengah tengah data (dalam contoh ini berarti n ke 4 atau ditahun 2008) haruslah dituliskan -1, (naik keatas : berarti data ke 3,2,1 maka ditambahkan -2 untuk setiap datanya, berarti 2007 = -1 + (-2) = -3, 2006 = -3 + (-2) = -5, 2007 = -5 + (-2) = -7, LIHAT CONTOH DITABEL) perlakuan sama juga diterapkan kebawah, ke tahun 2009, 2010, 2011, 2012 ditambahkan kelipatan dua (dari 2008 = -1 ditambah dua maka pada tahun 2009 menjadi 1, 2010 = (1+2) = 3, 2011 (3+2) = 5, 2012 = (5+2) = 7. LALU JUMLAHKAN HASIL KOLOM X (JUMLAHNYA HARUS 0 = NOL)

4.      LIHAT KOLOM X.Y : kali ini simple saja langsung kalikan antara baris X dengan baris Y

5.      LIHAT KOLOM X(X Kuadrat) : lebih simple lagi, maksudnya kolom ini adalah hasil dari kolom X yang dikuadratkan

SELESAI MEMBUAT TABLE MAKA LANGSUNG DAPAT KITA KERJAKAN DENGAN PERSAMAAN SEBAGAI BERIKUT :

Y = a + b.x

Tentukan nilai a =
a = ∑Y
=
Rp5,200,000
=
Rp650,000
        n
8




Tentukan nilai b =
b = ∑ X . Y
=
Rp320,000
=
Rp1,904.76
        ∑ X2
168


KITA INGIN MERAMALKAN JUMLAH PENJUALAN TAHUN 2013

Y2013
=
Rp650,000
+
Rp1,904.76
x
9
=
Rp650,000
+
Rp17,142.86
=
Rp667,142.86


Untuk tahun 2013 maka nilai x-nya adalah 9 (lihat kembali penjelasan kolom x diatas)

JIKA DATA YANG TERSEDIA ADALAH DATA GANJIL

Tahun (n)
Y
X
X.Y
X2
2005
Rp580,000
-3
(Rp1,740,000)
9
2006
Rp620,000
-2
(Rp1,240,000)
4
2007
Rp660,000
-1
(Rp660,000)
1
2008
Rp700,000
0
Rp0
0
2009
Rp700,000
1
Rp700,000
1
2010
Rp720,000
2
Rp1,440,000
4
2011
Rp620,000
3
Rp1,860,000
9
0
Rp360,000
28

PERBEDAANNYA HANYA TERDAPAT PADA KOLOM X

Jika data GANJIL maka dipertengahan data yaitu pada contoh adalah data n ke 4 atau pada tahun 2008 NIlai x harus 0, naik keatas harus ditambah -1 turun dari nol kebawah harus ditambah 1 (LIHAT DAN PAHAMI CONTOH TABEL DIATAS)

PENTING SELALU DIINGAT = JUMLAH KOLOM X HARUS SELALU BERNILAI NOL




METODE SALES FORECAST (RAMALAN PENJUALAN) 

METODE SETENGAH RATA-RATA (SEMI AVERAGE)



Menurut metode ini garis lurus yang dibuat sebagai pengganti garis patah-patah yang dibentuk dari data-data historis tersebut diperoleh dengan perhitungan-perhitungan statistika dan matematika tertentu, sehingga unsur subyektifitas dapat dihilangkan

Metode trend semi average dapat digunakan untuk keperluan peramalan dengan membentuk suatu persamaan seperti analisis regresi. Metode ini dapat digunakan dengan jumlah data genap ataupun ganjil. Dalam analisis trend ini unsur subyektifitas mulai dihapuskan karena teknik peramalannya sudah menggunakan perhitungan-perhitungan

Langkah Menggunakan Metode Trend Semi Average
Berikut langkah-langkah dalam mengaplikasikan metode Trend semi Average untuk peramalan::

1. Mengelompokkan data menjadi 2 kelompok

Bila jumlah data genap langsung dibagi dua
Bila jumlah data gasal maka disesuaikan dengan salah satu cara berikut
a) Mengeleminasi data tahun paling awal atau
b) Menambah data tahun tengah

2. Menetukan  periode dasar dapat dilakukan dengan dua cara:
Tahun tengah data  kelompok I
Tahun tengah data  kelompok II

3. Menentukan angka tahun berdasarkan periode dasar

4. Menetukan nilai Semi Total yakni Jumlah total penjualan masing-masing kelompok

5. Menentukan Semi average tiap Kelompok data dengan cara Nilai Semi Total dibagi jumlah data dalam kelompok

6. Menetukan nilai a dengan cara, Bila tahun dasar menggunakan tahun tengah kelompok I maka nilai a adalah nilai Semi Average kelompok I

Bila tahun dasar menggunakan tahun tengah kelompok II, maka nilai a adalah nilai Semi Average kelompok II

7. Menetukan nilai b  Nilai b dengan cara, Bila jumlah data kelompok adalah ganjil, maka nilai b ditentukan dengan cara membagi selisih antara nilai Semi Average kelompok II dan I dengan jarak tahun antara tahun tengah kelompok I dan II,

Bila Jumlah data kelompok adalah genap maka nilai b ditentukan dengan cara
Menghitung Nilai Antara dengan membagi selisih antara nilai Semi Average kelompok II dan I dengan jumlah data dalam kelompok
Nilai b ditentukan dengan membagi Nilai Antara dengan Nilai Tahunnya (selisih antar angka tahun)

8.. Membuat fungsi Trend
9. Meramalkan Penjualan Tahun tertentu dimana nilai X ditentukan berdasarkan
     angka tahun untuk tahun yang hendak diramalkan.


CONTOH SOAL MENGGUNAKAN DATA GENAP




DIMINTA MERAMAL JUMLAH PENJUALAN TH 2013 DAN 2015
PENYELESAIANNYA ADALAH :



Demikianlah Jenis jenis metode permalan (forecast) yang dapat saya bagikan kali ini, semoga bermanfaat bagi pembaca ^.^


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge
Tag : ,

ANGGARAN PIUTANG & KAS

By : Owner
BERIKUT INI ADALAH CONTOH PENUYUSUNAN ANGGARAN PITUANG DAN KAS 

CONTOH KASUS :

Klik Gambar Untuk Perbesar

SETELAH DIKETAHUI RENCANA PENJUALAN, MAKA KITA DAPAT MENUYUSUN JUMLAH PENJUALAN KREDIT DAN PENJUALAN TUNAI NYA

Klik Gambar Untuk Perbesar
LANGKAH SELANJUTNYA ADALAH MENYUSUN ANGGARAN PENERIMAAN PIUTANG 

Klik Gambar Untuk Perbesar
LANGKAH SELANJUTNYA ADALAH MENGHITUNG PIUTANG TAK TERTAGIH DAN OUTSTANDING PIUTANG 


MENGHITUNG ANGGARAN KAS


Klk Gambar Untuk Perbesar

Tag : ,

ANGGARAN HPP & LABA RUGI

By : Owner
CONTOH KASUS YG MENGGAMBARKAN ANGGARAN HPP DAN RUGI LABA :





PENYELESAIAN :

LANGKAH I HITUNG DULU ANGGARAN PENJUALAN DAN PRODUKSI 




LANGKAH II HITUNG RINCIAN PEMAKAIAN PERSEDIAAN (Dalam Contoh menggunakan Metode LIFO)





LANGKAH III HITUNG HARGA POKOK PRODUKSI / COGM DAN HARGA POKOK PENJUALAN COGS UNTUK 4 TRIWULAN (1 TAHUN)







LANGKAH IV HITUNG PROYEKSI LABA RUGI BERDASARKAN INFORMASI YG TERSEDIA 






Sekian, semoga bermanfaat ^.^


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge





Tag : ,

ANGGARAN BOP

By : Owner


Beberapa jenis biaya yang dikategorikan sebagai BOP diantaranya sebagai berikut:

1.    Biaya bahan mentah tidak langsung (bahan penolong)
Bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut.

2.    Biaya tenaga kerja tidak langsung (termasuk gaji)
Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu. Biaya tenaga kerja tidak langsung terdiri dari upah, tunjangan, dan biaya kesejahteraan yang dikeluarkan untuk tenaga kerja tidak langsung tersebut. 

Tenaga keja tidak langsung terdiri dari :

Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, seperti departemen-departemen pembangkit tenaga listrik, uap, bengkel dan depertemen gudang
Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti kepala departemen produksi, karyawan adminstrasi pabrik, dan mandor.

3.    Biaya Reparasi dan Pemeliharaan
Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies) dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, mesin-mesin dan equipmen, kendaraan, perkakas laboraturium, dan aktiva tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.

4.    Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan equipmen, perkakas laboraturium, alat kerja dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.

5.    Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan equipmen, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi karugian trial-run.

6.    Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai
Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya

Oleh karena begitu banyaknya jenis biaya-biaya yang terjadi di dalam pabrik, maka memerlukan perhatian khusus. Untuk merencanakan besarnya dana yang harus dianggarkan untuk anggaran biaya overhead pabrik, terdapat dua masalah pokok yang perlu perhatian khusus yakni penanggungjawab perencanaan biaya.

        Pelaksanaan anggaran yang konprehensif memerlukan sistem akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting system) atau kerap dikenal dengan prinsip biaya departemen langsung (direct departmental cost). Setiap pusat tanggung jawab memiliki tanggung jawab dan sumber daya masing-masing. Setiap pusat pertangggungjawaban merupakan suatu sub-unit perusahaan dan berada dibawah kendali seorang manajer. Dengan membandingkan antara rencana (anggaran) dengan realisasi, seorang manajer yang memimpin suatu pusat pertanggungjawaban dapat mengetahui apakah sub unitnya telah mencapai sasaran secara efektif dan telah menggunakan sumber-sumber secara efisien.

        Atas dasar prinsip inilah dikenal dengan adanya pembagian struktur organisasi menjadi departemen produksi dan departemen jasa untuk kegiatan yang dilakukan di pabrik.
a.    Departemen produksi (producing department)
Merupakan departemen (bagian) di dalam pabrik yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi/produk akhir, dan menjadi bagian secara langsung memproses barang jadi. BOP yang terjadi di departemen produksi dikenal sebagai BOP langsung.

b.    Departemen jasa (service department)
Merupakan departemen (bagian) di pabrik yang menyediakan jasanya dan secara tidak langsung ikut berperan dalam proses produksi. Biaya yang terjadi di departemen (bagian) jasa ini mungki sebagian dari jasa yang disediakan digunakan sendiri. Dengan demikian BOP yang terjadi di departemen jasa ini lebih dikenal sebagai BOP tidak langsung.

        Berdasarkan uraian tersebut dapat diklasifikasikan dua jenis biaya overhead pabrik, sesuai tanggung jawab masing-masing departemen (bagian) yakni:
a.    BOP langsung (direct departmental overhead expensees) 
adalah BOP yang terjadi di departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut. Contoh biaya ini adalah gaji mandor departemen produksi, biaya depresiasi mesin dan biaya bahan penolong.

b.    BOP tidak langsung (indirect departmental overhead expenses) 
adalah BOP yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contoh BOP ini adalah biaya depresiasi, pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik (dengan asumsi gedung pabrik digunakan oleh beberapa departemen produksi).


 Tarif BOP diperlukan dalam rangka penentuan harga pokok produksi. Berdasarkan penentuan biaya BOP untuk masing-masing bagian, maka dapat dihitung tarif BOP dengan cara membagi BOP dianggarkan dengan tingkat kegiatan di masing-masing departemen (bagian). Penentuan tarif biaya overhead pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap berikut:

1.    Menyusun anggaran BOP
        Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan tingkat kegiatan yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran BOP antara lain:
a.    Kapasitas Praktis
    Untuk menentukan besarnya kapasitas praktis dan kapasitas normal terlebih dahulu harus ditentukan kapasitas teoritis, yakni volume produksi maksimum yang dapat dihasilkan oleh pabrik.
    Kapasitas teoritis dapat diartikan sebagai kapasitas pabrik atau suatu departemen untuk menghasilkan produk pada kecepatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu. Kapasitas praktis adalah kapasitas teoritis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan. Penetapan kapasitas praktis ini perlu dilakukan karena sangat tidak mungkin suatu pabrik dijalankan pada kapasitas teoritis. Dengan demikian perlu diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu dalam penentuan kapasitas seperti penghentian pabrik yang tidak dapat dihindari karena kerusakan mesin.

b.    Kapasitas Normal
    Adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. Jika dalam penentuan kapasitaspraktis hanya diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu akibat faktor-faktor intern perusahaan, maka dalam penentuan kapasitas normal diperhitungkan pula kecenderungan penjualan dalam jangka panjang.

c.    Kapasitas Sesungguhnya yang Diharapkan
    Adalah kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang. Jika anggaran BOP didasarkan pada kapasitas sesungguhnya yang diharapkan, maka berarti ramalan penjualan tahun yang akan datang dipakai sebagai dasar penentuan kapasitas, sedangkan jika anggaran tersebut didasarkan pada kapasitas praktis dan normal, maka titik berat diletakkan pada kapasitas fisik pabrik.

    Penentuan tarif BOP atas dasar kapasitas sesungguhnya yang diharapkan merupakan pendekatan jangka pendek, dan metode ini umumnya mengakibatkan digunakan tarif yang berbeda dari periode ke periode. Penentuan tarif BOP atas dasar kapasitas praktis atau kapasitas normal merupakan pendekatan jangka panjang, yang menghubungkan tingkat kegiatan perusahaan dengan kapasitas fisik pabrik dan tidak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan penjualan yang bersifat sementara. Dengan pendekatan ini tarif BOP relatif konstan untuk jangka waktu yang relatif lama.


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge





Tag : ,

- Copyright © 2013 BELAJAR PERBANKAN GRATIS - Date A Live - Powered by Blogger - Redesigned By David Iskandar