Materi Paling Banyak Dilihat

BIAYA PINJAMAN BANK

By : David
Sebagian dari kita pasti sudah memiliki pengalaman hubungan dengan bank, entah hanya sebagai nasabah atau Debitur suatu bank, pada dasarnya memang Bank memiliki peranan penting dalam menyokong sendi sendi ekonomi masyarakat. 

Jika salah satu dari anda pernah menjadi Debitur suatu bank, pasti sudah tidak asing dengan biaya biaya yang harus anda keluarkan terkait pinjaman anda, namun banyak dari kita masyarakat awam yang tidak mengetahui  sebetulnya apa saja komponen komponen biaya atas pinjaman dana kita pada bank, dalam kesempatan kali ini saya akan menguraikan secara umum tentang biaya-biaya yang lazim dibayarkan oleh debitur pada saat menerima sebuah fasilitas pinjaman dari Bank

Biaya sebelum realisasi Kredit 

1. Biaya Survey
Tergantung dari setiap kebijakan bank masing masing namun pada umumnya biaya survey merupakan biaya yang harus ditanggung oleh Debitur, terkait kepentingan analisa kredit yang hendak dilakukan oleh Bank. 

2. Biaya Penilai Publik (Appraisal)
Bagi anda yang mungkin saja memiliki agunan sebagai penjamin ketertiban pembayaran kredit saudara, maka tidak jarang bank menggunakan jasa pihak ketiga, dalam hal ini adalah Penilai Publik atau yang lebih familiar disebut dengan appraisal, biaya yang digunakan untuk membayar jasa Penilai Publik biasanya akan ditagihkan oleh Bank kepada Calon Debitur.

Biaya Saat Realisasi Kredit

1. Biaya Provisi
Pada dasarnya Provisi adalah balas jasa kepada bank, karena dengan ditandatanganinya perjanjian kredit demikian pula mengikat bank bahwa bank mempunyai kerajiban kepada debitur untuk menyediakan sejumlah uang sesuai dengan plafond pinjaman, biaya Provisi tergantung besarannya dari kebijakan Bank, namun umumnya berkisar antara 0.5 sampai dengan 1.00 % dari total plafond kredit.

2. Biaya Administrasi 
Biaya ini merupakan biaya yang wajib dibayarkan oleh Debitur kepada Bank pada saat penandatanganan akad kredit, biaya ini termasuk juga biaya meterai, dan biaya administrasi lainnya, besarannya tergantung dengan kebijakan bank. 

3. Biaya Pengikatan Kredit (Legalisasi)
Pada umunya setiap akad kredit akan dibuat dihadapan pejabat berwenang (dibuat suatu akta Notarial), namun banyak juga akad kredit dengan nominal tertentu yang dibuat dibawah tangan, namun tetap terdapat biaya legalisasi. berikut ini penjelasan mengenai Biaya Pengikatan Kredit 

a. Biaya pengikatan Kredit dibawah tangan 
Biasanya meliputi biaya Legalisasi tandatangan (Surat dibawah tangan yang tidak dibukukan) dan Biaya Waarmeking (Surat diabawah tangan yang dibukukan dalam buku register Notaris), biaya ini bervariasi tergantung dari tarif jasa Notaris yang bersangkutan.

b. Biaya Pengikatan Kredit Dihadapan Pejabat Berwenang 

terdiri dari biaya Akta Perjanjian Kredit (Notarial), Biaya Pemasangan Hak Tanggunngan (Bagi agunan berupa tanah dan bangunan), biaya Fiducia (Bagi agunan berupa barang bergerak, umumnya adalah kendaraan). 

4. Biaya Asuransi
Biaya ini sangat berpengaruh kepada kebijakan bank, mengenai apa yang akan diasuransikan, apakah asuransi jiwa, ataukah asuransi terkait agunan. Besaran biaya ini sangat tergantung dari tarif Perusahaan asuransi yang digunakan. 

Biaya Sesudah realisasi Kredit

Biaya - biaya ini mungkin timbul apabila debitur mengalami wanprestasi, biaya-biaya yang mungkin timbul bisa sangat bervariatif dan tergantung dengan kondisi masing masing setiap debitur.

Demikian postingan saya sederhana ini, semoga bisa menjadi bahan referensi bagi anda yang hendak mengajukan kredit pinjaman kepada Bank. 

Ingat, jaga selalu Reputasi Kolektibilitas Pembiayaan Anda :)



TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG
 SEMOGA ARTIKEL DALAM #BPG DAPAT MEMBANTU.
SALAM SAHABAT #BPG

Untuk terus mendapatkan postingan terupdate setiap harinya jangan lupa Follow twitter @david_iskandar3 bisa langsung KLIK DISINI 

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge




Tag : ,

CAPITAL BUDGETING

By : David
CAPITAL  BUDGETING

Jika berbicara pembahasan mengenai Capital budgeting, akan selalu kita jumpai mulai dari saat kita duduk dibangku kuliah, hingga menentukan keputusan saat berada di posisi top management, atau bahkan saat kita akan bermulai wirausaha.

Terkait dengan pembahasan blog ini, masalah Capital banyak dijumpai oleh para analis untuk menentukan layak atau tidaknya suatu proyek untuk dibiayai, seperti biasa, Capital budgeting biasanya digunakan saat kita akan menilai kelayakan suatu proyek, bisa pembelian peralatan modal kerja (Aktiva) ataupun digunakan untuk mengukur suatu Pekerjaan yang akan dikerjakan.

Pengalaman saya sendiri, saya sering menggunakan indicator-indikator dalam Capital Budgeting untuk menentukan layak atau tidaknya suatu proyek.

Capital Budgeting memiliki beberapa indicator antara lain :
-          Pay Back Period
Yaitu suatu metode yang digunakan untuk menghitung arus kas bersih yang didapat dari suatu proyek dalam suatu periode tertentu, yang akan dikurangi dengan nilai investasi (outlay) awalnya.

Berdasarkan pemahaman saya pribadi (bisa benar bisa juga kurang tepat :D) Pay Back Period Memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

·         Kelebihan PBP
1.      Sangat mudah diaplikasikan, terhadap perusahaan baik yang memiliki jenis pernerimaan harian, mingguan, bulanan.
2.      Berbeda dengan Break Event Point, PBP menitikberatkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah diinvestasikan.
3.      Tidak memerlukan keahlian khusus untuk menghitung PBP.

·         Kelemahan PBP
1.      Karena terlalu sederhana, diragukan keakuratan dari hasil perhitungannya.
2.      PBP tidak mengenal unsur risiko bisnis maupun risiko keuangan (mengenai risiko bisnis dan risiko keuangan, akan saya bahas dikesempatan yang lain yach, hehe).
3.      Ada beberapa paham yang meyakini PBP tidak mengenal unsur Time Value of Money, padahal uang yang akan kita terima diwaktu yang akan dating danuang yang ada didompet  saat ini nilainya terus tergerus :D, namun saya sendiri menghitung Proceed PBP setelah saya present value-kan, entah itu benar atau salah yang penting buat saya konsep PBP dapat kita pahami dengan baik.


-          Net Present Value (NPV)
Saya berani bertaruh, diperguruan tinggi manapun, dari sabang sampai merauke, mahasiswa fakultas ekonominya pasti pernah mengunyah ngunyah jenis makanan yang disebut NPV ini (Lah iya, wong ambilnya ekonomi, coba ambilnya kimia….. Xx!@#$%), Sebenernya banyak bahasa buku yang dapat secara jelas dan eksplisit mendefinisikan apa yang dimaksud dengan NPV ini, namun mengingat survey kecil-kecilan saya, bahwa pembaca blog ini tidak sepenuhnya dari kalangan akademisi, ataupun jika dipersempit lagi, sangat sedikit pembaca blog yang berasal dari fakultas ekonomi, dan pembaca blog ini lebih didominasi oleh praktisi-praktisi yang berkecimpung di dunia Perbankan, ibu rumah tangga, dan orang-orang yang terlanjur nyasar dari si mbah Google wkwkwkwkkwkw.. maka saya mencoba agar bahasa penulisan ini dapat dicerna oleh semua pembaca setia #BPG J

Oke balik ke pembahasan, menurut pemahaman saya, NPV adalah suatu metode yang digunakan untuk mengukur nilai surplus atas modal yang ditanamkan kedalam suatu project / aktiva yang dimana proceed tersebut sebelumnya sudah dikalikan dengan discount factor yang berlaku (dipresent value-kan). Pembahasan lengkapnya di contoh soal dibawah saja ya, sekarang kita teori saja dulu J

-          Internal Rate of Return (IRR)
IRR tidak kalah terkenalnya dengan PBP dan NPV, dulu ketika saya mengenyam pendidikan akademi Perbankan disuatu universitas swasta daerah Cawang, ada dosen yang menjelaskan dengan sangat teoritis mengenai IRR ditambah lagi dengan penjelasan rumus-rumus interpolasi yang cukup bisa membuat tangan mengelus dada dan kepala, lalu singkat cerita saya mencoba meracik definisi sesuai pemahaman saya setidaknya ada 2 Definisi IRR menurut saya

a.       IRR metode untuk mencari tingkat Discount factor tertentu yang dapat menghasilkan nilai NPV = 0
b.      Dalam Pemahaman lain, IRR dapat menjadi barometer bagi layak atau tidaknya suatu proyek untuk dibiayai (disandingkan dengan Biaya modal) layak apabila Biaya Modal (Cost of Capital) lebih kecil dibandingkan dengan IRR.


Contoh Kasus
(Berdasarkan pengalaman sebenarnya, seorang nasabah Pengusaha Fotocopy)

Mesin Fotocopy Berwarna dibeli dengan nilai Rp.350.000.000,- umur aktiva tersebut 5 tahun, Penyusutan menggunakan metode garis lurus, di akhir periode memiliki nilai sisa (residu) sebesar Rp.50.000.000,- | Biaya Service pertahun Rp.10.000.000,- | Biaya Overhead perbulan Rp.5.000.000,- meningkat 5% setiap tahun | Biaya tenaga kerja perbulan Rp.4.500.000,- | Pembelian Kertas perbulan 100 Rim @ Rp.26.000,- = Rp.2.600.000,- Meningkat 10% setiap tahun| Pembelian Toner Perbulan Rp.2.500.000,-, Meningkat 5% setiap tahun | Biaya Bunga Pinjaman Bank perbulan 1.75 %, dilunasi tahun ketiga | Pendapatan Perbulan (Rata-rata) 100 x 500 Lembar x Rp.500,- (Color), = Rp.25.000.000,-  meningkat 15% setiap tahun| Pajak 1 % dari Omset PP No.46 Th.2013 | Discount Factor 21%


Tentukan PBP, NPV dan IRR

PENYELESAIAN








 LANGKAH V MENENTUKAN IRR

IRR dapat dicari menggunakan metode interpolasi, maksudnya adalah, Nilai IRR dapat kita tentukan apabila kita sudah mempunyai dua kondisi dimana suatu nilai proyek (outlay) dan imbal balik (procceed) yang sama dengan tingkat Discount Factor (DF) yang berbeda, sehingga didapat NPV bernilai Positif dan NPV bernilai Negatif (Tolong dimaafkan apabila saya menjelaskan dengan menggunakan bahasa ortodidak, yang menurut saya lebih mudah dipahami, yang penting niat baiknya tersampaikan menuju kejalan yang benar, tergantung bagaimana anda lebih menikmati destination nya atau journey nya) J

Kita ambil Contoh DF dengan NPV yang sudah kita hitung semula
DF = 21 % Maka Didapat NPV = Rp.200.225.359,-

Contoh diatas adalah NPV bernilai Positif, maka kita harus mencari DF yang menghasilkan NPV Negatif (Bebas angkanya, asalkan menghasilkan NPV Negatif)

Contoh : saya Menggunakan DF = 75%
Lalu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa DF 75% menghasilkan NPV Negatif ?
Berikut pembuktiannya : 


Maka didapat NPV bernilai NEGATIF
= Rp.195.388.091 – Rp.350.000.000,-
=  (Rp.154.611.909,-) = MINUS

Setelah NPV Positif dan NPV Negatif sudah kita dapatkan, berikut ini adalah Formula Menghitung IRR


Dimana :

DF 1 = 21 % (DF pertama)
NPV 1 = Rp.200.225.359,-
DF 2 = 75 %
NPV 2 = (Rp.154.611.909,-)


Jadi kesimpulan yang dapat kita petik setelah kita selesai menghitung IRR adalah :
-       
  •        Kita mengetahui (dalam contoh soal yg kita bahas) bahwa discount factor (DF) berada ditingkat 51,47 % akan menghasilkan NPV = 0

  •           Biaya Modal yang kita tanggung HARUSLAH BERADA DIBAWAH IRR (51,47 %).


Sekian, tulisan saya kali ini, Untuk kesimpulan IRR yang berkaitan dengan Biaya Modal, akan saya bahas ditulisan berikutnya.



TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG
 SEMOGA ARTIKEL DALAM #BPG DAPAT MEMBANTU.
SALAM SAHABAT #BPG

Untuk terus mendapatkan postingan terupdate setiap harinya jangan lupa Follow twitter @david_iskandar3 bisa langsung KLIK DISINI 

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



FORECAST - MOMENT

By : David
Jika pada postingan sebelumnya saya telah membahas bagaimana menentukan sales Forecast dengan metode trend bebas, maka kali ini saya akan menguraikan cara tentang melakukan SALES FORCAST dengan METODE MOMENT

Contoh SALES FORECAST - METODE MOMEN 
(DATA GENAP)

Contoh Kasus :


MAKA PERSAMAANNYA ADALAH : 




Gambar diatas merupakan PERSAMAAN METODE MOMENT 

RAMALAN JUMLAH PENJUALAN TAHUN 2013 & 2015 ADALAH :















Pada gambar diatas telah diuraikan cara untuk mencari nilai a dan b, SATU HAL YANG HARUS MENJADI PERHATIAN KHUSUS ADALAH NILAI X. 

Mengapa pada ramalan tahun 2013 Nilai x = 8 ......? 
Mengapa pada ramalan tahun 2015 Nilai x = 10 .....?

PERHATIKAN GAMBAR KEDUA,  dalam metode MOMENT, nilai x selalu dimulai dengan angka 0, dan bertambah positif sejumlah 1 secara konsisten kepada data selanjutnya.

Catatan : 
pada Metode MOMENT tidak ada perlakuan khusus bagi jumlah x untuk data Genap maupun data Ganjil. 


Contoh SALES FORECAST - METODE MOMENT
(DATA GANJIL)









SALES FORECAST - METODE MOMENT Selesai ^.^ 

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

FORECAST - TREND

By : David
METODE SALES FORECAST (RAMALAN PENJUALAN) - TREND BEBAS

Dalam membuat tulisan ini hanya satu yang terdapa dibenak saya yaitu, bahwa tidak lepas dari kehidupan berbisnis kita sehari hari antara asumsi dan realita saling bertabrakan, sebut saja dengan pembahasan judul postingan blog saya kali ini, yaitu mengenai metode yang umum digunakan untuk meramalkan jumlah penjualan yang dapat dicapai oleh perusahaan.

Perlu diketahui dari awal bahwa sales forecast sangatlah berbeda dengan target penjualan, letak perbedaannya adalah damal melakukan sales forecast kita sepenugnya bergantung terhadap data-data historis yang dimiliki oleh perusahaan, data tersebut dapat berupa data kualitatif maupun data yang bersifat kuantitatif.

Contoh data Kualitatif :

Hasil riset internal perusahaan
pendapat para ahli dan pakar
hasil masukan dari pihak - pihak internal perusahaan yang langusung berhubungan dengan penjualan.
dan data data lain yang dapat dikategorikan sebagai data kualitatif. 

Contoh data Kuantitatif :

Volume penjualan
harga penjualan
dan data data lain yang dapat dikatedorikan sebagai data kuantitatif.

SALES FORECAST DENGAN MENGGUNAKAN METODE TREND BEBAS

Dari namanya saja kita sudah dapat menerka, bahwa dalam melakukan sales forecast dengan menggunakan metode ini sangat bergantung terhadap data-data yang dimiliki perusahaan dan faktor faktor lain yang berasal dari eksternal perusahaan.

Dengan menggunakan metode ini perusahaan bebas (dalam artian tidak terpaku untuk menggunakan data manapun) untuk meramalkan jumlah penjualan pada periode yang akan datang, hal yang sangat mudah dilakukan adalah dengan mencermati trend penjualan yang dimiliki oleh perusahaan dimasa masa yang lampau, dari trend tersebut minimal perusahaan dapat memiliki bayangan tentang volume penjualan yang akan terjadi pada periode selanjutnya, atau bila dikatakan lebih mudah, metode ini seperti metode kira kira yang diterapkan oleh manajer dalam suatu perusahaan.

selain sales forecast dengan menggunakan metode trend bebas tersebut, masih banyak metode metode lain yang sangat populer dan diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. 

Simak terus postingan saya dalam label SALES FORECASTING, untuk dapat mempelajari metode metode peramalan penjualan yang berlaku dalam dunia akademisi dan praktisi.




Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

PENGERTIAN BANK DPK

By : David

BANK DALAM PENGAWASAN KHUSUS (SPECIAL SURVEILLANCE)

Program restrukturisasi perbankan nasional telah dilaksanakan melalui langkah-langkah antara lain pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), program penjaminan Pemerintah, dan program rekapitalisasi perbankan. Dalam perkembangannya masih terdapat Bank yang dinilai mengalami kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya dan atau sistem perbankan nasional.

Sehubungan dengan itu terhadap Bank dimaksud perlu dilakukan langkah-langkah tertentu seperti pengawasan intensif dan pengawasan khusus, agar sistem perbankan yang sehat dapat tercipta secara efektif. Bagi Bank yang masih mempunyai prospek untuk menjadi sehat perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan dan penyehatan atau bagi Bank yang tidak mungkin lagi dapat disehatkan perlu dilakukan langkah-langkah penyelesaian. Oleh karena itu perlu ditetapkan persyaratan dan kriteria yang jelas serta transparan mengenai tingkat kesulitan Bank dalam kegiatan usahanya, serta langkah-langkah koordinasi dan mekanisme yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi perbankan nasional. Langkah-langkah koordinasi antara Bank Indonesia dengan BPPN dalam rangka restrukturisasi perbankan nasional antara lain dituangkan dalam Kesepakatan Bersama antara Gubernur Bank Indonesia dan Ketua BPPN.

Sesuai dengan program rekapitalisasi perbankan, maka pada akhir tahun 2001 perbankan diwajibkan untuk memenuhi rasio kewajiban penyediaan modal minimum sama dengan atau lebih besar dari 8% (delapan perseratus).

:: Strategi Pengawasan oleh Bank Indonesia

Dalam rangka menjalankan tugas pengawasan, Bank Indonesia menetapkan beberapa jenis pengawasan yang didasarkan atas analisis terhadap kondisi suatu bank tertentu yaitu:
  1. Pengawasan Normal (Rutin)
  2. Pengawasan Intensif (Intensive Supervision)
  3. Pengawasan Khusus (Special Surveillance)
Dalam prakteknya, Bank Indonesia juga tetap mengawasi Bank Dalam Penyehatan (BDP), dan memantau penyelesaian kewajiban dari Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU), serta Bank Dalam Likuidasi (BDL) yang ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

:: Pendekatan Pengawasan oleh Bank Indonesia

Dalam menjalankan strategi pengawasan tersebut di atas, pendekatan pengawasan yang dilakukan terbagi atas dua jenis kegiatan yaitu pengawasan tidak langsung (off site supervision) dan pengawasan langsung (on site examination). Secara ringkas, pengawasan tidak langsung merupakan tindakan pengawasan dan analisis yang dilakukan berdasarkan laporan berkala (regulatory reports) yang disampaikan oleh Bank, informasi dalam bentuk komunikasi lain serta informasi dari pihak lain. Sementara itu, pengawasan langsung dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan pada Bank untuk meneliti dan mengevaluasi tingkat kepatuhan Bank terhadap ketentuan yang berlaku. Termasuk dalam kedua jenis pendekatan pengawasan tersebut di atas analisis kondisi Bank, saat ini dan diwaktu yang akan datang (forward looking).


Pengawasan ini dilakukan terhadap Bank yang memenuhi kriteria tidak memiliki potensi atau tidak membahayakan kelangsungan usahanya. Umumnya, frekuensi pengawasan dan pemantauan kondisi Bank dilakukan secara normal sedangkan pemeriksaan terhadap jenis Bank ini dilakukan secara berkala atau sekurang-kurangnya setahun sekali.


Pengawasan intensif ini dilakukan Bank yang memenuhi yang memiliki potensi kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya. Langkah-langkah yang dilakukan Bank Indonesia pada Bank dengan status Pengawasan Intensif, antara lain:
  1. Meminta Bank untuk melaporkan hal-hal tertentu kepada Bank Indonesia.
  2. Melakukan peningkatan frekuensi pengkinian dan penilaian rencana kerja dengan penyesuaian terhadap sasaran yang akan dicapai.
  3. Meminta Bank untuk menyusun rencana tindakan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.
  4. Menempatkan pengawas dan atau pemeriksa Bank Indonesia pada Bank, apabila diperlukan.
Bagi Bank dalam Pengawasan Intensif yang tidak menghasilkan perbaikan kondisi keuangan dan manajerial dan berdasarkan analisis Bank Indonesia diketahui bahwa Bank tersebut dapat diklasifikasikan sebagai Bank yang memiliki kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya, maka Bank tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai Bank dengan status Pengawasan Khusus. Disamping itu, apabila diperlukan, intensitas pemeriksaan langsung pada Bank pada umumnya meningkat terutama dalam rangka memantau perkembangan kinerja berdasarkan komitmen dan rencana perbaikan yang disampaikan manajemen Bank kepada Bank Indonesia.


Pengawasan terhadap bank yang dinilai mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya. Terhadap Bank dengan status Pengawasan Khusus ini maka beberapa tindakan Bank Indonesia yang diambil, antara lain:
  1. Memerintahkan Bank dan atau pemegang saham Bank untuk mengajukan rencana perbaikan permodalan (capital restoration plan) secara tertulis kepada Bank Indonesia.
  2. Memerintahkan Bank untuk memenuhi kewajiban melaksanakan tindakan perbaikan (mandatory supervisory actions).
  3. Memerintahkan Bank dan atau pemegang saham Bank untuk melakukan tindakan antara lain:
    1. mengganti dewan komisaris dan atau direksi Bank;
    2. menghapusbukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang tergolong macet dan memperhitungkan kerugian Bank dengan modal Bank;
    3. melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;
    4. menjual Bank kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban Bank;
    5. menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan Bank kepada pihak lain;
    6. menjual sebagian atau seluruh harta dan atau kewajiban Bank kepada bank atau pihak lain; dan atau
    7. membekukan kegiatan usaha tertentu Bank.
Adapun larangan dan pembatasan bagi Bank dalam Pengawasan Khusus, antara lain:
  1. Bank dilarang melakukan pembayaran distribusi modal (pembagian deviden atau pemberian bonus);
  2. Bank dilarang melakukan transaksi dengan pihak terkait atau pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;
  3. Bank dikenakan pembatasan pertumbuhan aset;
  4. Bank dilarang melakukan pembayaran terhadap pinjaman subordinasi;
  5. Bank dikenakan pembatasan kompensasi kepada pihak terkait;
Selain tindakan perbaikan Bank yang diwajibkan tersebut, Bank Indonesia juga Bank yang telah ditetapkan dengan status Bank dalam Pengawasan Khusus pada homepage Bank Indonesia. Sebaliknya, dalam rangka keseimbangan informasi kepada publik, maka apabila kondisi Bank membaik dan tidak terkategori sebagai Bank dalam Pengawasan Khusus, maka Bank Indonesia juga akan mengumumkannya.

Jangka waktu Bank dengan status Pengawasan Khusus adalah paling lama tiga bulan bagi Bank yang tidak terdaftar pada Pasar Modal atau enam bulan bagi Bank yang terdaftar pada Pasar Modal (listed Banks). Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang dan perpanjangan dapat diberikan maksimal satu kali dan paling lama tiga bulan. Pertimbangan perpanjangan tersebut terutama yang berkaitan dengan proses hukum yang diperlukan antara lain perubahan anggaran dasar, pengalihan hak kepemilikan, proses perizinan, dan proses kaji tuntas oleh investor baru (due diligence).

Pada umumnya frekuensi dan intensitas pengawasan dan pemeriksaan meningkat terutama dalam rangka memantau perkembangan kinerja dan komitmen serta kewajiban Bank yang diperintahkan oleh Bank Indonesia. Selanjutnya berdasarkan analisis dan pemantauan dimaksud, apabila diketahui bahwa kondisi Bank semakin memburuk, maka terdapat dua alternatif resolusi Bank dimaksud, yaitu Bank diserahkan kepada BPPN dengan status Bank Dalan Penyehatan (BDP) atau Bank Beku Kegiatan Usaha.

:: Bank Dalam Penyehatan

Bank dapat ditetapkan dengan status Bank Dalam Penyehatan apabila Bank tersebut dinilai masih memiliki potensi untuk dapat diperbaiki terutama dari aspek permodalan. Selama proses penyehatan Bank oleh BPPN, komunikasi dan kerjasama antara Bank Indonesia dengan BPPN intensif dilakukan terutama yang berkaitan dengan perkembangan indikator utama kinerja Bank, antara lain kinerja permodalan, rasio likuiditas (Giro Wajib Minimum), non-performing loan, ketentuan prudensial (BMPK, PDN, PPAP), dan indikasi pencapaian rencana kerja. Apabila kondisi membaik dan program penyehatan telah selesai dilakukan atau dinyatakan berhasil, maka status BDP dicabut dan Bank diserahkan kembali kepada Bank Indonesia untuk dilakukan pengawasan yang diperlukan. Sebaliknya, apabila kondisi Bank semakin memburuk, status BDP dapat berubah menjadi Bank Beku Kegiatan Usaha.

:: Bank Beku Kegiatan Usaha

Bank ditetapkan dengan status Bank Beku Kegiatan Usaha apabila Bank memenuhi persyaratan bahwa kondisi Bank menurun sangat tajam atau program penyehatan BPPN atas Bank Dalam Penyehatan (BDP) tidak dapat diselesaikan oleh Bank dalam jangka waktu yang disepakati atau berdasarkan pertimbangan BPPN, program penyehatan tidak dapat dilaksanakan meskipun jangka waktu yang disepakati belum terlampaui. Selanjutnya dalam hal BPPN telah selesai melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk penyelesaian Bank dengan status BBKU, penyelesaian berikutnya dilakukan tahapan-tahapan pencabutan izin usaha, pembubaran badan hukum, serta likuidasi Bank.

Untuk pemahaman yang baik silahkan anda klik link berikut :

Prosedur Bank Dalam Pengawasan Intensif dan Dalam Pengawasan Khusus
FAQ dalam Status Penetapan Bank Dalam Pengawasan Khusus

Sumber : BANK INDONESIA

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge
Tag : ,

MEKANISME LETTER of CREDIT

By : David

MEKANISME LETTER of CREDIT


Secara konsep Letter of Credit  sendiri atau orang sering menyingkatnya dengan LC, merupakan suatu instrument yang mencoba menjawab kebutuhan dunia usaha akan suatu mekanisme pembayaran dan penjaminan yang berupaya semaksimal mungkin menjaga resiko-resiko masing-masing pihak yang terlibat dengan cara menentukan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam bertransaksi yang lebih aman.
Pada dasarnya mekanisme sistim pembayaran dan penjaminan Letter of Credit itu sangat sederhana. Saya sengaja ungkapkan di sini bukan bermaksud untuk menggampangkan atau terlalu menyederhanakan sesuatu, tetapi mencoba menanamkan konsep awal yang merupakan pondasi pengertian agar dalam pengembangannya nanti kita tidak terombang-ambing dengan pengertian-pengertian baru hasil modifikasi atau variasi bentuk dari konsep dasar Letter of Credit.
Konsep Letter of Credit secara sederhana merupakan Pengambilalihan tanggung jawab pembayaran oleh pihak lain (Bank) atas dasar permintaan pihak yan dijamin (Applicant/Pembeli) untuk melakukan pembayaran kepada pihak penerima jaminan (Beneficiary/Penjual) berdasarkan syarat dan kondisi yang ditentukan dan disepakati.
Letter of Credit yaitu UCP 600, pasal 2, tentang Definisi menyebutkan : Credit means any arrangement, however named or described, that is irrevocable and thereby constitutes a definite undertaking of the issuing bank to honour a complying presentation”. Anda bebas mengartikan dan mengintepretasikannya sendiri, yang kurang lebih artinya : “suatu bentuk perjanjian, apapun namanya dan penjelasannya, yang tidak bisa diubah sepihak, yang menyebabkan suatu pengambilalihan mutlak dari bank penerbit jaminan untuk membayar presentasi (dokumen) yang sesuai”.
Terminology pihak yang dijamin di sini harus dipertegas karena tidak seperti dalam asuransi mobil, biasanya kita yang memohon penjaminan kita juga yang dijamin akan menerima pembayarannya. Pihak yang dijamin dalam Letter of Credit hampir sama dengan Bank Guarantee lainnya, dimana pihak pertama (guarantor) yang diharuskan menjamin, mengalihkan kewajibannya kepada bank atas permintaan pihak kedua (guarantee) yang mendapat jaminan tersebut.
Alur Prosesnya pun awalnya sederhana, yaitu :

1. Terjadi kesepakatan antara pembeli dan penjual, yang biasanya dituangkan dalam Sales Contract atau media kesepakatan lainnya.

2. Pembeli mengajukan permohonan pembukaan Letter of Credit kepada Bank yang akan menerbitkan (Issuing bank) atas permintaan Penjual. Sebutan untuk Pembeli dalam terminology LC menjadi Applicant dan Penjual menjadi Beneficiary (hal ini penting untuk dibedakan, karena dalam kasus-kasus pengembangannya nanti applicant bisa jadi tidak sama dengan Pembeli dan Beneficiary bisa jadi tidak sama dengan Penjual).

3. Issuing Bank,sebagai bank penjamin, memberikan jaminan tersebut kepada Beneficiary, sehingga pada proses ini peran issuing bank berubah menjadi Advising Bank (dalam prakteknya nanti, mengingat jauhnya jarak antara Issuing Bank dengan Beneficiary yang biasanya di Negara yang berbeda, maka issuing bank bisa meminta pihak/bank lain sebagai advising bank) tetapi secara konsep, issuing bank dapat secara langsung meng-Advise LC tersebut ke Beneficiary jika memungkinkan.

4. Beneficiary/Penjual yang telah menerima Lc tersebut melakukan pengiriman barang dan membuat dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh LC.

5. Beneficiary menyerahkan dokumen-dokumen tersebut kepada Issuing Bank (pada prakteknya melalui Negotiating Bank/Remitting Bank di Negara eksportir) untuk mendapatkan pembayaran dan Issuing Bank pun melakukan pembayaran kepada Beneficiary berdasarkan penyerahan dokumen yang sesuai dengan persyaratan dan kesepakatan semua pihak.

6. Issuing Bank menagihkan pembayaran tersebut kepada Applicant dengan menyerahan dokumen dan Applicant melakukan pembayaran kepada Issuing Bank untuk mendapatkan dokumen untuk pengeluaran barang.
Sesimpel itu,
Dalam perkembangan dunia perdagangan antar Negara yang pastinya juga membutuhkan suatu metode pembayaran dan penjaminan yang juga berkembang, Letter of Credit juga menyesuaikan diri sehingga menjadi lebih kompleks, lebih melibatkan banyak pihak dan lebih banyak variasi bentuk dan fungsinya seperti antara lain munculnya bentuk-bentuk LC baru (baik yang secara expresif disebutkan oleh UCP maupun pengembangan dalam praktek) seperti UPAS LC, Claim Reimbursement LC, Confirmed LC, Transferable LC, Back to Back LC, Deferred Payment LC, Red Clause LC, Green Clause LC, Standby LC, dan lain-lain. Sampai saat ini dalam prakteknya jumlahnya kurang lebih 20 jenis LC yang beredar sesuai kegunaan dan fungsinya (secara bertahap nanti akan saya bahas satu persatu jenis-jenis LC tersebut pada artikel-artikel lainnya).
Mudah-mudahan dengan penegasan konsep ini, anda yang baru ingin memperdalam LC menjadi tidak tebebani dengan keruwetan dan kerumitan yang sebenarnya merupakan pengembangan konsep awal saja dan itu dapat dengan mudah diurai satu persatu berangkat dari konsep yang sederhana ini. Dan bagi anda yang sudah paham mudah-mudahan tulisan ini bisa menambah matang keahlian dan Pengetahuan Letter of Credit anda.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge


DISCLAIMER

By : David


Waw, Terima kasih telah berkunjung ke Blog saya,

 segala Materi dan isi dalam blog ini adalah pengetahuan dan informasi yang ditulis secara umum dan belum seluruhnya terjamin keakuratannya. 

Pengetahuan dan Informasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti atas saran atau arahan yang diberikan oleh pekerja profesional. 

Pengguna / Pembaca blog ini diharapkan tidak hanya bergantung secara eksklusif pada informasi yang tersedia dalam blog ini saja untuk kebutuhan mereka. 

Saya tidak memberikan jaminan atau representasi, tersurat maupun tersirat, terhadap keakuratan atau kelengkapan, ketepatan waktu atau kegunaan dari pendapat, saran, layanan atau informasi lain yang dikandung atau dirujuk di blog ini.

Saya tidak bertanggung jawab terhadap risiko atas penggunaan blog ini, Pengguna blog ini harus menyadari bahwa materi dan isi dalam blog ini hanya diperbarui secara periodik, bahan atau konten tersebut mungkin tidak mengandung informasi yang terbaru. 

"BLOG INI TIDAK UNTUK MENCARI KEUNTUNGAN MATERI"

 Saran dan Kritik sangat saya hargai agar blog ini dapat menjadi lebih baik

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG
 SEMOGA ARTIKEL DALAM "belajarperbankan.blogspot.com" DAPAT MEMBANTU.
SALAM

Untuk terus mendapatkan postingan terupdate setiap harinya jangan lupa Follow twitter @david_iskandar3 bisa langsung KLIK DISINI 

David Iskandar | Create Your Badge
Tag : ,

TIPS BELI ASURANSI JIWA

By : David
Sebagian besar dari Anda yang telah berkeluarga dan berpenghasilan memadai untuk menopang sebuah gaya hidup yang stabil pasti pernah terlintas memikirkan asuransi. Sebagian dari Anda bahkan sudah memilikinya, entah karena ada teman atau keluarga yang “kebetulan” menjadi agen asuransi atau karena inisiatif sendiri. Sebagian lainnya mungkin masih menunda-nunda karena berbagai alasan. Salah satu alasannya biasanya karena Anda masih bingung produk asuransi apa yang paling cocok, paling murah dan paling dapat dipercaya. Bagi kebanyakan orang, menentukan pilihan dari sekian banyak produk asuransi yang ditawarkan oleh banyak perusahaan asuransi memang sangat sulit.

Bila Anda baru memulai berumah tangga, anak-anak Anda masih kecil, daya beli Anda terbatas dan aset Anda sedikit, namun kebutuhan asuransi Anda besar. Anak-anak masih membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi mandiri. Artinya, beban istri Anda akan sangat berat bila tiba-tiba harus Anda tinggalkan. Di sisi lain, karena Anda masih muda, kesehatan Anda prima dan Anda merasa tidak akan meninggal dunia dalam waktu dekat. Dalam situasi ini, belilah asuransi berjangka. Misalnya, Anda bisa membeli produk YRT/ekawarsa (Yearly Renewable Term) yang dapat diperpanjang otomatis setiap tahun dengan premi sedikit lebih mahal. Ini adalah asuransi termurah yang memberikan perlindungan terbesar. Hanya dengan premi ratusan ribu per tahun, Anda dapat membeli perlindungan asuransi senilai ratusan juta rupiah. Asuransi ini biasanya tidak aktif dijual oleh agen asuransi karena memberikan komisi yang sangat kecil. Perusahaan asuransi juga tidak terlalu memerlukan agen untuk menyalurkannya karena produknya sederhana. Semua orang dapat dengan mudah memahaminya melalui brosur, website atau penjelasan lewat telepon. Kunjungi atau telepon langsung kantor perusahaan asuransi untuk membeli produk ini. Anda dapat membandingkan produk dari beberapa perusahaan asuransi untuk mendapatkan harga terbaik.

Namun, karena asuransi berjangka adalah asuransi murni, uang yang Anda bayarkan sebagai premi “hangus”. Uang Anda “hilang” bila tidak terjadi apa-apa dengan Anda sampai akhir masa pertanggungan. Bila Anda tidak suka dengan gagasan ini, Anda bisa memilih asuransi berjangka yang mengembalikan uang premi Anda secara utuh di akhir masa pertanggungan jika tidak terjadi apa-apa dengan Anda. Tentu saja, premi yang harus Anda bayarkan akan jauh lebih mahal. (Sebenarnya, Anda membayar biaya asuransi melalui bunga/imbal balik investasi premi tersebut. Karena itu, pokoknya harus besar agar bunganya cukup untuk menutupi biaya asuransi.) Pertimbangkan untuk mengeluarkan premi tahunan sedikit lebih mahal, misalnya dalam Level Term 20 tahun, namun di akhir tahun ke-20 semua premi yang Anda bayarkan akan dikembalikan secara utuh bila Anda masih hidup.

Seiring waktu, bila Anda sudah mulai mapan secara keuangan, Anda bisa mempertimbangkan untuk membeli satu atau beberapa polis lagi. Kali ini adalah produk asuransi permanen yang menjamin Anda seumur hidup. Bila polis asuransi berjangka adalah untuk perlindungan jangka pendek, polis seumur hidup Anda untuk perlindungan masa tua. Dengan membeli asuransi seumur hidup di usia muda, Anda tidak akan kesulitan mendapatkan perlindungan di usia tua, ketika usia dan kesehatan Anda sudah menyulitkan untuk mendapatkan pertanggungan asuransi. Setelah itu, bila Anda ingin menabung untuk pendidikan anak, Anda dapat membeli asuransi pendidikan atau lainnya.

Membeli polis asuransi seumur hidup harus lebih didahulukan dibandingkan membeli polis asuransi pendidikan dan lainnya yang perlindungannya bersifat temporer. Sebagai bentuk asuransi dwiguna, perlindungan jiwa pada asuransi pendidikan berhenti ketika manfaat jatuh tempo sudah dibayarkan semua.

Bijaklah dalam mengelola keuangan anda selagi anda masih muda dan masih produktif :)

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG
 SEMOGA ARTIKEL DALAM "belajarperbankan.blogspot.com" DAPAT MEMBANTU.
SALAM

Untuk terus mendapatkan postingan terupdate setiap harinya jangan lupa Follow twitter @david_iskandar3 bisa langsung KLIK DISINI 

David Iskandar | Create Your Badge

HITUNG PREMI ASURANSI JIWA

By : David

Berikut ini adalah beberapa faktor yang menentukan berapa besar Premi Asuransi anda

Premi asuransi terdiri dari dua komponen, yaitu biaya asuransi dan biaya penyelenggaraan asuransi (biaya pemasaran, overhead, keuntungan perusahaan asuransi, dll). Biaya asuransi terutama tergantung pada tingkat kematian Anda (mortality rate), yang akan dikalikan dengan uang pertanggungan dan jangka waktu pertanggungan. Besarnya tingkat kematian berbanding terbalik dengan harapan hidup Anda.

Harapan Hidup

Harapan hidup Anda ditentukan oleh beberapa faktor, baik yang dapat Anda kontrol maupun tidak. Usia dan jenis kelamin adalah dua faktor yang tidak dapat Anda kontrol. Semakin tua usia Anda, semakin kecil harapan hidup Anda. Perempuan cenderung berusia lebih panjang daripada laki-laki.Perusahaan asuransi akan mengenakan premi lebih tinggi pada laki-laki dan mereka yang berumur lebih tua. (Kecuali pada polis “unisex” di mana premi untuk laki-laki disamakan dengan untuk perempuan).

Harapan hidup Anda juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan Anda saat ini dan masa lalu. Perusahaan asuransi ingin mengetahui sebanyak mungkin kondisi kesehatan Anda. Kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, obesitas, kanker dan diabetes dapat meningkatkan premi Anda atau bahkan mengakibatkan Anda ditolak. Faktor lain yang mempengaruhi harapan hidup Anda antara lain:
  • Riwayat kesehatan keluarga Anda. Beberapa penyakit cenderung menurun di keluarga sehingga bila orang tua atau saudara kandung Anda memiliki penyakit itu, Anda juga berisiko memilikinya.
  • Gaya hidup Anda (merokok, hobi berbahaya seperti terbang layang, menyelam, dll, bepergian ke daerah berbahaya)
  • Berat badan Anda. Orang dengan berat badan berlebihan rawan terkena berbagai penyakit.
Untuk mengetahui harapan hidup Anda, perusahaan asuransi akan meminta Anda mengisi kuesioner aplikasi dan mungkin meminta Anda untuk menjalani pemeriksaan kesehatan tertentu.

1. Kuesioner

Kemungkinan besar, formulir aplikasi dari perusahaan asuransi yang harus Anda lengkapi antara lain berisi beberapa pertanyaan berikut (redaksionalnya bisa berbeda, namun esensinya sama):
  • Apakah Anda merokok? Bila Anda menjawab ya. Biasanya akan ada pertanyaan lanjutan mengenai berapa banyak Anda merokok dalam sehari.
  • Apakah Anda memiliki penyakit jantung, kanker, AIDS, dll?
  • Apakah Anda memiliki hobi atau pekerjaan berbahaya?
  • Apakah Anda saat ini mengalami ketidakmampuan atau apakah Anda pensiun karena cedera atau sakit?
Menjawab “ya” untuk pertanyaan di atas dapat menyebabkan aplikasi Anda ditolak atau diterima dengan premi lebih mahal. Namun,  Anda sebaiknya tetap menjawab dengan jujur. Bila Anda berbohong dan perusahaan asuransi mengetahuinya, polis Anda dapat dibatalkan. Bila kebohongan itu baru diketahui ketika Anda sudah meninggal, klaim Anda akan ditolak. Misalnya, bila Anda menyatakan tidak merokok lalu kemudian diketahui Anda meninggal karena kanker paru yang disebabkan kebiasaan merokok Anda maka klaim Anda akan ditolak.

2. Pemeriksaan kesehatan

Bila risiko Anda tinggi dan/atau uang pertanggungan yang diminta cukup besar, Anda akan diminta menjalani pemeriksaan kesehatan. Anda harus menemui dokter yang dibayar perusahaan asuransi untuk memeriksa kesehatan umum Anda seperti tekanan darah, berat badan, dan mungkin mengambil sampel darah atau urin Anda. Untuk pemeriksaan yang lebih ekstensif, rontgen atau EKG dengan treadmill mungkin diperlukan. Darah dan urin Anda akan diperiksa lebih menyeluruh untuk melihat ada tidaknya jejak penyakit tertentu seperti hepatitis, diabetes, virus HIV, kolesterol tinggi, asam urat, dll.

Hasil penilaian harapan hidup Anda akan menentukan apakah Anda termasuk risiko preferensi, standar atau di bawah standar untuk orang dengan usia dan jenis kelamin Anda. Bila risiko Anda di bawah standar, Anda akan dikenai premi ekstra untuk mencerminkan peluang kematian Anda yang melebihi rata-rata. Bila risiko Anda termasuk jauh di bawah standar, Anda akan ditolak aplikasinya atau dikenai premi ekstra yang sangat besar.

Setiap perusahaan asuransi memiliki kebijakan underwriting sendiri untuk mengklasifikasikan siapa yang sudah termasuk berisiko di bawah standar dan siapa yang standar atau preferensi. Artinya, bila Anda dikenai premi ekstra oleh satu perusahaan, belum tentu Anda akan dikenai hal yang sama oleh perusahaan lain.

Bagaimana bila Anda dikenai premi ekstra?

Bila Anda dikenai premi ekstra, langkah pertama adalah ketahui penyebabnya. Agen asuransi Anda biasanya akan menjelaskan hal-hal yang menyebabkan Anda termasuk risiko di bawah standar. Bila penyebabnya adalah faktor-faktor yang dapat Anda kendalikan, Anda dapat mengubah gaya hidup dan kondisi kesehatan Anda. Misalnya, dengan berhenti merokok, mengelola tekanan darah dan menurunkan berat badan. Tindakan itu tidak hanya mengurangi premi Anda, tapi yang lebih penting juga meningkatkan kualitas kesehatan Anda!

Bila Anda telah memperbaiki kondisi kesehatan Anda, Anda bisa menginformasikan ke perusahaan asuransi untuk mempertimbangkan penurunan premi. Perusahaan asuransi mungkin akan menurunkan premi bila Anda memberikan bukti yang cukup mengenai perbaikan kondisi kesehatan Anda. Premi ekstra juga dapat dihapus atau dikurangi setelah periode waktu tertentu. Misalnya, bila Anda dikenai premi ekstra karena baru saja sembuh dari kanker, Anda bisa meminta perusahaan asuransi untuk mencabut premi ekstra setelah lima tahun Anda bebas kanker. Risiko kekambuhan kanker menurun seiring waktu.

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG
 SEMOGA ARTIKEL DALAM #BPG DAPAT MEMBANTU.
SALAM SAHABAT #BPG

Untuk terus mendapatkan postingan terupdate setiap harinya jangan lupa Follow twitter @david_iskandar3 bisa langsung KLIK DISINI


David Iskandar | Create Your Badge

- Copyright © 2013 BELAJAR PERBANKAN GRATIS - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Redesigned By David Iskandar