Materi Paling Banyak Dilihat

KONSEP MOTIVASI SDM

By : D.I
Saya membuat ulasan kali ini karena terinspirasi kejadian yang saya tangkap pada saat makan siang beberapa hari yang lalu (sudah sempat berfikir mau menulis di-blog, tapi kesibukan menghalangi). Jadi begini ceritanya, hari itu (sekitar pukul 12.30 wib) hari sedang panas-panasnya, saya sangat bersemangant mennyantap makanan siang itu (mie ayam). Sampai pada suatu ketika perhatian saya terfoikus kepada rombongan karyawati (5 atau 6 orang) yang datang dan duduk berdekatan dengan posisi saya. Bukan karena kecantikan atau hal lain yang membuat perhatian terfokus kepada mereka, tetapi baru sekitar semenit mereka duduk (sembari menunggu makanan dihidangkan) salah satu dari mereka membuka obrolan dengan nada mengeluh (intonasinya negatif) terhadap lingkungan pekerjaannya. Selama makan sampai selesai makan saya menyimak (otomatis mendengan karena posisi kami dekat - terdengar) apa yang mereka perbincangkan, panjang lebar, intinya mereka mengeluhkan lingkungan tempat mereka bekerja, tidak puas dengan pemimpin, mengeluhkan pekerjaan, dan yang lebih menarik lagi salah satu dari mereka mengeluhkan bekerja hanya sebatas "terpaksa" saja untuk menghabiskan waktu.

well, sepertinya cerita yang baru saya deskrpisikan diatas bukanlah suatu hal yang tabu, sudah biasa kita dengar curhatan seperti itu? bahkan kita pun pernah mengalaminya langsung, atau bahkan kita sendiri yang sering curhat. Saya pribadi pun pernah mengalaminya.

Sebelum memulai ke pokok bahasan, perlu saya informasikan bahwa saya pribadi sangat setuju bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan asset yang paling berharga bagi sebuah organisasi/perusahaan. Namun karena SDM merupakan asset yang berharga, perlu cara "perawatan" khusus, bukan hanya khusus bahkan harus yang spesial. Dimulai dari mana? Tentu dalam hal ini Leader-dsb lah yang seyogyanya bertanggung jawab me-manage asset (SDM) ini. 

Saya bukanlah seorang yang ahli dibidang MSDM (Manajemen SDM), apa yang ingin saya bagikan pada postingan kali ini semata-mata hanya saran dan masukan yang saya sarikan dari pengalaman pribadi :) 

Ada beberapa hal yang ingin saya bahas kali ini terkait dengan SDM, yaitu :
(Pada postingan kali ini saya akan mengulas Konsep Motivasi)

KONSEP MOTIVASI


Ya kata motivasi sepertinya sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita, bagi saya motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang megeluarkan-mengupayakan kemampuan terbaiknya untuk mencapai tujuannya. Apa hubungannya dengan SDM? Tentu seorang leader harus bisa memotivasi SDM dalam organisasinya (ingat SDM merupakan "asset" terpenting bagi organisasi), leader harus peka terhadap motivasi SDM nya. Dalam kajian akademis-pun kita harus memahami apa yang disebut dengan "Konsep Motivasi" sedikitnya ada 4 konsep motivasi yang harus diketahui oleh seorang leader, yaitu sbb : 

a. Teori Hirarki Kebutuhan Maslow

Nama siapa yang terlintas dalam benak anda saat mendengat "Teori Hirarki Kebutuhan"? Yapp.... Tepat sekali, Abaraham Maslow. Teori yang sangat "Populer" dikalangan akademisi maupun praktisi, perhatikan gambar dibawah : 

Hirarki Kebutuhan Manusia
Menurut Maslow, ada lima hirarki (tingkatan/level) kebutuhan manusia mulai dari yang terendah (Kebutuhan Phsyological) hingga yang tertinggi - mengerucut keatas piramida (Self Actualization). Level-level tersebut adalah sbb: 

Level 1 - Kebutuhan Psikologis 
Kebutuhan Psikologis dapat digambarkan seperti kebutuhan jasmani (lapar, haus, sex, tidur, dan kebutuhan jasmani lainnya). 

Level 2 - Rasa Aman dan Perlindungan (Safety) 
Kebutuhan akan rasa aman terhadap jasmaninya dan emosionalnya

Level 3 - Rasa Cinta ( Social)
Kebutuhan akan kehidupan bersosial (misalnya merasa mencintai, dicintai, kebersamaan, penerimaan, pertemanan, solideritas, dsb)

Level 4 - Harga Diri (Esteem) 
Kebutuhan akan "Pengakuan" seperti (menghargai diri sendiri, penghargaan terhadap diri sendiri, status, dikenali/dihargai, diperhatikan, dsb)

Level 5 - Aktualisasi Diri
Meningkatkan kapabilitas dalam dirinya, meningkatkan potensi yang dimiliki, dan kepuasan tersendiri yang ingin dicapai terhadap apa yang dikerjakannya. 


Siapa yang tidak kenal dengan Teori Maslow ini? Teori ini selalu didengungkan baik saat dibangku kuliah ataupun di seminar-seminar yang bertemakan Manajemen SDM, Namun meski sangat populer saya pribadi merasa bahwa teori ini tidak sepenuhnya dapat menjadi "guide" didalam memotivasi SDM (makanya ini hanya Konsep Motivasi), mengapa? saya hanya berfikir sederhana, misalnya : apakah seorang yang kelaparan tidak membutuhkan rasa aman? lalu tidak membutuhkan cinta, karena kebutuhan fisiknya belum terpenuhi? pernahkah anda mendengar ungkapan "makan gak makan yang penting kumpul?" . Tentu ini hanya pendapat pribadi saya, 


b. Teori X dan Y

Teori ini juga sangat populer, sama populernya dengan teori Maslow, teori X dan Y dikenal juga dengan sebutan "Teori Mc-Gregor" diciptakan oleh Douglas Mc-Gregor. Teori ini mengatakan bahwa ada 2 tipe manusia, yaitu tipe yang negatif (Type X) dan satunya positif (Type Y). 

Type X - Negatif 
Menurut Mc-Gregor, orang Type X pada dasarnya malas untuk bekerja, tidak suka bekerja, dan bekerja lebih suka "diarahkan" saja. Makanya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan orang Type X ini harus "diancam dengan hukuman".

Type Y - Positif
Orang Type Y dikategorikan oleh Gregor bahwa pada dasarnya bekerja merupakan sebuah tanggung jawab, bekerja sebagai sarana untuk berkembang, bekerja sebagai sarana untuk melatih dan mempertajam kapasitas, oleh karena itu orang-orang Type Y ini hanya perlu diberikan "Motivasi" contohnya diikut sertakan dalam pengambilan keputusan (agar bisa merasa tanggung jawab), diberikan tantangan-tantangan dalam bekerja, dijalin relasi antar grup, dsb.


c. Two Factor Theory by Frederick Herzberg (Hygiene Factor)


Nah saya lebih sependapat dengan teori yang dikembangkan oleh Hersberg ini, intinya si Herzberg bilang bahwa ada 2 faktor yang berkaitan dengan kepuasan/memotivasi SDM yaitu :

1. Motivation Factor 
Motivasi yang tepat dapat memberikan kepuasan/semangat kepada SDM, dan sebaliknya apa bila SDM tidak dimotivasi maka dapat berdampak ketidakpuasan terhadap pekerjaan.

2. Hygiene Factor
Nah hygiene factor ini yang menarik buat saya, jadi dalam menurut Herzberg ada hygiene factor yang jika diberikan maka akan menimbulkan No-Dissatisfaction (Hanya tidak kecewa saja - tidak menambah kepuasan) namun apabila dikurangi hygiene factor tadi malah akan menimbulkan Dissatisfaction (ketidakpuasan), contohnya dari Hygiene Factor yang dapat saya berikan adalah sebagai berikut :

Misalnya di suatu kantor cabang Bank, Manajer menetapkan bahwa setiap pegawai yang pulang melebih jam pulang kantor akan mendapatkan uang lembur dan disamping itu juga mendapatkan jatah makan malam, Pemberian jatah makan malam merupakan Hygiene Factor, sebenarnya jika tidak diberikan pun tidak ada masalah, dan walaupun diberikan hanya membuat SDM No-Dissatisfaction (tidak kecewa). Namun apabila Hygiene Factor tersebut dihentikan (tidak ada lagi jatah makan malam untuk karyawan yang lembur) inilah yang dimaksud akan membuat karyawan menjadi Dissatisfaction (Kecewa/Tidak Puas). - Nah hati-hati bermain dengan Hygiene Factor hehehe.


d. McClelland's Theory of Needs (Teori Kebutuhan)

 Konsep motivasi yang dikembangkan oleh McClelland, ada tiga teori kebutuhan yaitu :

1. Kebutuhan akan Penghargaan
2. Kebutuhan akan Kekuasaan
3. Kebutuhan akan Afiliasi

Contoh yang bisa saya berikan adalah sebagai berikut :

Misalnya anda adalah seorang yang kompeten untuk menjadi Manajer disebuah Bank, ada 5 Bank yang memberikan anda tawaran :
- Bank A, memberikan tawaran gaji 10juta, Banknya masih sederhana, anda sangat yakin anda mampu menjadi apa yang perusahaan inginkan dan sepertinya ini bukan pekerjaan yang sulit, bahkan bagi kebanyakan orang dibidangnya.

- Bank B, memberikan tawaran gaji 15juta, Bank B sedikit lebih komplek dibandingkan dengan Bank A, risiko anda gagal paling hanya 20%, karena pekerjaan yang ditawarkan sepertinya mudah dan pasti bisa dikerjakan paling tidak oleh 80% kebanyakan orang.

- Bank C, memberikan tawaran gaji 20juta, dan kali ini hanya 50% orang yang dirasa mampu mengambil pekerjaan ini, Jika anda sukses dalam pekerjaan ini berarti kemampuan anda melebihi 50% dari kebanyakan orang dibidang pekerjaan ini.

- Bank D, memberikan tawaran gaji 25 juta, namun tantangannya lebih besar, hanya ada 20% orang yang mampu mengambil pekerjaan ini.

- Bank E, Memberikan tawaran gaji tertinggi, yaitu 30 juta, kali ini anda harus benar-benar fokus karena pekerjaan pada Bank E menuntut kemampuan terbaik anda, jika anda sukses maka Anda dapat dijadikan panutan/sorotan bagi orang-orang dibidang anda.

Mana yang anda pilih? apakah sesuai dengan teori McClelland? :)




 Disampin keempat teori konsep motivasi diatas, masih banyak konsep motivasi "Kontemporer" namun menurut bagi saya keempat teori diatas sepertinya cukup untuk dijadikan konsep kita dalam memotivasi..
lalu Bagimana kita dapat memotivasi SDM? agar bisa bekerja secara Happy? menganggap pekerjaan bukan sebagai beban? dan memiliki sense oh belonging terhadap organisasi? ........... Tunggu Postingan selanjutnya ya..... :)


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



The Fed naik 0,25%

By : D.I

Indonesia dan negara Emerging lainnya, selama ini harap-harap cemas menunggu kepastian The Fed terkait dengan rencana Bank Sentral negara Adidaya tersebut yang akan menaikkan tingkat suku bunga. "Penantian" akan kepastian hal tersebut (kenaikan suku bunga The Fed) akhirnya terjawab hari ini. Ya, terhitung hari ini The Fed resmi mengumumkan kenaikan suku bunga acuan dari 0,25 menjadi 0,5%. Kenaikan suku bunga acuan ini merupakan cerminan bahwa saat ini Amerika mulai masuk dalam kebijakan yang lebih ketat.. Lalu bagaimana imbasnya kepada Indonesia? 

Masih segar diingatan kita, saat masa-masa galau menunggu kepastian langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan, saat itu bertepatan dengan langkah Pemerintah China yang melakukan devaluasi Yuan, ditambah lagi dengan ulah spekulator yang mengharapkan windfall profit sehingga pada saat itu rupiah nyaris menyentuh angka Rp15.000 per Dollar AS (USD).

Saya terkagum membaca komentar salah satu sosok idola saya yaitu bapak Faisal Basri, seperti dikutip dalam detik.com berikut ini : 

"The Fed umumkan naik 0,5% tapi kan inflasi AS 0,5%. Itu hanya impas. Kalau Indonesia, inflasi 4,9% dengan BI Rate 7,5% jadi selisih 2,6%. Padahal Desember inflasi kisaran hanya 3%. BI masih tinggi saja suku bunganya. Behaviour BI macam apa itu,"  dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Indonesia (FDEI) di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (17/12/2015. 

Sungguh analisis yang sangat cerdik dari seorang Ekonom seperti Faisal Basri. Terlepas dari diturunkan atau dinaikkannya BI-Rate, kita tunggu kepastiannya, dan respon BI yang kabarnya saat ini sedang mengadakan RDG. 

Tantangan Kedepan 

Dari kacamata saya sebagai seorang pelajar, untuk kedepannya (apalagi mengingat The Fed akan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap) maka potensi pelemahan rupiah terhadap USD merupakan fokus utama BI saat ini. setidaknya ada 2 alasan menurut saya yang akan menyebabkan USD menguat terhadap Rupiah : 

Pertama, kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuan merupakan pergerakan besar dari easy money kepada kebijakan yang lebih ketat dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi AS dan menarik dana masuk ke AS (Meski berimbang antara inflasi dan suku bunga acuan). Dengan kata lain, kedepannya AS sendiri yang menyebabkan mata uangnya menguat. 

Kedua, kebijakan ekonomi negara-negara emerging (yang juga merupakan "rekan bisnis" Indoensia) yang sifatnya "lebih akomodatif" tujuannya sama dengan AS, yakni untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masing-masing negara, namun secara tidak langsung membuat mata uang AS semakin menguat.

Disisi lain, banyak Pekerjaan Rumah yang harus diselesaikan oleh bangsa ini. Salah satunya adalah masalah sturktural, dimana Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah (minim value added). Disamping itu, geliat perekonomian dalam negeri harus terus ditingkatkan dengan cepat memberlakukan Paket-paket kebijakan deregulasi dibidang ekonomi. Disamping itu, peran BI dalam perekonomian makro yang sifatnya lebih sebagai antisipasi kondisi ekonomi baik global maupun nasional harus terus ditingkatkan dan lebih proaktif.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

REVALUASI FIX ASSET BANK

By : D.I


Telah kita ketahui bersama bahwa belum lama, Pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi V dalam rangka transformasi peraturan perundangan perekonomian Indonesia. 

Yang menarik bagi saya adalah ketentuan dalam Paket Kebijakan Ekonomi V tersebut mengenai keringanan pengenaan pph final terkait Revaluasi Aktiva Tetap yang berlaku untuk Wajib Pajak BUMN maupun Swasta yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 191//PMK.010/2015 Tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan Yang diajukan pada Tahun 2015 dan Tahun 2016. 

Kira-kira sudah hampir sebulan ketentuan tersebut dikeluarkan, terkait dengan judul postingan kali ini, apa dampak yang dapat dirasakan oleh Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK - dalam hal ini Bank) terkait dengan keringanan pph final revaluasi aktiva tetap tersebut?  

Saya memiliki persepsi sebagai berikut : 

1. Pertama-tama marilah kita mencermati niat baik Pemerintah dalam PMK 191 tersebut : 


Dalam PMK 191 diatur tarif pph final untuk Revaluasi Aktiva tetap adalah sebagai berikut : (Pasal 1 ayat 2 PMK 191) 
 Perlakuan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Pajak Penghasilan yang bersifat           final sebesar: 
 a. 3% (tiga persen) , untuk permohonan yang diajukan sejak berlakunya Peraturan Menteri ini                 sampai dengan tanggal 31 Desember 2015;

 b. 4% (empat persen), untuk permohonan yang diajukan sejak 1 Januari 2016 sampai dengan 
              tanggal 30 Juni 2016; atau

 c. 6% (enam persen) , untuk permohonan yang diajukan sejak 1 Juli 2016 sampai dengan                         tanggal 31 Desember 2016,
 yang dikenakan atas selisih lebih nilai aktiva tetap hasil penilaian kembali atau hasil perkiraan 
 penilaian kembali oleh Wajib Pajak, di atas nilai sisa buku fiskal semula.

Keringanan pajak (perlakuan khusus) yang diatur dalam PMK 191 cukup signifikan, pph final untuk revaluasi aktiva tetap yang semula dikenakan tarif 10%. 

Keringan pajak tersebut dapat dijadikan momentum bagi Wajib Pajak (Bank) untuk menaikkan jumlah assetnya serta menambah leverage Perusahaan. Disisi lain, dapat dipastikan penerimaan pajak Pemerintah pun akan mengalami peningkatan (menurut berita yang saya ikuti, beberapa Bank Persero sudah mengambil ancang-ancang untuk melakukan revaluasi aktiva tetap - belum lagi BUMN yang lainnya.) 

2. Kedua, saya mencoba melihat dari sudut pandang PUJK (bank) 
terkait PMK 191 ini. Dalam kondisi yang sehat (apalagi Bank Umum golongan BUKU 3, dan 4) PMK 191 ini harus direspon baik dan cepat tanggap (Ingat masih ada waktu sekitar 30 hari untuk mendapatkan perlakuan khusus pph 3%). Mengapa peraturan ini harus direspon oleh bank? sederhana saja, dengan bertambahnya selisih lebih nilai aktiva tetap maka akan berimbas kepada penambahan Modal Bank (Modal untuk perhitungan KPMM/CAR) yang dapat meningkatkan jumlah porsi penyaluran kredit yang dibatasi oleh ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Tentu bisa ditebak, sektor apa yang membutuhkan porsi besar? ya... anda benar, sektor infrastruktur. 


3. Ketiga, "harus disesuaikan dengan kondisi keuangan bank" 

Jika dari awal saya menyebut-nyebut "bank" jangan lupa bahwa Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga termasuk Bank. Kenyataannya tidak sedikit BPR yang masih memiliki asset relatif jauh dibawah bank umum, kita dapat dengan mudah menemukan BPR dengan asset kurang dari Rp100 miliar. Haruskah BPR melakukan Revaluasi Aktiva tetap ? Tentu jawabannya harus disesuaikan dengan kondisi keuangan bank. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan bagi bank umum atau BPR dengan asset relatif "kecil" atau masi dalam tahap berkembang : 

a. Dalam hal Bank Umum atau BPR yang memiliki Rasio ROA hampir "mepet" antara sehat dan kurang sehat atau apalagi dalam keadaan merugi, dengan melakuan Revaluasi Aktiva Tetap akan menggerus ROA (mengurangi ROA). 

b. Dalam hal Bank Umum atau BPR yang memiliki rasio BOPO menjurus kearah tidak efisien dan jumlah Aktiva Tetapnya cenderung signifikan (setelah diadakan revaluasi) perlu diperhitungkan lagi beban pph final dan penyusutan Aktiva Tetap (setelah direvaluasi) kedepannya.

c. Jika selama pengalaman Bank Umum atau BPR jarang memberikan kredit yang tidak mmenyentuh BMPK, atau dirasa BMPK selama ini sudah cukup. Pertimbangan Revaluasi Aktiva Tetap lebih ditekankan kepada faktor-faktor lain, misalnya tujuan untuk meningkatkan Asset dsb.

d. Kebalikan dari poin c,  jika kondisi pasar yang dihadapi Bank Umum atau BPR selama ini lebih banyak mengharuskan Bank tsb mengucurkan Kredit "hampir-hampir" menyentuh BMPK maka Momen kali ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya (ada perlakuan khususnya loh.. ingat PMK 191). tanpa merogoh kocek pemegang saham BMPK sudah bisa naik (lebih gampang dikatakan begitu). 


4. Butuh Konsistensi
Saya belum mempelajari secara mendetail dan mengelotok dikepala mengenai pedoman Akuntansi baik yang berlaku di Bank Umum ataupun BPR namun sepengetahuan saya, Revaluasi Aktiva Tetap tidak diperkenankan hanya untuk tujuan "keuntungan" tertentu (mengapa saya menulis keuntungan, karena idealnya Revaluasi Aktiva Tetap dilakukan jika nilai buku aktiva tetap lebih rendah dibanding nilai pasar sekarang, atau gampangnya revaluasi aktiva tetap mungkin dilakukan apabila sudah didapat gambaran ada perbedaan nilai buku dan pasar atas aktiva tetap yang mengalami kenaikan. Perlu diingat revaluasi juga bisa menghasilkan nilai pasar yang lebih rendah dibanding nilai buku, contoh saja: jika anda memiliki aktiva tetap yang sekarang sudah tertimbun lumpur?). Kembali lagi kesoal konsistensi, setelah melakukan revaluasi aktiva tetap jika saya tidak salah (koreksi ya kalau salah) harus menerapkan revaluasi secara konsisten (ada periodenya, misalnya 5 tahun kedepan harus melakukan revaluasi aktiva tetap tsb, dsb). 


Sebagai informasi tambahan, jika diatas sudah saya singgung bahwa revaluasi (terjadi selisih lebih harga pasar dan nilai buku) dapat menambah BMPK Bank. Maksudnya adalah, jika terjadi revaluasi dengan selisih lebih harga pasar dengan nilai buku, maka selisih tersebut mesuk kedalam pos surplus revaluasi aktiva tetap (Bagian dari Ekuitas). Selisih lebih revaluasi tidak diakui kedalam komponen laba/rugi tahun berjalan (Lain halnya apabila Aktiva Tetap tersebut dijual, barulah selisih harga pasar dan nilai buku Aktiva Tetap tsb dimasukan dalam pos pendapatan non-operasional yang mempengaruhi laba/rugi tahun berjalan suatu bank).

Jadi apakah anda akan melakukan Revaluasi Aktiva Tetap ??? kalau iya, jangan lewat dari tahun 2016 ya.......

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

RUANG FISKAL R-APBN 2016

By : D.I

Akhirnya, tercapai juga keinginan untuk memposting blog sederhana ini, karena sebelumnya sudah sekitar 2 bulan yang lalu saya ingin ngetik postingan kali ini, akan tetapi acara dan kegiatan yang super padat selalu menghalangi (ingin rasanya blogspot dapat mengenali perintah suara sehingga tidak perlu repot mengetik, hehehehe).

Kali ini kita akan sedikit R-APBN 2016, Sebelumnya silahkan diamati dulu tabel yang telah saya buat yaitu  perbedaan APBN-P 2015 dengan R-APBN 2016, dibawah ini :

        (Dalam triliun rupiah) 

APBN-P
R-APBN
2015
2016
A. Pendapatan Negara


1761.6
1848.1

I.
Penerimaan Dalam Negeri
1758.3
1846.1


1. Penerimaan Perpajakan
1489.3
1565.8


(tax ratio)
12.7
13.25


2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
269.1
280.3

II.
Penerimaan Hibah
3.3
2
B. Belanja Negara


1984.1
2121.3

I.
Belanja Pemerintah Pusat
1319.5
1339.1


a.l Infrastruktur
290.3
313.5


Belanja K/L
795.5
780.4


Belanja Non K/L
524.1
558.7


a.l Subsidi
212.1
201.4

II.
Transfer Daerah dan Dana Desa
664.6
782.2
C. Keseimbangan Primer


-66.8
-89.8
D. Surplus Defisit Anggaran


-222.5
-273.2


% Terhadap PDB
-1.9
-2.1
E. Pembiayaan (I-II)


222.5
273.2

I.
Pembiayaan Dlm Negeri
242.5
272


a.l Surat Berharga Negara (netto)
297.7
326.3

II.
Pembiayaan Luar Negeri (netto)
-20
12


a.l Penarikan Pinjaman
48.6
72.8



Terbatasnya Ruang Fiskal R-APBN 2016

Perhatikanlah kolom-kolom yang saya fill dengan warna merah, kita perlu mengapresiasi seluruh jajaran yang sudah bekerja keras sehingga R-APBN 2016 (meski belum disahkan) dapat tersusun. Pada R-APBN 2016, baik anggaran Pendapatan maupun Belanja mengalami peningkatan. Hal yang menurut saya perlu mendapatkan perhatian kita adalah Sbb :
  •  Defisit R-APBN 2016 meningkat menjadi 2,1 % PDB.
  •   Defisit tsb a.l digunakan untuk peningkatan Anggaran Infrastruktur.
  •   Pembiayaan Defisit melalui SBN yg berpotensi menimbulkan crowding out effect.
  •   Meningkatnya risiko pembiayaan luar negeri.

Defisit yang sedemikian besar (meningkat dari sebelumnya) dibiayai oleh SBN. Dari kacamata saya yang masih sangat awam, alternative yang diambil untuk menutupi defisit tersebut dapat menimbulkan terjadinya Crowding Out Effect.  

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa suku bunga (return-yield) yang ditawarkan oleh SBN pastilah lebih tinggi jika dibandingkan dengan produk simpanan perbankan - deposito misalnya. Oleh karena itu, sangat logis jika kita dapat menyimpulkan bahwa kedepannya potensi persaingan antara Negara dan Pelaku Usaha Jasa Keuangan Perbankan Nasional dalam hal menghimpun dana akan sedikit ketat.

Selanjutnya, hal yang perlu mendapat perhatian adalah meningkatnya pinjaman luar negeri, tentu pinjaman luar negeri bukanlah suatu momok yang buruk. Namun Pemerintah dan Kementerian terkait haruslah benar-benar mengupayakan agar pinjaman luar negeri dapat digunakan seoptimal mungkin sehingga dapat berimbas postif kepada rakyat. Disisi lain adalah optimisme Pemerintah dalam menargetkan penerimaan pajak yang harus didukung oleh seluruh Wajib Pajak di Indonesia, karena manfaat penerimaan pajak bagi negara dan masyarakat sangat berdampak positif terhadap kemajuan taraf hidup masyarakat dalam suatu negara.

So, kita dukung terus pemerintahan dan program-program pembangunan bangsa ini untuk Indonesia yang lebih maju.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

EL NINO mengundang NPL?

By : D.I

Saya terinspirasi membuat postingan ini saat sedang menonton tv dan terdapat running text yg menginformasikan bahwa  musim kemarau akan lebih panjang akibat fenomena el nino.

Memang bisa dirasakan musim kemarau kali ini lebih panjang dari biasanya, setidaknya musim penghujan baru akan datang awal november nanti (http://m.okezone.com/read/2015/07/30/337/1187947/bmkg-kekeringan-di-indonesia-dampak-el-nino).

Tentu sektor yang paling merasakan dampak kekeringan ini adalah sektor pertanian, kekeringan dahsyat yg melanda selama ini menyebabkan petani di berbagai daerah gagal panen. Sederhananya saja, maka schedule pengembalian terhadap kredit yg disalurkan ke sektor ini kemungkinan besar akan terganggu dan berpotensi berdampak pada menurunnya kualitas kredit (menurunnya kolektibilitas). 

Lebih jauh lagi, industri kecil-menengah seperti restoran bisa saja ikut merasakan dampak karena terganggunya supply bahan baku, jika bahan baku langka maka harga bahan baku tersebut akan naik, lalu otomatis harga2 makanan yg dijual oleh restoran juga akan meningkat. Jika daya beli konsumen masih bisa menjangkaunya tentu hal tsb tidak memiliki dampak yg signifikan. Masalah baru timbul jika daya beli masyarakat ikut menurun sehingga tidak dapat menjangkau harga2 makanan yg ditawarkan, jika dibiarkan, tentu restoran2 akan mengalami penurunan omset yg dapat berujung pada penurunan laba (atau dalam kondisi yg ekatrim bisa saja merugi), selanjutnya tentu kredit yg disalurkan kepada industri kecil-menegah khususnya restoran juga berpotensi meningkatkan NPL.

Pesan yg ingin saya sampaikan dari iluatrasi diatas adalah : 

Tidak dapat dipungkiri terdapat berbagai macam portofolio kredit yg dimiliki suatu bank (tujuan ini juga bermaksud untuk menyebar risiko). Dalam rangka menerapkan manajemen risiko dan menjalankan prinsip kehati-hatian bank, maka bank perlu mempertimbangkan segala macam aspek, tidak terkecuali yg berasal dari eksternal bank (unexpected) seperti kebijakan dalam negeri, bencana alam, kondisi persaingan di setiap sektor industri, dll. Dengan bersikap pro aktif setidaknya bank dapat menentukan langkah2 antisipasi yg nantinya dapat memitigasi dampak risiko yg mungkin terjadi. 

So, benar kata dosen saya dulu (trims pak Ian Jacob), bankir itu dituntut memiliki kapasitas dan kompetensi dalam menjalankan profesinya serta harus memiliki hati nurani (etika) seorang bankir. 






Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

LIKUIDITAS VS OMSET

By : D.I
Saya teringat ajaran dosen saya pada saat berkuliah di Akademi perbankan Yayasan UKI, saat itu sy sedang membahas pelajaran ALMA. Dosen saya menganalogikan bahwa antara likuiditas dan profitabilitas memiliki tujuan yg berbeda ibarat buah simalakama. Jadi mudahnya saja, boleh2 saja bank melakukan ekspansi kredit yg gencar untuk meningkatkan ptofitabilitas seoptimal mungkin (agresif), namun tentu kemampuan likuiditas bank akan berkurang. Sebaliknya, jika bank lebih konservatif untuk menjaga kemampuan likuiditasnya, namun tentu dana ekspansi untuk kredit (yg notabene nya merupakan   Pendapatan bank terbesar didapat dari bunga kredit) jadi tidak bisa terlalu gencar digelontorkan. Seperti photo diatas, mr Pontell berpendapat bahwa semakin besar likuiditas, makin besar kemungkinan akan disalahgunakan. Membaca kalimat tersebut, memang benar demikian adanya, saya pribadi pun sering melihat hal serupa dilapangan. Sekedar ingin memberikan pendapat terhadap pendapat Pontell diatas, kata "disalahgunakan" identik dengan perbuatan yg "disengaja".

Namun penyalahgunaan kelebihan likuiditas (dengan semangat untuk mengurangi iddle money) bisa saja bukan sebuah kesengajaan. Target untuk mencapai profitibilitas ditambah dengan kondisi kelebihan likuiditas, dapat mengakibatkan toleransi bank dalam menyalurkan kredit menjadi lebih longgar,  sehingga tidak dilakukan cukup screening terhadap pencairan kredit. 

Tentu dari penjabaran diatas setidaknya secara sederhana, saya dapat menarik beberapa kesimpulan :

1. Likuiditas merupakan suatu hal yg sangat penting dalam kegiatan usaha perbankan dan harus dijaga secukup-cukupnya oleh bank.

2. Pangkal dari masalah yg telah diuraikan diatas adalah "kelebihan likuiditas". Sekiranya apabila pengelolaan ALMA sudah di maintenance dengan baik, dan mempelajari historis  karakteristik/ volatilitas portofolio dpk yg dimilikinya, maka kejadian kelebihan likuiditas dapat ditekan seminimal mungkin.
Sekian.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

SELAMAT IDUL FITRI

By : D.I
BPG dengan ketulusan hati mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, selamat hari raya Idul Fitri 2015.

Semoga kerukunan, kedamaian, kasih dan toleransi antar sesama dapat selalu tumbuh pada setiap hati nurani.



Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge
Tag : ,

- Copyright © 2013 BELAJAR PERBANKAN GRATIS - Date A Live - Powered by Blogger - Redesigned By David Iskandar