Materi Paling Banyak Dilihat

Apa sih PANAMA PAPERS

By : David Iskandar
Seperti biasa sehabis selesai mengajar perkuliahan kelas malam BPG selalu santai dulu sebelum pulang. Dikala BPG sedang santai duduk-duduk, tiba-tiba terdapat notifikasi WA dari salah seorang teman, setelah selesai membaca ada senyum tipis dibibir BPG (Arigato Bro Toras). WA tersebut adalah perumpamaan yang sangat sederhana tentang skandal PANAMA PAPERS yang belakangan ini sedang mencuat seantero publik. Yuk, kita simak ulasan berikut:


Image source:
https://panamapapers.icij.org


Panama Paper

Budi punya celengan ayam di rumah. Tapi maminya Budi selalu cek isi celengan Budi setiap kali Budi memecahkan / membuka celengannya.

Amir juga punya celengan Ayam di rumahnya sendiri tapi gak pernah di cek sama maminya Amir. Maka Budi titip celengan Ayamnya di rumahnya Amir.

Mendengar bahwa Celengan ayam Amir gak pernah di cek sama mamanya Amir. Maka teman2 Amir dan Budi semua titip celengan Ayam di rumah Amir. (Ini offshore investment)

Suatu hari mamanya Amir periksa kamar Amir dan mendapati ada banyak celengan Ayam disana (ini accidental audit) lengkap dengan label nama pemiliknya (inilah Panama Paper). Maka mama Amir mengontak semua Mama-Mama penitip celengan Ayam.

Ternyata Budi menitipkan celengan Ayam disana karena Mama Budi memaksa Budi untuk memberi kolekte dari celengan itu setiap Budi memecahkan celengannya (ini pajak)

Tapi Tigor mengisi celengannya dari hasil memalak teman-temannya (ini money laundering)

Acong mengisi celengannya dari hasil berjualan es lilin di sekolah tanpa ijin ortunya yang menginginkannya fokus pada sekolahnya (ini illegal business)

dll dsb

Bagaimana? Perumpamaan yang sangat sederhana namun mengena kepada esensinya dan dapat menjadi sedikit pencerahan bagi sahabat pembaca sekalian.

Berita seputar Panama Papers dapat merujuk ke situs:

https://panamapapers.icij.org

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



Sudah Lapor SPT Pph?

By : David Iskandar
Kira-kira seminggu lalu #BPG main ke kantor teman, tidak terlalu siang. Kebetulan ada teman #BPG yg sedang sibuk kutak katik karena keseringan gagal login untuk masuk web djp saat ingin melapor SPT secara online,setelah beberapa kali mencoba baru berhasil. Wajar saja, karena biasanya pada akhir bulan Maret WP pribadi baru melaporkan SPT-nya (untung saja #BPG telah melapor SPT Pph tahunan Pribadi dari jauh-jauh hari).

Seperti kita ketahui bersama bahwa Kewajiban setiap Wajib Pajak (baik pribadi ataupun badan) salah satunya adalah melaporkan SPT Pph Tahunan. 

Sesuai Ketentuan Umum Perpajakan yg berlaku saat ini, bagi WP-Pribadi SPT Pph tahunan harus disampaikan selambat-lambatnya pada tanggal 31 Maret setelah tahun pajak berakhir (1 Jan s/d 31 Des tahun sebelumnya). Waktu yg diberikan sebetulnya sudah cukup panjang yaitu kira2 90 harian.

Masalahnya, mungkin karena terlalu sibuk (lalai) atau sebab2 lainnya sehingga tidak sengaja WP lupa melaporkan SPT Pribadinya (Saat ini pelaporan SPT tahunan Pph Pribadi harus melalui e-Filling) sehingga lewat dari Jangka waktu yg diatur dalam KUP. Lalu apa konsekuensinya bagi WP Pribadi jika tidak dan/atau terlambat melaporkan SPT Pph tahunan dari batas waktu yang ditetapkan? 

Berikut adalah ilustrasinya: 


Image source :


Nah, barangkali tahun ini merupakan prestasi yang harus diacungi jempol bagi Ditjen Pajak dan Wajib Pajak Orang Pribadi. Mengapa? Ditjen pajak dengan segala sumber daya dan usahanya telah mengedukasi, menyadarkan masyarakat/WP tentang kewajibannya dalam hal perpajakan, serta penyuluhan tentang sistem e-Filling, sementara itu Wajib Pajak Orang Pribadi-pun dapat dilihat telah meningkat kesadarannya untuk melaksanakan kewajiban dibidang perpajakan (Khususnya kewajiban melapor SPT Pph tahunan Pribadi). Mengingat andil pajak sangat besar dalam penerimaan dan pembangunan negara ini, seriusan deh, kita sebagai masyarakat dan/atau WP harus benar-benar mendukung sektor pajak ini. 

Kembali ke laptop,,, apakah sahabat pembaca sekalian sudah melaporkan SPT Pph tahunan Pribadi secara e-filling? Jika ia, selamat sahabat adalah warga negara yang taat pajak. Untuk yg belum? Buruan lapor... 

Namun, saat ini website yg digunakan untuk melapor SPT secara e-Filling sedang mengalami kendala/tidak dapat diakses (server sedang sibuk) atau bisa dikatakan sedang overload mungkin terlalu banyak yang mengakses untuk melaporkan SPT Pph tahunan pribadi. Ditjen pajak sampai memberikan apresiasi loh terhadap WP Orang Pribadi atas antusiasme dalam melaporkan SPT Pph tahunan pribadi secara e-filling. 

Lalu bagaimana? Apakah WP OP yg belum melapor SPT Pph tahunan pribadi akan dikenakan sanksi? 

Jangan khawatir, karena saat ini website untuk melapor secara e-filling sedang mengalami kendala, maka bagi anda yang belum melapor SPT Pph tahunan pribadi dapat melapor melalui e-filling hingga selambat-lambatnya sampai tanggal 30 April 2016, dikecualikan dari sanksi administrasi berupa denda atas keterlambatan penyampaian SPT. Hal ini dituangkan dalam pengumuman Ditjen Pajak No. Peng-03/PJ.09/2016 tanggal 30 Maret 2016. (Terima kasih bro Sabar yang pertama kali memberitahu #BPG soal informasi ini via WA).





Akhir kata, bagi WP Orang Pribadi yang belum lapor SPT Pph tahunan Orang Pribadi, segeralah melapor via e-filling masih ada waktu hingga 30 April 2016. Bagi Ditjen Pajak, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran WP tentang kewajiban dan kontribusi pajak bagi negeri ini tentunya merupakan prestasi yang membanggakan, (bro Sabar bahkan menilai ini merupakan terobosan yg cukup signifikan bagi perpajakan).

Thanks 

Tips: sering-seringlah mengunjungi situs www.pajak.go.id untuk mendapatkan berita, informasi dan edukasi seputar perpajakan. 

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



Tag : ,

RUU PPKSK

By : David Iskandar


Rancangan Undang Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan telah disetujui oleh DPR pada tanggal 17 maret 2016 yg lalu. Ruang lingkup RUU mencakup: Pertama,  pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan. Kedua, penanganan krisis sistem keuangan. Ketiga, penanganan permasalahan bank sistemik baik dalam stsbilitas sistem keuangan normal ataupun kondisi krisis sistem keuangan.


Poin 1,

#BPG sangat senang akhirnya RUU PPKSK disahkan, RUU ini mengedepankan pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan. Upaya yg ditempuh adalah dengan meningkatkan sinergi antara Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS sesuai dengan tugas fungsi dan wewenang yg diatur dalam UU. Dengan adanya kordinasi antara lembaga yg tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) diharapkan upaya pencegahan krisis sistem keuangan dapat dioptimalkan.
Masih membahas poin 1, upaya pencegahan krisis dilakukan melalui penguatan sistem perbankan-khususnya bagi bank yang ditetapkan berdampak sistemik baik dari segi asset, modal dan kewajiban, luas jaringan, kompleksitas transaksi jasa perbankan serta keterkaitan dengan sektor keuangan lain yg dapat mengakibatkan gagalnya sebagian atau keseluruhan bank lain atau sektor jasa keuangan apabila bank tersebut mengalami gangguan atau kegagalan (sangat jelas definisi mengenai bank berdampak sistemik), hebatnya lagi penetapan bank berdampak sistemik harus ditetapkan saat kondisi sistem keuangan normal (bukan pada saat bank tsb bermasalah) dan harus dilakukan pemutakhiran daftar bank berdampak sistemik setiap enam bulan sekali.  Hal tersebut menegaskan bahwa RUU PPKSK ini serius dalam melakukan pemantauan dan pencegahan krisis sistem keuangan serta menuntut otoritas berperan sangat proaktif terhadap gejala-gejala yang dapat mengakibatkan instabilitas sistem keuangan - terutama dari sektor Perbankan.

Poin 2,

Mengadopsi sistem yg diterapkan oleh Negara-negara G-20, bahwa penanganan permasalahan bank dikedepankan dengan konsep bail in, jadi ketika ada permasalahan likuiditas ataupun solvabilitas maka sumber daya yg ada pada bank itulah yg harus digunakan (asset bank, pemegang saham ataupun kreditur bank) sehingga tidak harus negara melulu yang menanggung (bail out). Dalam hal bank mengalami permasalahan solvabilitas RUU ini memberikan metode baru berupa: Pertama,  pengalihan sebagian atau seluruh asset/kewajiban bank kepada bank lain. Kedua, pengalihan kepada bank baru yang didirikan sebagai bank perantara (bridge bank) - menurut #BPG mungkin akan diatur lebih rinci dalam Peraturan LPS ataupun Peraturan OJK.

Poin 3,
Pemerintah selaku kepala negara memegang kendali penuh dalam menangani krisis sistem keuangan. Dalam RUU diatur bahwa Presidenlah yang bertindak selaku penentu akhir kondisi stabilitas sistem keuangan (dengan rekomendasi dari KSSK), apakah dalam kondisi normal atau kondisi krisis sistem keuangan.

Akhir kata, RUU PPKSK merupakan terobosan didalam meningkatkan peran, kordinasi dan sinergi antar otoritas yang terkait dengan sistem keuangan di Indonesia dan sekaligus memperkuat ketahanan stabilitas sistem keuangan di Indonesia.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



Selamat Paskah 2016

By : David Iskandar
#BPG mengucapkan Selamat Paskah 2016 bagi seluruh sahabat pembaca yg merayakannya.


Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5)

Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang. (Wahyu 2:25)

Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apa pun yang ada."  (1 Samuel 21:3)

Tuhan tidak pernah melihat apa yg tidak dimiliki oleh anak2 Nya, melainkan apa yg ada pada anak2 Nya. | Dimata Tuhan kita jauh lebih bernilai dibanding siapapun yg menilai kita, termasuk kita sendiri.

Tuhan ingin kita memaksimalkan apa yg ada pada kita, apa yg kita miliki. Bukannya terfokus dengan apa yg kita tidak miliki. | Tuhan ingin kita memiliki persepsi yg sama dengan Nya, dalam hal memandang pribadi kita.

Dengan menjadi diri sendiri, tentu bukan tanpa halangan. | kita tidak perlu menyenangkan setiap orang, kita hanya perlu menyenangkan Tuhan.

#dikutip dari facebook penulis 😃😃


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



Tag : ,

KREDIT ITU KEPERCAYAAN

By : David Iskandar
Para Pembaca, kemarin saya baru saja ngobrol-ngobrol santai dengan seorang nasabah, dikala obrolan santai tersebut, kami membicarakan nilai agunan (tanah dan bangunan) yang dijadikan dasar membuat hak tanggungan pinjaman tersebut. 
Sebagai ilustrasi saja, nilai pasar agunan tersebut adalah sebesar Rp1,8 miliar, lalu dipasang hak tanggungan peringkat pertama sebesar Rp1,5 miliar dengan nilai pinjaman sebesar Rp1,2 miliar. 


Dalam kondisi obrolan yang santai dan banyak bercanda, debitur sempat mengeluhkan bahwa mengapa agunan tersebut hanya "dihargai" sebesar pinjaman Rp1,3 miliar, padahal harga pasarnya jauh diatas pinjamannya. Saya sempat terenyuh dan berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan tersebut. lalu dengan santai saya jawab, "sebetulnya tujuan kami memberikan kredit bukanlah untuk menguasai/membeli agunan sdr, kami "menaruh kepercayaan" terhadap sdr, dengan mempertimbangkan karakter, kapasitas, cashflow serta segala risiko yang mungkin timbul, oleh karena perhitungan tersebut, semakin menambah keyakinan kami bahwa sdr mampu menunaikan kewajiban sesuai periode yang telah disepakati, sedangkan agunan adalah jaminan kami sebagai second wayout untuk menjaga ketertiban pembayaran kewajiban sdr"


Well, mungkin seringkali ilustrasi yang saya gambarkan diatas sering kita temui sebagai praktisi perbankan sehari-hari. Dalam persepsi debitur/ calon debitur, pada umumnya agunan adalah segala-galanya, jika bisa kredit yang diterima harus sama dengan nilai agunan tersebut. Suatu persepsi yang ironi, padahal arti kata kredit adalah "kepercayaan", tidak lain tidak bukan, pemberian kredit merupakan suatu bentuk kepercayaan bank kepada debitur yaang direalisasikan, bank percaya bahwa debitur mampu dan mau mengembalikan kewajiban sesuai dengan akad/jangka waktu yang disepakati bersama. Karakter, kemampuan, dan prospek usaha debitur, idealnya merupakan "jaminan" utama untuk mengembalikan pinjaman. Sebagai lembaga keuangan yang sebagian besar sumber pendanaan berasal dari dana masyarakat, dan memang kewajiban bank untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential banking), maka bank memerlukan second way out apabila segala sesuatu yang diperhitungkan/dianalisis pada sebelum kredit dikucurkan berbeda keadaannya dikemudian hari. Maka bank dalam rangka menjaga dana nasabah yang diusahakannya, pada umumnya memerlukan "agunan" untuk menjamin kelancaran pembayaran debitur. 

So, pointnya adalah, bahwa kredit merupakan kepercayaan, mengapa bisa percaya? percaya bukan asal percaya, namun kepercayaan tumbuh dari analisis yang dilakukan oleh bank terhadap calon debiturnya. Jadi para debitur bank yang sudah menerima fasilitas kredit/pinjaman seharusnya berbangga, karea dengan demikian hal tersebut menandakan bahwa reputasi anda tinggi karena masih dipercaya oleh bank. Hehehe,, 


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



KONSEP MOTIVASI SDM

By : D.I
Saya membuat ulasan kali ini karena terinspirasi kejadian yang saya tangkap pada saat makan siang beberapa hari yang lalu (sudah sempat berfikir mau menulis di-blog, tapi kesibukan menghalangi). Jadi begini ceritanya, hari itu (sekitar pukul 12.30 wib) hari sedang panas-panasnya, saya sangat bersemangant mennyantap makanan siang itu (mie ayam). Sampai pada suatu ketika perhatian saya terfoikus kepada rombongan karyawati (5 atau 6 orang) yang datang dan duduk berdekatan dengan posisi saya. Bukan karena kecantikan atau hal lain yang membuat perhatian terfokus kepada mereka, tetapi baru sekitar semenit mereka duduk (sembari menunggu makanan dihidangkan) salah satu dari mereka membuka obrolan dengan nada mengeluh (intonasinya negatif) terhadap lingkungan pekerjaannya. Selama makan sampai selesai makan saya menyimak (otomatis mendengan karena posisi kami dekat - terdengar) apa yang mereka perbincangkan, panjang lebar, intinya mereka mengeluhkan lingkungan tempat mereka bekerja, tidak puas dengan pemimpin, mengeluhkan pekerjaan, dan yang lebih menarik lagi salah satu dari mereka mengeluhkan bekerja hanya sebatas "terpaksa" saja untuk menghabiskan waktu.

well, sepertinya cerita yang baru saya deskrpisikan diatas bukanlah suatu hal yang tabu, sudah biasa kita dengar curhatan seperti itu? bahkan kita pun pernah mengalaminya langsung, atau bahkan kita sendiri yang sering curhat. Saya pribadi pun pernah mengalaminya.

Sebelum memulai ke pokok bahasan, perlu saya informasikan bahwa saya pribadi sangat setuju bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan asset yang paling berharga bagi sebuah organisasi/perusahaan. Namun karena SDM merupakan asset yang berharga, perlu cara "perawatan" khusus, bukan hanya khusus bahkan harus yang spesial. Dimulai dari mana? Tentu dalam hal ini Leader-dsb lah yang seyogyanya bertanggung jawab me-manage asset (SDM) ini. 

Saya bukanlah seorang yang ahli dibidang MSDM (Manajemen SDM), apa yang ingin saya bagikan pada postingan kali ini semata-mata hanya saran dan masukan yang saya sarikan dari pengalaman pribadi :) 

Ada beberapa hal yang ingin saya bahas kali ini terkait dengan SDM, yaitu :
(Pada postingan kali ini saya akan mengulas Konsep Motivasi)

KONSEP MOTIVASI


Ya kata motivasi sepertinya sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita, bagi saya motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang megeluarkan-mengupayakan kemampuan terbaiknya untuk mencapai tujuannya. Apa hubungannya dengan SDM? Tentu seorang leader harus bisa memotivasi SDM dalam organisasinya (ingat SDM merupakan "asset" terpenting bagi organisasi), leader harus peka terhadap motivasi SDM nya. Dalam kajian akademis-pun kita harus memahami apa yang disebut dengan "Konsep Motivasi" sedikitnya ada 4 konsep motivasi yang harus diketahui oleh seorang leader, yaitu sbb : 

a. Teori Hirarki Kebutuhan Maslow

Nama siapa yang terlintas dalam benak anda saat mendengat "Teori Hirarki Kebutuhan"? Yapp.... Tepat sekali, Abaraham Maslow. Teori yang sangat "Populer" dikalangan akademisi maupun praktisi, perhatikan gambar dibawah : 

Hirarki Kebutuhan Manusia
Menurut Maslow, ada lima hirarki (tingkatan/level) kebutuhan manusia mulai dari yang terendah (Kebutuhan Phsyological) hingga yang tertinggi - mengerucut keatas piramida (Self Actualization). Level-level tersebut adalah sbb: 

Level 1 - Kebutuhan Psikologis 
Kebutuhan Psikologis dapat digambarkan seperti kebutuhan jasmani (lapar, haus, sex, tidur, dan kebutuhan jasmani lainnya). 

Level 2 - Rasa Aman dan Perlindungan (Safety) 
Kebutuhan akan rasa aman terhadap jasmaninya dan emosionalnya

Level 3 - Rasa Cinta ( Social)
Kebutuhan akan kehidupan bersosial (misalnya merasa mencintai, dicintai, kebersamaan, penerimaan, pertemanan, solideritas, dsb)

Level 4 - Harga Diri (Esteem) 
Kebutuhan akan "Pengakuan" seperti (menghargai diri sendiri, penghargaan terhadap diri sendiri, status, dikenali/dihargai, diperhatikan, dsb)

Level 5 - Aktualisasi Diri
Meningkatkan kapabilitas dalam dirinya, meningkatkan potensi yang dimiliki, dan kepuasan tersendiri yang ingin dicapai terhadap apa yang dikerjakannya. 


Siapa yang tidak kenal dengan Teori Maslow ini? Teori ini selalu didengungkan baik saat dibangku kuliah ataupun di seminar-seminar yang bertemakan Manajemen SDM, Namun meski sangat populer saya pribadi merasa bahwa teori ini tidak sepenuhnya dapat menjadi "guide" didalam memotivasi SDM (makanya ini hanya Konsep Motivasi), mengapa? saya hanya berfikir sederhana, misalnya : apakah seorang yang kelaparan tidak membutuhkan rasa aman? lalu tidak membutuhkan cinta, karena kebutuhan fisiknya belum terpenuhi? pernahkah anda mendengar ungkapan "makan gak makan yang penting kumpul?" . Tentu ini hanya pendapat pribadi saya, 


b. Teori X dan Y

Teori ini juga sangat populer, sama populernya dengan teori Maslow, teori X dan Y dikenal juga dengan sebutan "Teori Mc-Gregor" diciptakan oleh Douglas Mc-Gregor. Teori ini mengatakan bahwa ada 2 tipe manusia, yaitu tipe yang negatif (Type X) dan satunya positif (Type Y). 

Type X - Negatif 
Menurut Mc-Gregor, orang Type X pada dasarnya malas untuk bekerja, tidak suka bekerja, dan bekerja lebih suka "diarahkan" saja. Makanya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan orang Type X ini harus "diancam dengan hukuman".

Type Y - Positif
Orang Type Y dikategorikan oleh Gregor bahwa pada dasarnya bekerja merupakan sebuah tanggung jawab, bekerja sebagai sarana untuk berkembang, bekerja sebagai sarana untuk melatih dan mempertajam kapasitas, oleh karena itu orang-orang Type Y ini hanya perlu diberikan "Motivasi" contohnya diikut sertakan dalam pengambilan keputusan (agar bisa merasa tanggung jawab), diberikan tantangan-tantangan dalam bekerja, dijalin relasi antar grup, dsb.


c. Two Factor Theory by Frederick Herzberg (Hygiene Factor)


Nah saya lebih sependapat dengan teori yang dikembangkan oleh Hersberg ini, intinya si Herzberg bilang bahwa ada 2 faktor yang berkaitan dengan kepuasan/memotivasi SDM yaitu :

1. Motivation Factor 
Motivasi yang tepat dapat memberikan kepuasan/semangat kepada SDM, dan sebaliknya apa bila SDM tidak dimotivasi maka dapat berdampak ketidakpuasan terhadap pekerjaan.

2. Hygiene Factor
Nah hygiene factor ini yang menarik buat saya, jadi dalam menurut Herzberg ada hygiene factor yang jika diberikan maka akan menimbulkan No-Dissatisfaction (Hanya tidak kecewa saja - tidak menambah kepuasan) namun apabila dikurangi hygiene factor tadi malah akan menimbulkan Dissatisfaction (ketidakpuasan), contohnya dari Hygiene Factor yang dapat saya berikan adalah sebagai berikut :

Misalnya di suatu kantor cabang Bank, Manajer menetapkan bahwa setiap pegawai yang pulang melebih jam pulang kantor akan mendapatkan uang lembur dan disamping itu juga mendapatkan jatah makan malam, Pemberian jatah makan malam merupakan Hygiene Factor, sebenarnya jika tidak diberikan pun tidak ada masalah, dan walaupun diberikan hanya membuat SDM No-Dissatisfaction (tidak kecewa). Namun apabila Hygiene Factor tersebut dihentikan (tidak ada lagi jatah makan malam untuk karyawan yang lembur) inilah yang dimaksud akan membuat karyawan menjadi Dissatisfaction (Kecewa/Tidak Puas). - Nah hati-hati bermain dengan Hygiene Factor hehehe.


d. McClelland's Theory of Needs (Teori Kebutuhan)

 Konsep motivasi yang dikembangkan oleh McClelland, ada tiga teori kebutuhan yaitu :

1. Kebutuhan akan Penghargaan
2. Kebutuhan akan Kekuasaan
3. Kebutuhan akan Afiliasi

Contoh yang bisa saya berikan adalah sebagai berikut :

Misalnya anda adalah seorang yang kompeten untuk menjadi Manajer disebuah Bank, ada 5 Bank yang memberikan anda tawaran :
- Bank A, memberikan tawaran gaji 10juta, Banknya masih sederhana, anda sangat yakin anda mampu menjadi apa yang perusahaan inginkan dan sepertinya ini bukan pekerjaan yang sulit, bahkan bagi kebanyakan orang dibidangnya.

- Bank B, memberikan tawaran gaji 15juta, Bank B sedikit lebih komplek dibandingkan dengan Bank A, risiko anda gagal paling hanya 20%, karena pekerjaan yang ditawarkan sepertinya mudah dan pasti bisa dikerjakan paling tidak oleh 80% kebanyakan orang.

- Bank C, memberikan tawaran gaji 20juta, dan kali ini hanya 50% orang yang dirasa mampu mengambil pekerjaan ini, Jika anda sukses dalam pekerjaan ini berarti kemampuan anda melebihi 50% dari kebanyakan orang dibidang pekerjaan ini.

- Bank D, memberikan tawaran gaji 25 juta, namun tantangannya lebih besar, hanya ada 20% orang yang mampu mengambil pekerjaan ini.

- Bank E, Memberikan tawaran gaji tertinggi, yaitu 30 juta, kali ini anda harus benar-benar fokus karena pekerjaan pada Bank E menuntut kemampuan terbaik anda, jika anda sukses maka Anda dapat dijadikan panutan/sorotan bagi orang-orang dibidang anda.

Mana yang anda pilih? apakah sesuai dengan teori McClelland? :)




 Disampin keempat teori konsep motivasi diatas, masih banyak konsep motivasi "Kontemporer" namun menurut bagi saya keempat teori diatas sepertinya cukup untuk dijadikan konsep kita dalam memotivasi..
lalu Bagimana kita dapat memotivasi SDM? agar bisa bekerja secara Happy? menganggap pekerjaan bukan sebagai beban? dan memiliki sense oh belonging terhadap organisasi? ........... Tunggu Postingan selanjutnya ya..... :)


Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge



The Fed naik 0,25%

By : D.I

Indonesia dan negara Emerging lainnya, selama ini harap-harap cemas menunggu kepastian The Fed terkait dengan rencana Bank Sentral negara Adidaya tersebut yang akan menaikkan tingkat suku bunga. "Penantian" akan kepastian hal tersebut (kenaikan suku bunga The Fed) akhirnya terjawab hari ini. Ya, terhitung hari ini The Fed resmi mengumumkan kenaikan suku bunga acuan dari 0,25 menjadi 0,5%. Kenaikan suku bunga acuan ini merupakan cerminan bahwa saat ini Amerika mulai masuk dalam kebijakan yang lebih ketat.. Lalu bagaimana imbasnya kepada Indonesia? 

Masih segar diingatan kita, saat masa-masa galau menunggu kepastian langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan, saat itu bertepatan dengan langkah Pemerintah China yang melakukan devaluasi Yuan, ditambah lagi dengan ulah spekulator yang mengharapkan windfall profit sehingga pada saat itu rupiah nyaris menyentuh angka Rp15.000 per Dollar AS (USD).

Saya terkagum membaca komentar salah satu sosok idola saya yaitu bapak Faisal Basri, seperti dikutip dalam detik.com berikut ini : 

"The Fed umumkan naik 0,5% tapi kan inflasi AS 0,5%. Itu hanya impas. Kalau Indonesia, inflasi 4,9% dengan BI Rate 7,5% jadi selisih 2,6%. Padahal Desember inflasi kisaran hanya 3%. BI masih tinggi saja suku bunganya. Behaviour BI macam apa itu,"  dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Indonesia (FDEI) di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (17/12/2015. 

Sungguh analisis yang sangat cerdik dari seorang Ekonom seperti Faisal Basri. Terlepas dari diturunkan atau dinaikkannya BI-Rate, kita tunggu kepastiannya, dan respon BI yang kabarnya saat ini sedang mengadakan RDG. 

Tantangan Kedepan 

Dari kacamata saya sebagai seorang pelajar, untuk kedepannya (apalagi mengingat The Fed akan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap) maka potensi pelemahan rupiah terhadap USD merupakan fokus utama BI saat ini. setidaknya ada 2 alasan menurut saya yang akan menyebabkan USD menguat terhadap Rupiah : 

Pertama, kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuan merupakan pergerakan besar dari easy money kepada kebijakan yang lebih ketat dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi AS dan menarik dana masuk ke AS (Meski berimbang antara inflasi dan suku bunga acuan). Dengan kata lain, kedepannya AS sendiri yang menyebabkan mata uangnya menguat. 

Kedua, kebijakan ekonomi negara-negara emerging (yang juga merupakan "rekan bisnis" Indoensia) yang sifatnya "lebih akomodatif" tujuannya sama dengan AS, yakni untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masing-masing negara, namun secara tidak langsung membuat mata uang AS semakin menguat.

Disisi lain, banyak Pekerjaan Rumah yang harus diselesaikan oleh bangsa ini. Salah satunya adalah masalah sturktural, dimana Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah (minim value added). Disamping itu, geliat perekonomian dalam negeri harus terus ditingkatkan dengan cepat memberlakukan Paket-paket kebijakan deregulasi dibidang ekonomi. Disamping itu, peran BI dalam perekonomian makro yang sifatnya lebih sebagai antisipasi kondisi ekonomi baik global maupun nasional harus terus ditingkatkan dan lebih proaktif.

Mari Berteman ^^
David Iskandar | Create Your Badge

- Copyright © 2013 BELAJAR PERBANKAN GRATIS - Date A Live - Powered by Blogger - Redesigned By David Iskandar